Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lima Desainer Muda Mengubah Street Style Menjadi Koleksi Runway

Lima Desainer Muda Mengubah Street Style Menjadi Koleksi Runway
Minat|Tren Fashion

Dari Aspal ke Runway: Street Style Sebagai Bahasa Baru Mode Muda

Fenomena street style runway adalah praktik mengangkat gaya berpakaian kasual generasi muda di jalanan, lalu mengolahnya dengan teknik atelier, konstruksi berpola matang, serta detail elegan menjadi koleksi yang siap tampil di panggung peragaan dan memasuki industri mode. Dalam ajang Fashion Nation 2026, lima desainer muda Indonesia dari program Fashion Entrepreneur Istituto di Moda Burgo menunjukkan bahwa transformasi tersebut bukan sekadar eksperimen estetika, melainkan manifestasi identitas dan ambisi generasi baru desainer yang ingin menjembatani kehidupan sehari-hari dengan craftsmanship tingkat tinggi.

Debut mereka hadir dalam rangkaian STREETÈ: From Asphalt to Atelier yang menampilkan sepuluh look, menelusuri perjalanan dari insting pakaian jalanan hingga koleksi siap jual. Gaya kasual yang biasa terlihat di trotoar dan ruang publik diolah menjadi siluet yang lebih berani, terstruktur, dan detail—menghadirkan street style runway yang terasa dekat namun jelas naik kelas. Di sini terlihat pergeseran penting: mode muda tidak lagi terjebak antara dunia sehari-hari dan dunia couture, melainkan menyatukan keduanya dalam satu narasi yang koheren dan relevan bagi Gen Z.

Lima Desainer Muda Mengubah Street Style Menjadi Koleksi Runway

Teknik Atelier Bertemu Korset dan Hoodie: Cara Baru Membaca Kenyamanan

Apa yang membuat koleksi ini menarik bukan hanya temanya, melainkan cara lima desainer muda Indonesia mengolah inspirasi jalanan dengan standar pengerjaan couture. Korset yang identik dengan formalitas feminin dipasangkan dengan pakaian sehari-hari—hoodie, celana kasual, atau atasan simpel—menciptakan dialog antara tubuh yang ingin bebas dan struktur yang melindungi. CEO Burgo, Jenny Yohana Kansil, menegaskan bahwa tema street menjadi benang merah koleksi, sementara pendekatan atelier menghadirkan potongan dan konstruksi yang lebih kompleks, bukan sekadar permainan styling permukaan.

Yang patut diapresiasi, kenyamanan tidak dikorbankan atas nama efek runway. Di balik tampilan yang tampak mewah, ada perhatian serius terhadap bagian dalam pakaian, teknik pengerjaan, dan finishing. Kutipan penting dari pengajar Burgo merangkum filosofi ini: “Kalau memakai baju, bukan hanya yang penting cantik. Harus nyaman juga.” Street style runway versi mereka tidak meniru estetika Barat secara mentah; ia mengakui kebutuhan bergerak, berkeringat, dan hidup di kota, sekaligus menuntut kualitas jahitan yang selama ini identik dengan koleksi atelier lokal kelas atas.

Lima Desainer, Lima Dunia: Identitas Gen Z yang Menolak Diseragamkan

Kekuatan utama rangkaian ini adalah keberanian menjaga perbedaan karakter. Angela Bernice Christian lewat Bereníkē mengeksplorasi ruang antara kerapuhan dan kekuatan emosional, menghasilkan desain yang merayakan kepercayaan diri yang tenang. Jasmine Nabila membawa ketekunan dari bisnis rumahan scrunchie saat SMP ke ketajaman pattern making dan konstruksi yang ia asah selama tiga tahun. Nadine Emmanuel bermain di siluet kontemporer fungsional, menggabungkan visual kuat dengan pakaian yang tetap bisa dipakai untuk keseharian.

Safira Nafiis melalui label Sa Vire menerjemahkan emosi abstrak menjadi siluet yang seimbang antara struktur dan fluiditas, menunjukkan bahwa minimalisme tidak harus dingin. Sementara Samantha Kessler dengan Chimera merespons lanskap digital yang kian artifisial, menjadikan detail handmade sebagai jangkar kemanusiaan di tengah dunia serba virtual. Menurut Howard Laurent, tantangan pengajar adalah menjaga agar lima desainer ini tidak dipaksa mengikuti satu gaya, tetapi tetap memiliki “taste elegan” sambil menemukan DNA kreatif masing-masing. Hasilnya, satu runway berisi lima sudut pandang, bukan satu template yang disalin berulang.

Dari Studio ke Bisnis: Ekosistem Baru Desainer Independen

Keberhasilan tampil di Fashion Nation 2026 bukan hanya kemenangan estetika; ini adalah bukti bahwa ekosistem desainer independen mulai tumbuh melalui program inkubasi yang serius. Kelima desainer ini masih berstatus mahasiswa tahun ketiga, tetapi sudah melewati proses panjang: merancang, membuat pola, menjahit, dan memproduksi sendiri sebagian koleksi yang dibawa ke runway Senayan City pada 20 September 2026. Prosesnya bahkan dimulai sejak Januari, memberi waktu cukup untuk menguji ide dan menyempurnakan pengerjaan.

Yang lebih strategis, mereka tidak hanya diajarkan membuat pakaian, tetapi juga menyusun business plan, melakukan pemotretan, dan mempersiapkan koleksi sebagai komoditas nyata, bukan proyek tugas semata. Pendekatan one-on-one personalized curriculum yang disebut Howard Laurent membuat setiap desainer memahami proses secara menyeluruh, dari sketsa sampai rencana bisnis. Ini menjawab kebutuhan industri akan desainer muda yang bukan hanya kreatif, tetapi juga mengerti pasar dan siap berdiri sebagai pelaku koleksi atelier lokal yang mandiri—sebuah fondasi penting bagi lahirnya merek-merek baru yang tidak bergantung pada rumah mode besar.

Mengapa Street Style Runway Penting Bagi Masa Depan Mode Lokal

Dari jalanan menuju runway, perjalanan lima desainer ini menunjukkan bahwa menjadi desainer muda Indonesia hari ini berarti lebih dari sekadar mengumpulkan look menarik. Ada proses menemukan identitas, menguasai keterampilan, dan memahami bahwa kain tradisional, batik, hingga ulos adalah bagian dari warisan budaya yang perlu dirawat lewat karya. Ketika street style dipertemukan dengan teknik atelier dan kesadaran terhadap budaya lokal, lahirlah bahasa mode baru yang bisa berbicara di kota mana pun tanpa kehilangan akar.

Dampaknya pada industri jelas: generasi muda tidak lagi melihat mode sebagai dunia eksklusif yang jauh dari kehidupan mereka. Gaya yang mereka pakai ke kampus atau ke konser bisa menjadi bahan koleksi atelier lokal yang berkualitas tinggi, selama ada ekosistem pendidikan dan inkubasi yang mendukung. Kutipan penutup Howard layak diingat: “Tidak ada yang bisa mengalahkan kamu ketika menjadi dirimu sendiri. Temukan DNA kreatifmu.” Fashion Nation 2026, dalam konteks ini, terasa seperti titik awal, bukan puncak—sebuah sinyal bahwa street style runway akan terus menjadi arena penting bagi lahirnya desainer independen berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!