Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lomba Bertutur Menumbuhkan Literasi dan Kreativitas Anak

Lomba Bertutur Menumbuhkan Literasi dan Kreativitas Anak
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Bercerita Membuat Buku Lebih Dekat

Lomba bertutur adalah kegiatan ketika siswa membaca, memahami, lalu menyampaikan kembali cerita secara lisan, sehingga buku menjadi bahan untuk berlatih bahasa, mengembangkan imajinasi, dan membangun keberanian. Di Lampung Utara, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menggelar lomba bertutur bagi siswa SD dan MI se-kabupaten pada Rabu, 21 Oktober 2026, di Gedung Pusiban Agung, Kotabumi. Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan minat baca, kreativitas, serta budaya literasi sejak usia dini. Pilihan formatnya tepat: anak tidak hanya diminta menuntaskan bacaan, tetapi juga mengolah pemahaman menjadi cerita yang dapat dibagikan. Karena itu, lomba bertutur siswa layak dipandang sebagai bagian dari budaya literasi sekolah dasar, bukan sekadar panggung untuk mencari pemenang. Pengalaman membaca mendapat tujuan yang nyata, sementara kemampuan berbahasa dilatih dalam suasana yang memberi ruang bagi ekspresi.

Minat Baca Bertemu Kepercayaan Diri

Manfaat lomba semacam ini tidak berhenti pada kelancaran berbicara. Peserta dilatih memahami isi cerita, menyampaikannya secara lisan, serta membangun keberanian, kreativitas, dan rasa percaya diri ketika tampil di depan umum. Proses tersebut membuat membaca terasa lebih bermakna: anak memiliki kesempatan untuk menafsirkan cerita dan menyampaikan gagasannya dengan cara sendiri. Bunda Literasi Lampung Utara, Meri Farida Hamartoni, menilai lomba bertutur juga menjadi sarana bagi anak untuk belajar menyampaikan pesan dan pemikiran secara menarik, santun, dan berkesan. Inilah alasan program minat baca anak sebaiknya tidak hanya mengajak siswa membuka buku, tetapi juga memberi mereka ruang untuk merespons bacaan. Sebagai kompetisi storytelling sekolah, kegiatan ini dapat memadukan latihan literasi dengan ekspresi diri. Ukuran keberhasilannya bukan hanya siapa yang menang, melainkan apakah lebih banyak anak pulang dengan rasa ingin membaca dan keberanian untuk bercerita.

Literasi Budaya Menjaga Ingatan Lokal

Penguatan literasi juga berarti memberi anak akses untuk mengenal warisan pengetahuan di sekitarnya. Di Denpasar, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mengadakan pelestarian lontar dan penguatan literasi budaya pada Oktober 2026 untuk menyambut Hari Suci Saraswati. Tiga cakep lontar yang dikonservasi ialah Budha Kecapi, Sila Kramaning Aguron-guron, dan Dharma Pamaculan, yang tercatat bertahun 1991. Kegiatan itu juga mengajak 25 siswa SMP Negeri 2 Denpasar berlatih menulis aksara Bali di atas lontar, dengan tema perjuangan yang bersumber dari cerita pendek berbahasa Bali. Inisiatif ini berbeda dari lomba SD/MI di Lampung Utara, tetapi memperlihatkan sisi lain literasi: merawat naskah sekaligus mengenalkan isi dan tradisi yang dikandungnya. Kesimpulannya, budaya baca tumbuh lebih kuat ketika anak bukan hanya membaca cerita, tetapi juga mendapat kesempatan memahami, menceritakan, dan mengenali warisan budaya melalui kegiatan belajar yang nyata.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!