Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Singapura Pimpin, Peta Kompetitivitas ASEAN Bergeser

Singapura Pimpin, Peta Kompetitivitas ASEAN Bergeser
Minat|Asia Tenggara

Definisi Singkat dan Fakta Pahit: Turunnya Daya Saing

IMD World Competitiveness Ranking adalah pemeringkatan yang membandingkan 70 ekonomi berdasarkan seberapa efektif mereka menciptakan kondisi bagi dunia usaha untuk beroperasi, berinvestasi, bersaing, dan menghasilkan nilai jangka panjang, dengan menilai kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur menggunakan ratusan indikator kuantitatif serta survei eksekutif.

Pesan utama dari edisi 2026 tegas: pusat gravitasi daya saing di ASEAN bergeser ke kota-negara kecil dan ekonomi yang disiplin pada institusi. Singapura kini memimpin dunia sebagai negara paling kompetitif dengan skor normalisasi 100, mengungguli Hong Kong 95,6 dan Swiss 95,3. Sementara itu, daya saing Indonesia merosot delapan peringkat ke posisi 48 dari 70 ekonomi yang dinilai. Fakta ini bukan sekadar soal malu di klasemen, melainkan alarm bahwa model pertumbuhan yang mengandalkan pasar besar tanpa tata kelola kuat mulai kehilangan tenaga.

Laporan ini memberi perhatian khusus pada kredibilitas institusi, supremasi hukum, serta aturan yang dapat diprediksi sebagai fondasi keputusan investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan kata lain, penurunan daya saing Indonesia bukan kebetulan musiman, melainkan konsekuensi dari pekerjaan rumah struktural yang ditunda terlalu lama.

Singapura Pimpin, Peta Kompetitivitas ASEAN Bergeser

Mengapa Singapura Melonjak Sementara Indonesia Tersandung

Kenaikan Singapura ke puncak peringkat kompetitivitas ASEAN dan dunia bukan hanya hasil kebijakan jangka pendek, tapi buah konsistensi puluhan tahun memperkuat institusi dan efisiensi bisnis. Singapura menjadi satu-satunya ekonomi yang berhasil bertahan di lima besar dunia untuk keempat pilar utama: kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur, dengan lonjakan efisiensi bisnis hingga menjadi nomor satu global pada 2026. "Singapura menempati peringkat pertama dengan skor normalisasi 100, unggul jauh dari pesaing terdekatnya," tulis laporan IMD.

Sebaliknya, penurunan daya saing Indonesia ke peringkat 48 menunjukkan bahwa pertumbuhan produk domestik dan besarnya pasar tidak lagi cukup untuk mengimbangi kelemahan di area lain. IMD menegaskan bahwa daya saing semakin ditentukan oleh kualitas institusi, kepastian aturan, dan kemampuan beradaptasi menghadapi guncangan. Ketika regulasi sering berubah, penegakan kontrak lemah, dan birokrasi lambat, investor global akan memilih ekosistem yang memberi kepastian walau pasarnya lebih kecil.

Paradoksnya, Asia tetap mendominasi daftar teratas, mengisi sebagian besar dari sepuluh besar dunia, bersama Eropa. Artinya masalahnya bukan di kawasan, melainkan pada pilihan kebijakan domestik masing-masing ekonomi. Dalam konteks peringkat kompetitivitas ASEAN, Singapura mengokohkan diri sebagai jangkar daya saing regional, sementara beberapa tetangga bergerak naik, dan sebagian lain—terutama Indonesia—berisiko tertinggal di tengah perlombaan menarik investasi dan industri bernilai tambah.

Singapura Pimpin, Peta Kompetitivitas ASEAN Bergeser

Vietnam dan Filipina: Pendidikan Mengubah Peta Kekuatan

Dimensi lain dari peta kompetitivitas ASEAN muncul dari dunia pendidikan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis OECD di Paris menunjukkan pergeseran tajam: Filipina mencatat pertumbuhan tercepat di dunia, sementara Vietnam mempertahankan status sebagai negara berprestasi tinggi di luar kelompok ekonomi maju. Dalam konteks ekonomi ASEAN, ini sinyal keras bahwa daya saing jangka panjang tidak bisa dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia usia sekolah.

Filipina mencetak lompatan eksponensial: skor membaca naik 20 poin ke 367, matematika naik 16 poin ke 371, dan sains naik 17 poin ke 373—capaian terbaik sejak ikut PISA 2018. Bandingkan dengan Indonesia yang pada siklus sama hanya mencapai membaca 365, matematika 364, dan sains 389. Untuk pertama kalinya, Filipina menyalip Indonesia di dua domain utama: unggul 2 poin pada membaca dan 7 poin pada matematika. Ini bukan sekadar soal angka; ini mengubah persepsi investor tentang produktivitas tenaga kerja muda di masa depan.

Di lapisan atas, Vietnam memberi pelajaran lebih tajam. Negara ini untuk pertama kali masuk IMD World Competitiveness Ranking 2026, tapi di pendidikan sudah lama mengungguli banyak tetangga. Vietnam mencatat skor sains 457 pada PISA 2025, dan pada 2022 berada di sekitar peringkat 31 dunia untuk matematika dengan skor 469 dan 35 dunia untuk sains dengan skor 472—lebih tinggi dari Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Dalam peta baru peringkat kompetitivitas ASEAN berbasis PISA, Singapura menempati lapisan atas, Vietnam lapisan tengah atas, sementara Indonesia turun ke lapisan bawah yang mulai digeser Filipina.

Dari IMD ke PISA: Dampak ke Daya Saing Investasi Regional

Jika IMD mengukur kualitas ekosistem bisnis hari ini, PISA memberi gambaran kualitas tenaga kerja esok hari. Keduanya saling menguatkan dalam menentukan daya saing ekonomi ASEAN. Temuan IMD 2026 menegaskan bahwa kredibilitas institusi, kepastian aturan, dan kemampuan beradaptasi kini lebih menentukan posisi sebuah ekonomi dibanding sekadar ukuran pasar. Di sisi lain, hasil PISA 2025 menunjukkan bagaimana investasi pendidikan yang fokus pada peningkatan kemampuan dasar bisa mengubah posisi sebuah negara dalam rantai nilai produksi dan jasa global.

Bagi Indonesia, kombinasi penurunan ke peringkat 48 dalam IMD World Ranking 2026 dan disalipnya capaian PISA oleh Filipina adalah sinyal ganda bahwa bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi. Peringatan tersebut eksplisit: "Bagi Indonesia, disalip Filipina menjadi alarm geopolitik pendidikan. Dalam konteks bonus demografi dan kompetisi investasi manufaktur, skor PISA berkorelasi dengan produktivitas tenaga kerja." Dalam jangka menengah, investor akan mengalihkan pabrik berteknologi menengah ke tinggi ke lokasi dengan kombinasi institusi kuat dan literasi siswa yang lebih tinggi.

Respons kebijakan sudah mulai dirancang, misalnya melalui program Pembelajaran Mendalam dan regulasi baru pendidikan dasar-menengah yang menarget pelatihan puluhan ribu kepala sekolah dan ratusan ribu pendidik. Namun efektivitasnya hanya sah jika terbukti mengangkat kelompok low performers, seperti yang ditunjukkan Filipina pada 2025. Di sisi lain, IMD menegaskan perbaikan daya saing tidak bisa berhenti di ruang kelas: kualitas institusi, produktivitas bisnis, kemampuan manajerial, infrastruktur, dan akses pembiayaan harus dibenahi bersamaan. Tanpa perombakan menyeluruh, ekonomi yang lambat beradaptasi berisiko sekadar menjadi pasar, bukan pusat produksi, dalam arsitektur baru ekonomi regional.

Kesimpulan: ASEAN Berlari, Siapa Tertinggal?

Peringkat kompetitivitas ASEAN kini memperlihatkan kontras yang tajam. Di satu sisi, Singapura mengonsolidasikan diri sebagai Singapura negara kompetitif dengan performa nyaris sempurna di seluruh pilar IMD. Vietnam menambah tekanan dengan debut dalam IMD sekaligus mempertahankan skor PISA yang menempatkannya di jajaran negara berprestasi tinggi. Di sisi lain, Indonesia menghadapi rapor merah ganda: turun delapan peringkat ke posisi 48 di IMD dan tersalip Filipina dalam capaian akademik dasar.

Ke depan, persaingan ekonomi ASEAN tidak lagi sebatas siapa menawarkan upah paling murah atau pasar paling besar, tetapi siapa yang mampu menjamin aturan yang dapat diprediksi, institusi yang dapat dipercaya, dan lulusan sekolah yang mampu membaca data dan menghitung risiko. Tanpa pergeseran fokus ke kualitas institusi dan kualitas pendidikan sekaligus, ekonomi yang puas dengan status quo akan melihat investor dan talenta terbaiknya mengalir ke tetangga yang lebih siap. Dalam perlombaan kompetitivitas, berhenti berlari sama dengan berjalan mundur.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!