Akses air harus sampai ke rumah
Air bersih Ngada bergantung pada infrastruktur yang membawa sumber air hingga ke rumah sekaligus dikelola warga agar tetap berfungsi ketika hujan berhenti dan kemarau memperketat persediaan. Karena itu, pembangunan pipa dan sumur bor layak dinilai dari manfaat sehari-hari, bukan hanya dari panjang jaringan atau selesainya pekerjaan.
Di Desa Dadawea, pengerjaan jaringan perpipaan telah memasuki tahap pengujian aliran menuju rumah warga. Perubahan ini penting bagi keluarga yang sebelumnya mengandalkan air hujan dalam bak penampungan dan kini mulai beralih menggunakan mata air melalui pipa. Jangkauan tersebut membuat akses air tidak lagi terpusat pada satu lokasi, meski pengujian aliran saja belum menjamin pasokan yang stabil sepanjang tahun. Keandalan listrik juga berpengaruh pada distribusi air di wilayah yang menggunakan sistem bertenaga listrik, sehingga mutu layanan perlu dijaga bersama.

Gotong royong membangun, warga menjaga
Pipa baru menanggapi masalah yang nyata: jaringan lama di Tiwotoda bocor dan rusak, sehingga air banyak terbuang sebelum mencapai rumah. Saat musim kemarau, sebagian warga harus membeli air tangki untuk kebutuhan harian. Warga dari Dusun Hobotoda 1 dan Hobotoda 2 bersama petugas menggali jalur, menanam pipa, lalu menyambungkannya ke bak penampung ketiga di Hobotoda. Bagi sekitar 400 kepala keluarga di desa itu, perbaikan berpotensi meringankan kekurangan air, tetapi manfaatnya bergantung pada jaringan yang tidak kembali bocor.
Gotong royong tersebut menunjukkan bahwa warga bukan sekadar penerima bantuan. Pembentukan petugas dan kelompok pengelola juga diperlukan untuk merawat fasilitas, mengatur operasional, dan menjaga layanan tetap berjalan. Di Dadawea, kelompok pengurus air telah memiliki dasar kelembagaan melalui surat keputusan yang diterbitkan pada 2025. Model ini seharusnya menjadi bagian dari pembangunan sejak awal: pipa yang terpasang tanpa penanggung jawab dan rencana pemeliharaan berisiko kehilangan manfaatnya.
Mataloko dan Radabata menghadapi kemarau
Jaringan di Desa Dadawea dan Kelurahan Mataloko tercatat menjangkau 75 kepala keluarga. Di Mataloko, jaringan sepanjang 300 meter melayani 30 keluarga, sedangkan 45 keluarga tercatat menerima manfaat di Dadawea. Angka ini menandai kemajuan, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa perluasan akses harus disertai tata kelola yang jelas. Di Mataloko, kelompok pengelola belum terbentuk dan mekanisme retribusi belum diberlakukan; pemerintah kelurahan merencanakan pembentukan Badan Usaha Milik Kelurahan sebagai salah satu pilihan pengelolaan.
Di Radabata, sumur bor membantu menjawab krisis air kemarau yang telah berlangsung bertahun-tahun. Sebelumnya, warga menampung air hujan saat musim hujan, lalu membeli air tangki ketika kemarau. Biaya sekitar Rp150.000 hanya mencukupi kebutuhan satu keluarga selama kurang lebih dua minggu. Pengerjaan sumur bor berlangsung sekitar tiga minggu, dan letaknya di dataran lebih tinggi memungkinkan air dialirkan ke rumah dengan gravitasi tanpa pompa tambahan. Namun, harapan menjangkau sekitar 300 keluarga di desa itu tetap membutuhkan pengaturan distribusi dan pemeliharaan yang konsisten.
Keberlanjutan menentukan hasil
Penyediaan air di Ngada menunjukkan arah yang tepat: memperbaiki jaringan yang bocor, memperluas pipa hingga rumah, dan menambah sumber melalui sumur bor. Namun, pembangunan fisik baru menjadi solusi jika warga memperoleh layanan yang teratur, bukan sekadar infrastruktur yang selesai dipasang. Pemantauan bersama pemerintah desa, kelurahan, dan masyarakat perlu berlanjut untuk menilai kebutuhan, membentuk pengelola, menyepakati mekanisme operasional, serta merawat jaringan.
Kesimpulannya, pipa di Dadawea dan Mataloko serta sumur bor Radabata dapat mengurangi ketergantungan pada tampungan hujan dan pembelian air saat kemarau. Gotong royong warga memberi dasar sosial bagi layanan, tetapi keberlanjutan menuntut pengelola yang aktif dan pemeliharaan yang jelas. Keberhasilan program air bersih akan terasa bukan saat proyek diresmikan, melainkan ketika air tetap mengalir sampai ke rumah pada musim kering.






