Ekonomi kerakyatan desa: ketika pembangunan dimulai dari pelosok, bukan dari pusat
Ekonomi kerakyatan desa adalah pendekatan pembangunan yang menempatkan warga, terutama pelaku UMKM dan usaha berbasis komunitas, sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi lokal melalui dukungan permodalan, penguatan kapasitas, serta pemanfaatan potensi khas desa seperti budaya dan pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan bersama secara berkelanjutan. BRI memilih jalur ini: bukan dengan seremonial di kota besar, tetapi dengan turun ke desa-desa seperti Bawomataluo di Nias Selatan dan Balbar di Sofifi untuk menggerakkan ekonomi dari akar rumput. Pilihan ini penting secara politik dan ekonomi: selama pusat keuangan besar sibuk memburu segmen menengah ke atas, ekonomi rakyat di pelosok terlalu lama diperlakukan sekadar pelengkap. BRI, lewat program pemberdayaan UMKM dan Desa BRILiaN, sedang mengubah narasi itu menjadi strategi utama pertumbuhan yang lebih inklusif.

Bawomataluo: UMKM, budaya, dan pariwisata dijahit jadi mesin ekonomi baru
Di Desa Bawomataluo, BRI tidak datang membawa paket bantuan satu kali pakai, tetapi merangkai dukungan ekonomi, sosial, dan promosi pariwisata menjadi satu kerangka pemberdayaan. Penguatan ekonomi kerakyatan dilakukan lewat pengembangan potensi UMKM lokal dan pariwisata, disertai pemeriksaan kesehatan gratis, hiburan rakyat, dan aktivasi BRI Peduli “Satu Tanda, Sejuta Harapan” bagi warga terdampak bencana. Pendekatan ini tepat: UMKM, kesehatan, dan eksposur wisata saling menguatkan. Ketika desa dikenalkan kepada wisatawan mancanegara, peluang pasar bagi kuliner, kerajinan, dan jasa lokal terbuka luas. Di sini, program Desa BRILiaN dengan empat pilar—BUMDesa, digitalisasi, inovasi, dan keberlanjutan—bukan jargon; ia menjadi kerangka membangun ekosistem ekonomi desa yang mandiri, bukan desa yang bergantung abadi pada bantuan.
Semarak Merah Putih di Sofifi: perayaan yang berubah menjadi ruang dagang dan layanan publik
Di Balbar, Sofifi, BRI memanfaatkan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, bukan sekadar mengisi kalender acara. Melalui Semarak Merah Putih, digelar olahraga bersama, lomba kemerdekaan, pemeriksaan kesehatan gratis, bazar UMKM, dan panggung rakyat. Puluhan tenant UMKM Sofifi binaan BRI ikut berjualan, memanfaatkan tingginya kunjungan warga untuk memperkenalkan produk sekaligus mendongkrak omzet. Ini contoh konkret bagaimana event bisa menjadi kanal distribusi bagi usaha kecil, bukan hanya panggung seremonial. Lebih dari itu, layanan kesehatan komunitas yang disediakan membuat kegiatan ekonomi berjalan berdampingan dengan edukasi kesehatan dasar. Ketika satu agenda publik sekaligus menjadi pasar, ruang interaksi sosial, dan klinik berjalan, biaya sosial berpartisipasi bagi warga menurun, sedangkan manfaat ekonominya meningkat.
Program Desa BRILiaN: mengubah komitmen ekonomi kerakyatan menjadi desain jangka panjang
Di balik kegiatan di Nias Selatan dan Sofifi, ada pola yang konsisten: BRI sedang menguji dan memperluas model desa yang berdaya lewat program Desa BRILiaN. Program ini mendorong pengembangan desa secara terintegrasi melalui BUMDesa, digitalisasi layanan dan transaksi, inovasi produk serta model usaha, dan keberlanjutan agar ekonomi tidak tumbuh sesaat lalu mati. Pernyataan RCEO BRI Region 1 Medan, Novian Supriatno, menegaskan logika ini: pembangunan tidak boleh terkonsentrasi di kota; pertumbuhan harus dirasakan hingga desa melalui penguatan UMKM dan penciptaan peluang usaha produktif. Di level praktik, ini berarti menghubungkan potensi budaya dan pariwisata dengan rantai nilai UMKM, sekaligus menguatkan kapasitas kelembagaan desa. Ekonomi kerakyatan desa, dalam kerangka ini, bukan slogan politis, tetapi strategi penguatan fondasi pertumbuhan nasional dari unit terkecilnya: komunitas.
Mengapa model BRI di pelosok layak diperluas sebagai wajah keuangan inklusif
Kegiatan di Bawomataluo dan Sofifi menunjukkan bahwa BRI pemberdayaan UMKM paling efektif ketika menyentuh dua sisi sekaligus: ekonomi dan sosial. Di satu sisi, dukungan penguatan ekonomi, bazar UMKM, dan promosi potensi lokal menggerakkan transaksi dan memperluas pasar. Di sisi lain, pemeriksaan kesehatan gratis dan program seperti BRI Peduli “Satu Tanda, Sejuta Harapan”—yang mengonversi setiap stiker peserta menjadi donasi Rp50.000—mengirim pesan bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa dipisahkan dari perlindungan sosial. Inilah inti program keuangan inklusif yang seharusnya: tidak berhenti pada akses produk keuangan, tetapi ikut membangun kapasitas dan ketahanan warga. Jika model ini konsisten diterapkan di lebih banyak desa, ekonomi kerakyatan desa berpeluang menjadi tulang punggung pertumbuhan yang lebih merata, bukan sekadar catatan kaki dalam laporan keuangan bank.






