Aplikasi kota pintar yang lahir dari masalah sangat sehari-hari
Aplikasi kota pintar adalah layanan digital yang dirancang pemerintah daerah bersama warga untuk menyelesaikan masalah sangat konkret, mulai dari kebisingan hingga kebakaran, lewat informasi waktu nyata, pemetaan lokasi, dan notifikasi yang dapat mengubah cara masyarakat mengambil keputusan di ruang kota.
Dua inisiatif terbaru menunjukkan pergeseran penting: EWS Sound Horeg di Malang dan Sigap Hidran di Semarang. Keduanya bukan lahir dari laboratorium penelitian mahal, melainkan dari keresahan warga dan kebutuhan operasional di lapangan. Website Early Warning System (EWS) Sound Horeg buatan seorang warga Malang kini disiapkan menjadi aplikasi dengan fitur notifikasi lokasi dan pelaporan pengguna. Sementara itu, pemerintah kota lain meluncurkan aplikasi Sigap Hidran untuk mempercepat penanganan kebakaran melalui pemetaan 295 titik hidran aktif. Ini menunjukkan manajemen darurat digital tidak lagi sekadar konsep, tetapi alat praktis yang mengubah pengalaman hidup di kota.
EWS Sound Horeg: ketika kebisingan ditangani seperti ancaman kesehatan
Kebanyakan orang menganggap kebisingan karnaval sebagai “konsekuensi hiburan”. Penggagas EWS Sound Horeg, Andi Soerja, melihatnya sebagai risiko kesehatan publik yang perlu sistem peringatan dini. Dari keresahannya terhadap fenomena sound horeg yang semakin marak menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, ia memilih membuat solusi teknologi ketimbang terjebak debat pro-kontra tradisi.
Ia membeli domain sekitar Rp 15 ribu dan mengumpulkan jadwal karnaval dari Instagram, TikTok, hingga Threads, lalu menyusun semuanya dalam satu website yang mudah diakses. Platform ini membantu warga mengetahui jadwal serta lokasi karnaval sound horeg sehingga bisa mengatur aktivitas atau menghindari paparan kebisingan berintensitas tinggi. Informasi lokasi, waktu, dan jarak acara dari posisi pengguna sangat krusial bagi keluarga dengan bayi, lansia, atau warga sensitif suara. Dengan suara pada kisaran 100–135 desibel sudah masuk kategori berbahaya bila berlangsung cukup lama, menganggap remeh masalah ini berarti mengabaikan hak warga atas lingkungan yang aman.
Dari website ke aplikasi: partisipasi warga mengubah wajah sistem peringatan dini
EWS Sound Horeg berangkat sebagai website sederhana, tetapi respons publik membuatnya berkembang menjadi aplikasi kota pintar yang fungsinya makin mendekati sistem peringatan dini sesungguhnya. Saat diperkenalkan lewat Threads, unggahan tentang EWS Sound Horeg dilihat lebih dari 120 ribu akun. Angka ini menunjukkan dua hal: kelelahan warga terhadap kebisingan, dan kesiapan masyarakat memakai teknologi untuk melindungi diri.
Menariknya, kritik juga bermunculan. Di TikTok, sebagian pengguna menilai penggagas aplikasi terlalu mempermasalahkan tradisi masyarakat. Perdebatan ini sehat. Di satu sisi ada warga yang merasa berhak atas hiburan dan ekspresi budaya. Di sisi lain ada kelompok rentan yang butuh perlindungan dari efek kebisingan. Andi menegaskan platformnya tidak dibuat untuk menolak sound horeg; pemburu event pun bisa memakainya mencari jadwal karnaval. Inilah model inovasi kota yang ideal: lahir dari bawah, disempurnakan oleh umpan balik komunitas, dan tidak hitam-putih memihak satu kelompok.
Sigap Hidran Semarang: pemetaan hidran aktif sebagai nyawa manajemen darurat digital
Jika Malang berfokus pada kebisingan, Semarang mengutamakan api. Saat musim kemarau datang, risiko kebakaran meningkat, dan di titik ini efisiensi manajemen darurat digital bukan lagi kemewahan, tetapi kebutuhan dasar. Pemerintah kota tersebut meluncurkan aplikasi Sigap Hidran untuk mempercepat penanganan kebakaran lewat pemetaan 295 titik hidran aktif di seluruh kota.
Sigap Hidran dikembangkan Dinas Pemadam Kebakaran dengan sistem informasi berbasis digital yang menampilkan titik-titik hidran. Sebelumnya, lokasi hidran hanya diketahui secara manual, menyulitkan petugas ketika kebakaran terjadi di titik tertentu. Sekarang, saat armada pemadam tiba di lokasi, mereka dapat segera menemukan sumber air terdekat sehingga waktu pencarian dipangkas signifikan. Sekretaris Daerah menjelaskan, kapasitas air tiap mobil pemadam hanya cukup sekitar 15 menit dan harus segera diisi ulang dari hidran terdekat. Dalam konteks ini, pemetaan hidran aktif bukan detail teknis; ia menentukan apakah api cepat padam atau berubah menjadi bencana besar.
Ketika data dibuka ke publik: kota pintar yang berpihak pada warga
Kekuatan Sigap Hidran bukan hanya pada pemetaan hidran aktif untuk petugas damkar, tetapi juga rencana membuka data lokasi hidran kepada masyarakat. Langkah ini tampak sederhana, namun secara politik sangat jelas: pemerintah mengakui warga sebagai mitra dalam menjaga infrastruktur darurat, bukan sekadar objek kebijakan. Data terbuka membuat hidran lebih mungkin dijaga, tidak terhalang parkir liar atau bangunan yang menutup akses.
Dalam dua contoh ini, pola yang sama terlihat. Di Malang, seorang arek IT mengubah keresahan menjadi sistem peringatan dini partisipatif. Di Semarang, dinas pemadam kebakaran mengubah pendataan manual menjadi aplikasi kota pintar yang menghemat menit-menit emas penanganan kebakaran. Keduanya menegaskan bahwa inovasi pemerintahan lokal paling kuat saat materi bakarnya datang dari bawah: keluhan warga, berdebat di media sosial, lalu diterjemahkan menjadi fitur konkret. Kota pintar seharusnya tidak diukur dari jumlah sensor atau gedung canggih, tetapi dari seberapa baik aplikasinya melindungi telinga, rumah, dan hidup warganya sehari-hari.




