Ketika Penolakan Menjadi Gerbang: Pelajaran dari Dua Aktor Drama China Muda
Perjalanan kesuksesan aktor adalah rangkaian keputusan, latihan, dan penolakan berulang yang menantang mental, tetapi bagi aktor drama China muda, fase awal penuh kegagalan justru sering menjadi gerbang menuju peran besar dan pengakuan luas di layar kaca maupun layar lebar. Dalam konteks itu, kisah Jackson Yee dan Tan Jianci adalah pengingat tajam bahwa bakat tanpa kegigihan tidak cukup, sementara kegigihan tanpa peluang akan terasa buntu. Keduanya datang dari latar boyband, berhadapan dengan keraguan industri, lalu memantapkan diri sebagai aktor yang dihormati. Ini bukan cerita manis tentang ketenaran instan, melainkan tentang menelan rasa malu ketika berkas audisi dibuang, membangun ulang kepercayaan diri, dan berani “memulai lagi” setiap kali dunia berkata belum. Untuk calon aktor, kisah mereka menjadi cermin: apa yang dilakukan ketika pintu ditutup jauh lebih penting daripada berapa kali pintu itu ditutup.
Jackson Yee: Dari Anak Boyband ke Aktor Drama Peraih Penghargaan
Jackson Yee adalah contoh bagaimana karier akting yang kuat bisa tumbuh dari fondasi idola remaja yang tampaknya manis tetapi penuh tekanan. Lahir dengan nama Yi Yangqianxi pada 2000, ia sudah tampil di depan publik sejak usia lima tahun. Di usia 12 tahun, ia bergabung dengan TFBoys dan melejit sebagai idola cilik sebelum melanjutkan pendidikan di Central Academy of Drama untuk menegaskan dirinya sebagai aktor serius. Namanya kemudian mencuri perhatian lewat film Better Days, A Little Red Flower, Nice View, hingga Full River Red dan Big World. Menariknya, sosoknya tidak semata disusun oleh kamera dan panggung. Karakternya yang kalem dan karismatik membuat wajahnya dipercaya merek-merek ternama seperti Bottega Veneta, Tiffany & Co, dan Jaeger-LeCoultre. Ungkapan yang patut dikutip di sini: "Dilansir dari Tatlerasia, Jackson Yee lahir dengan nama Yi Yangqianxi pada 2000, Yee sudah mulai tampil di depan publik sejak berusia lima tahun". Fakta bahwa masa kecilnya diisi dengan berbagai disiplin dan kegiatan seni, plus kebiasaannya membuat karya seni dengan tangan sendiri, menunjukkan bahwa ia tidak sekadar mengejar sorotan, tetapi membangun kepekaan artistik sejak dini.
Tan Jianci: Audisi Ditolak, Berkas Dibuang, Lalu Meledak Lewat Lost You Forever
Jika Jackson Yee lebih identik dengan loncatan cepat dari boyband ke film pemenang penghargaan, Tan Jianci adalah wajah dari ketahanan mental seorang aktor pendatang baru yang berkali-kali ditolak. Ia semula dikenal sebagai anggota termuda boyband M.I.C sebelum beralih menjadi aktor. Perjalanannya jauh dari mulus: ia mengakui pernah mengalami kegagalan berulang kali di berbagai audisi sampai rasa percaya dirinya terkikis. Ia mengenang saat memasukkan dokumen pribadi ke tim produksi lalu melihat berkas itu dibuang tanpa dibaca, bahkan kadang ia memungut kembali berkas-berkas yang dibuang karena yakin masih berguna. Penolakan yang terus-menerus menimbulkan tekanan besar dan memengaruhi kepercayaan dirinya sebagai aktor pendatang baru. Titik balik datang ketika ia tampil di musim pertama program I Am the Actor, ajang audisi terbuka berskala besar yang akhirnya membuka lebar jalan kesuksesan baginya. Penulis naskah Jia Dongyan memperhatikan penampilannya dan mengusulkan proyek khusus untuknya, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan benar-benar terwujud. Kini, ia lebih terkenal sebagai Xiang Liu dalam drama Lost You Forever (2023), peran yang membuat namanya meroket sebagai salah satu aktor drama China muda paling menarik diperbincangkan.

Apa yang Bisa Dipelajari Calon Aktor dari Dua Perjalanan Ini?
Kisah Jackson Yee dan Tan Jianci menunjukkan bahwa tidak ada satu pola tunggal untuk menjadi bintang. Jackson memanfaatkan ketenaran awal sebagai idola TFBoys, lalu mengokohkannya dengan pendidikan formal di Central Academy of Drama dan pilihan proyek film yang menantang. Di sisi lain, Tan harus menelan pahitnya berkas audisi yang dibuang dan serangkaian penolakan yang mengguncang kepercayaan dirinya sebelum kesempatan emas datang lewat I Am the Actor dan Lost You Forever. Perbedaan jalur mereka menegaskan hal sama: fase awal karier yang penuh penolakan bukan tanda bahwa seseorang tidak berbakat, melainkan ujian apakah ia cukup gigih untuk bertahan. Bagian paling relevan bagi calon aktor adalah menyadari bahwa kepercayaan diri bukan hadiah, tetapi hasil dari bertahan melewati rasa malu, cemas, dan penolakan yang berulang. Pada akhirnya, industri drama akan selalu keras, tetapi cerita-cerita seperti ini membuktikan bahwa mereka yang tidak berhenti mengetuk pintu punya peluang lebih besar untuk suatu hari berdiri di tengah panggung utama.





