Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Subsidi BBM Menghambat Transisi Energi Bersih

Subsidi BBM Menghambat Transisi Energi Bersih
Minat|Asia Tenggara

Subsidi BBM: Murah di SPBU, Mahal bagi Transisi Energi

Subsidi bahan bakar minyak adalah kebijakan pemerintah yang menekan harga jual BBM di bawah biaya penyediaan agar keterjangkauan energi tetap terjaga, tetapi struktur ini sekaligus membuat energi fosil terlihat jauh lebih murah dibandingkan energi bersih, mengubah perilaku konsumsi, dan mengalihkan ruang fiskal yang seharusnya dapat dipakai untuk investasi energi terbarukan serta percepatan transisi energi bersih. Ini inti persoalan: subsidi bahan bakar minyak menjadikan BBM fosil secara ekonomi lebih menarik sehingga masyarakat dan pelaku usaha menunda beralih ke teknologi rendah karbon. Selama BBM bersubsidi mendominasi, kendaraan listrik, panel surya, dan solusi efisien lain akan dipandang mahal dan spekulatif. Kebijakan yang awalnya bertujuan melindungi daya beli, ironisnya, sedang mengunci perekonomian pada pola konsumsi energi lama yang boros emisi.

Insentif Salah Kaprah: Harga BBM Murah Menekan Energi Terbarukan

Contoh paling gamblang dari distorsi harga akibat subsidi bahan bakar minyak terlihat pada Pertalite: konsumen membayar sekitar Rp10.000 per liter, sementara biaya produksinya sekitar Rp16.100 per liter. Selisih harga yang tidak tampak di pompa inilah yang ditutup oleh anggaran negara demi menjaga keterjangkauan energi bagi publik. Kutipan angka ini seharusnya menggugah: "Problem kita adalah subsidi. Padahal energi fosil artificially cheap, karena subsidinya besar". Ketika energi fosil dibuat terasa murah, insentif ekonomi untuk berpindah ke energi terbarukan langsung menguap. Rumah tangga, pelaku usaha, bahkan pemerintah daerah akan selalu memilih opsi termurah secara kasat mata, bukan yang paling berkelanjutan. Akibatnya, investasi energi terbarukan kalah atraktif, proyek pembangkit bersih terlambat, dan target transisi energi bersih menjadi retorika tanpa dukungan struktur harga yang rasional.

Menata Ulang Subsidi untuk Membiayai Bauran Energi Bersih

Jika subsidi bahan bakar minyak terus dipertahankan dalam bentuk sekarang, target bauran energi bersih akan sulit tercapai. Porsi energi terbarukan baru sekitar 17 persen dan baru ditargetkan naik mendekati 30 persen pada 2034, lalu sekitar 40 persen pada 2040. Untuk itu dibutuhkan investasi energi terbarukan sangat besar untuk membangun pembangkit dan infrastruktur pendukungnya. Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mendorong penyesuaian besaran subsidi (right sizing) dan pengetatan sasaran (right targeting) agar anggaran yang dihemat bisa dialihkan ke agenda transisi energi. Logikanya sederhana: subsidi yang lebih tepat sasaran ke kelompok rentan mengurangi pemborosan, sehingga ruang fiskal bisa digunakan membangun PLTS, jaringan listrik cerdas, dan solusi rendah karbon lain. Tanpa restrukturisasi subsidi, target bauran energi hanyalah angka di atas kertas, bertabrakan dengan insentif ekonomi yang terus memanjakan konsumsi BBM murah.

Peran Pertamina: Menjaga Keterjangkauan Energi Sambil Bertransisi

Di tengah perdebatan subsidi bahan bakar minyak, Pertamina mengingatkan bahwa transisi energi bersih harus tetap menjaga keandalan pasokan dan keterjangkauan energi. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Agung Wicaksono menegaskan, "Reliability and decarbonization are a sequence, not a trade-off". Pendekatan ini tampak pada pengembangan PLTS Pulau Sembur berkapasitas 1 MWp dengan baterai 1 MWh untuk melistriki lebih dari 200 rumah tangga dan mendukung aktivitas ekonomi seperti cold storage dan mesin pembuat es bagi nelayan. Di sisi bahan bakar, Pertamina mendorong biodiesel B50 dan bioetanol berbasis tebu sebagai campuran bensin untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan memperkuat ketahanan energi. Selain itu, pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) bersama mitra regional menjadi strategi menurunkan emisi sambil tetap menjaga keterjangkauan energi hari ini.

Mengakhiri Ketergantungan BBM Murah demi Masa Depan Energi

Pada akhirnya, persoalan subsidi bahan bakar minyak bukan sekadar angka di SPBU, melainkan tentang arah jangka panjang sistem energi. Selama harga BBM fosil dipaksa murah, transisi energi bersih akan selalu berjalan pelan, karena insentif ekonomi menolak perubahan. Penataan ulang subsidi dengan prinsip right sizing dan right targeting membuka peluang mengalihkan anggaran ke investasi energi terbarukan, termasuk proyek PLTS terdesentralisasi, solusi waste-to-energy, hingga teknologi penurunan emisi seperti CCS. Jalan tengahnya bukan mencabut perlindungan sosial, melainkan menggeser fokus subsidi dari konsumsi BBM umum ke dukungan langsung bagi kelompok rentan, sekaligus pembiayaan infrastruktur energi rendah karbon. Tanpa keberanian mengurangi ketergantungan pada BBM bersubsidi, target bauran energi akan terus tertinggal, dan masyarakat kehilangan kesempatan menikmati sistem energi yang lebih bersih, stabil, dan tetap terjangkau.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!