Dua Medali Emas yang Mengukuhkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia
Hotumese Choir Universitas Pattimura adalah paduan suara kampus dari Ambon yang meraih dua medali emas di ajang World Choir Games 2026 di Helsingborg, Swedia, sekaligus mengukuhkan reputasi kota asal mereka sebagai kota musik dunia dengan standar vokal bertaraf internasional melalui penampilan di kategori Pop Choirs dan Gospel yang dinilai oleh dewan juri internasional.
Inti peristiwa ini sederhana namun signifikan: tim paduan suara mahasiswa mampu berdiri sejajar dengan nama-nama besar paduan suara internasional di kompetisi vokal dunia yang berlangsung 6–16 Agustus di Helsingborg. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta pelengkap, melainkan pulang dengan dua medali emas paduan suara di kategori C17 Pop Choirs dan C15 Gospel yang diumumkan pada penutupan di Helsingborg Arena. Fakta bahwa medali tersebut diraih di tengah persaingan ketat menunjukkan kualitas yang tidak bisa dianggap remeh. Kemenangan ini layak dibaca sebagai pernyataan lantang: Ambon tidak lagi sekadar menyebut diri kota musik, tetapi sudah membuktikannya di panggung dunia.
Teknik Vokal Pop dan Gospel yang Mendekati Puncak Skor Dunia
Keunggulan Hotumese Choir terlihat jelas dari skor yang mereka peroleh. Di kategori C17 Pop Choirs, mereka meraih 93,83 poin dan menempati posisi kedua di bawah Barnsley Youth Choir dari Inggris yang mencatat 94,67 poin. Sementara di kategori C15 Gospel, mereka meraih 93,00 poin dan berada di peringkat ketiga, setelah Barnsley Youth Choir dengan 96,00 poin dan United Auckland Gospel Choir dengan 93,50 poin. Dua skor di atas angka 93 ini menempatkan Hotumese Choir dalam lapisan teratas kualitas teknis di arena yang diikuti sejumlah paduan suara dunia. "Di kategori Pop Choirs, Hotumese Choir berhasil meraih Gold Medal dengan skor 93,83 sekaligus menempati peringkat kedua," demikian keterangan resmi penyelenggara kompetisi.
Perlu digarisbawahi, pada kategori Pop Choirs seluruh paduan suara yang tampil meraih medali emas, namun tidak semua mampu menembus kisaran skor di atas 90. Dengan harmoni yang rapat, keseimbangan suara tiap register, serta artikulasi yang jernih, Hotumese Choir berada hanya sedikit di bawah peringkat teratas. Di gospel, mereka kembali membuktikan konsistensi: warna suara yang hangat dan ekspresif berpadu dengan dinamika yang terkontrol, membuat mereka tetap berada dalam jajaran penerima medali emas meski persaingan di kategori ini lebih tajam. Bila dilihat dari sudut pandang kualitas vokal murni, prestasi ini bukan sekadar medali, melainkan indikator bahwa standar latihan dan disiplin vokal di Ambon sudah mendekati benchmark internasional.

Repertoar dan Interpretasi: Dari "If" hingga "He Turned It"
Kekuatan Hotumese Choir bukan hanya terletak pada teknik vokal, tetapi juga pada pilihan repertoar dan cara mereka menghidupkan musik di panggung. Di kategori Pop Choirs, di bawah arahan konduktor Franco Etshirt Ayal, mereka menyanyikan tiga lagu berurutan: "If" karya David Gates aransemen David von Kampen, "Golden" karya Eun-jae Kim aransemen Roger Emerson, serta "Uptown Funk" karya Mark Ronson yang diaransemen oleh Mark Brymer. Kombinasi balada lembut, pop modern, dan funk enerjik menuntut fleksibilitas interpretasi, penguasaan ritme, serta kemampuan beralih karakter vokal secara cepat. Fakta bahwa penampilan ini disebut memukau publik internasional menunjukkan bahwa mereka mampu menjawab tuntutan kompleks itu dengan percaya diri.
Sisi spiritual dan emosional mereka tampil kuat di kategori Gospel. Di bawah konduktor Yudi Orlando Lewantaur, Hotumese Choir membuka dengan "God Is Here" karya Martha Munizzi yang diaransemen Henry M Sopaheluwakan, kemudian melanjutkan dengan "Brighter Day" karya Kirk Franklin aransemen Igor Leonard Sopamena, dan menutup secara spektakuler dengan "He Turned It" karya Tye Tribbett aransemen Rido Maxel Kainama dan Aditya Rhiofaldo Titaley. Susunan lagu ini menuntut intensitas emosional yang naik bertahap, dari pengakuan kehadiran ilahi hingga ledakan sukacita. Di sini, kekompakan dinamika dan timing jelas menjadi penentu. Ketika juri memberi skor emas di kategori yang sarat ekspresi seperti gospel, itu berarti interpretasi musikal mereka tidak hanya bagus secara teknis, tetapi juga menyentuh kepekaan estetika pendengar lintas budaya.
Ambon di Peta Paduan Suara Dunia dan Peluang Kolaborasi ke Depan
Prestasi ganda ini harus dibaca sebagai momentum strategis bagi Ambon sebagai kota musik. Paduan Suara Hotumese Choir Universitas Pattimura disebut sebagai bukti bahwa kota ini layak menyandang predikat tersebut di panggung internasional. Mereka tidak hanya mengharumkan nama kampus terbesar di Maluku, tetapi juga membawa identitas kota yang selama ini dikenal kaya lagu dan tradisi bernyanyi ke tingkat paduan suara internasional. Dua medali emas paduan suara yang mereka bawa pulang menunjukkan kemampuan bersaing di kompetisi vokal dunia, bukan hanya dalam genre tradisional tapi juga pop dan gospel modern. Di tengah dominasi paduan suara dari Inggris, Swedia, Selandia Baru, dan Jerman di dua kategori yang mereka ikuti, kehadiran Hotumese Choir di papan atas memperluas peta pusat-pusat baru musik paduan suara.
Yang sering luput dari sorotan adalah efek jangka panjang dari capaian seperti ini. Keberhasilan di World Choir Games membuka kemungkinan jaringan kreatif: undangan tampil di festival, proyek aransemen bersama, hingga pertukaran pelatih dan komposer dengan paduan suara global. Di dalam tim Hotumese Choir sendiri, sudah tampak benih ekosistem kreatif lokal melalui aransemen nama-nama seperti Henry M Sopaheluwakan, Igor Leonard Sopamena, Rido Maxel Kainama, dan Aditya Rhiofaldo Titaley. Bila ekosistem ini terus dirawat, Ambon tidak hanya akan dikenang sebagai kota musik karena sejarah, tetapi sebagai pusat produksi pengetahuan vokal dan aransemen yang memberi kontribusi nyata bagi dunia paduan suara internasional. Pada titik inilah kemenangan dua emas menjadi lebih dari sekadar trofi: ia adalah modal simbolik dan artistik untuk melangkah lebih jauh.






