Dukungan Psikososial Bencana: Dari Darurat ke Pemulihan
Dukungan psikososial bencana adalah rangkaian layanan kesehatan mental darurat dan jangka panjang yang menggabungkan pertolongan medis, konseling, trauma healing, pendidikan, serta penguatan komunitas untuk membantu penyintas memulihkan rasa aman, harapan, dan kemampuan menjalankan kehidupan sehari-hari setelah gempa maupun bencana besar lainnya. Pada gempa di NTT, dukungan ini tidak lagi diperlakukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai pilar setara dengan logistik dan layanan kesehatan dasar. Universitas, rumah sakit, serta lembaga kemanusiaan memilih bergerak melampaui pembagian sembako dan tenda untuk menyasar luka yang tidak tampak: kecemasan, kesedihan berkepanjangan, dan gangguan tidur yang menghantui warga. Pergeseran fokus dari sekadar bertahan hidup ke pemulihan trauma gempa adalah langkah politik kemanusiaan: mengakui bahwa korban bukan hanya butuh makan, tetapi juga butuh tenang.
Universitas Surabaya mengilustrasikan perubahan ini dengan mengarahkan penanganan korban gempa di NTT dari sekadar pemenuhan kebutuhan darurat menuju tahap pemulihan melalui pendampingan psikososial dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Keputusan ini diambil setelah ratusan paket bantuan darurat dikirim ke tiga wilayah terdampak, sehingga tahap berikutnya secara sadar difokuskan pada kesehatan fisik sekaligus mental. Penggalangan dana yang digelar bersama ikatan alumni sejak 17 Agustus hingga 31 Oktober menunjukkan bahwa komitmen tersebut dirancang berkelanjutan, bukan reaksi sesaat. Pesan implisitnya jelas: bila institusi pendidikan serius terhadap sains dan kemanusiaan, maka mereka wajib menempatkan kesehatan mental korban di pusat respon bencana, bukan di pinggiran.

Kampus sebagai Garda Depan Layanan Kesehatan Mental Darurat
Peran kampus dalam dukungan psikososial bencana sering dipandang tambahan; di NTT, ia justru menjadi motor koordinasi institusi kesehatan. Unesa mengirim tim khusus yang berkedudukan di Manggarai untuk memberikan layanan kesehatan sekaligus dukungan psikososial bagi warga terdampak gempa dalam rentang beberapa hari operasi lapangan. Komposisi timnya menggambarkan model ideal: Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, unit mitigasi krisis, satuan tugas perlindungan sivitas, dan LPPM digabung dalam satu komando aksi. Ini bukan hanya kerja bakti, melainkan desain kelembagaan yang mengakui bahwa pemulihan trauma gempa membutuhkan keahlian medis dan psikologis yang setara.
Unesa juga sengaja menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi setempat seperti Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Santo Paulus untuk memastikan bantuan selaras dengan kebutuhan nyata warga lapangan. Mereka menempatkan empat fokus: layanan kesehatan, dukungan psikososial, sekolah darurat bencana, dan bantuan logistik, dengan komitmen monitoring sekolah darurat secara daring setelah tim pulang. "Sekolah tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun" menjadi pernyataan tegas bahwa pendidikan dan kesehatan mental anak di pengungsian adalah satu paket, bukan dua agenda terpisah. Ketika Majelis Rektor dan forum rektor memberi apresiasi atas konsistensi keterlibatan kampus dalam penanganan bencana, sesungguhnya mereka sedang mengirim pesan: perguruan tinggi yang abai pada kesehatan mental penyintas sedang tertinggal secara moral.

RSKKA: Dari Luka Fisik ke Pemulihan Psikologis
Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) memperlihatkan bagaimana layanan kesehatan mental darurat tidak boleh berhenti saat luka fisik mulai mengering. Didorong perpanjangan status tanggap darurat gempa di Manggarai Timur, RSKKA memilih tetap hadir di Dampek hingga masa tanggap darurat berakhir pada 12 September. Pada fase awal, mereka membangun Rumah Sakit Lapangan Kolaborasi yang berfokus menangani trauma fisik seperti patah tulang dan luka akibat reruntuhan bersama organisasi profesi dan rumah sakit lain yang ada di lokasi. Strategi berlabuh di Teluk Nangga Lirang demi mendekatkan operasi kepada warga yang enggan menempuh perjalanan lima hingga enam jam ke rumah sakit rujukan adalah kritik diam-diam terhadap sistem rujukan yang jauh dari realitas ekonomi dan geografi warga.
Yang penting, RSKKA menyadari bahwa pemulihan pasca bencana tidak selesai ketika operasi dan perawatan selesai. Perpanjangan tanggap darurat dimaknai sebagai peluang untuk melanjutkan pendampingan psikologis. Manajemen mengakui aspek trauma healing belum banyak tersentuh di fase awal, sehingga mereka merencanakan pengiriman psikiater atau psikolog sesuai kebutuhan masyarakat Dampek. Bagi mereka, memulihkan korban berarti mengembalikan rasa aman dan memastikan warga tidak menghadapi masa pascabencana sendirian. Ini bukan bahasa puitis, melainkan reposisi peran rumah sakit: dari sekadar penyembuh luka menjadi pelindung martabat manusia. Tanpa dimensi ini, setiap operasi sukses tetap meninggalkan masyarakat yang cemas, mudah panik, dan tidak siap menghadapi gempa berikutnya.

Pendekatan Terpadu dan Tantangan Jangka Panjang
Pelajaran utama dari NTT adalah jelas: pendekatan terpisah antara intervensi medis dan trauma healing tidak lagi memadai. Ubaya misalnya, merancang bantuan tahap kedua yang langsung menggabungkan pendampingan psikososial dengan layanan kesehatan, setelah sebelumnya menyalurkan ratusan paket kebutuhan darurat berupa terpal, makanan, perlengkapan mandi dan tidur, sembako, serta kebutuhan spesifik anak dan perempuan. Strategi dua tahap ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar hanyalah fondasi, bukan puncak respon bencana. Sementara itu, layanan kesehatan dan dukungan psikososial Unesa di Manggarai dikelola dalam satu paket program, dengan sekolah darurat sebagai ruang aman anak untuk belajar sekaligus memproses pengalaman traumatik.
Koordinasi institusi kesehatan yang melibatkan fakultas kedokteran, psikologi, rumah sakit lapangan, serta lembaga kemanusiaan lokal memperlihatkan model respon bencana yang mampu menjawab kebutuhan akut sekaligus kronis. Di satu sisi, warga mendapatkan akses operasi tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam dengan biaya tinggi; di sisi lain, mereka mulai disiapkan menghadapi kecemasan jangka panjang melalui trauma healing yang direncanakan RSKKA. Namun komitmen ini harus dijaga setelah status tanggap darurat dicabut. Tanpa sistem rujukan kesehatan mental komunitas, upaya kampus dan rumah sakit akan berhenti sebagai momen heroik sesaat, bukan perubahan permanen dalam cara kita memahami kewajiban terhadap penyintas gempa.







