Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Petani Sawit Dunia Bersatu di Forum IOPS: Momentum Menguatkan Aliansi dan Harga TBS yang Adil

Petani Sawit Dunia Bersatu di Forum IOPS: Momentum Menguatkan Aliansi dan Harga TBS yang Adil
Minat|Asia Tenggara

IOPS Forum: Titik Balik Persatuan Petani Sawit Global

IOPS Forum adalah pertemuan internasional petani sawit skala kecil yang dirancang sebagai ruang strategis untuk menyatukan suara, memperkuat aliansi petani sawit global, membahas harga TBS sawit, serta mengarahkan industri sawit berkelanjutan yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pusat keputusan. Diselenggarakan di Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur, pada 27–29 Agustus, forum ini mempertemukan petani, organisasi, dan pemangku kepentingan dari berbagai daerah dan negara produsen utama sawit. Pilihan Nusantara sebagai tuan rumah bukan sekadar simbol, melainkan pernyataan politik bahwa masa depan sawit rakyat tidak boleh ditentukan tanpa suara petani. Dari Aceh sampai Papua, dari Malaysia hingga Honduras, para petani sawit global hadir bukan untuk berwisata konferensi, melainkan untuk menyusun strategi bersama: bagaimana sawit rakyat bisa sejahtera tanpa dikorbankan atas nama regulasi atau pasar yang tidak mereka kuasai.

Petani Sawit Dunia Bersatu di Forum IOPS: Momentum Menguatkan Aliansi dan Harga TBS yang Adil

Dari Silaturahmi ke Aliansi: IOPS sebagai Rumah Bersama Petani

Kekuatan utama IOPS Forum 2026 bukan pada panggung resmi, melainkan pada persaudaraan yang ditenun dari obrolan antarpetani. Siswanto, Ketua DPW APKASINDO Sulawesi Tengah, menyebut forum ini sebagai ajang silaturahmi yang mempererat persaudaraan petani sawit nasional dan internasional, sekaligus ruang menyampaikan persoalan di daerah. Di sinilah konsep aliansi petani internasional menjadi nyata: bukan sekadar jargon, tetapi jaringan dukungan yang bisa dihubungi ketika harga jatuh, regulasi berubah, atau kampanye negatif menghantam. Panitia menyusun agenda yang langsung menyinggung kepentingan petani sawit skala kecil: harga TBS sawit, keberlanjutan, teknologi, sertifikasi, peremajaan sawit rakyat (PSR), hingga penguatan posisi petani dalam penyusunan kebijakan internasional. Sikap Ketua Panitia, Djono A. Burhan, yang menyambut kehadiran petani dari Aceh hingga Papua dan delegasi dari Malaysia, Ghana, Nigeria, Honduras, Thailand, serta Pantai Gading menunjukkan satu pesan lugas: forum ini bukan sekadar seremoni; ini adalah meja perundingan petani sawit dunia.

Petani Sawit Dunia Bersatu di Forum IOPS: Momentum Menguatkan Aliansi dan Harga TBS yang Adil

WCOPS: Dari Koalisi ke Kekuatan Politik Petani Sawit Dunia

Momentum paling penting dari IOPS Forum adalah peluncuran World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS), wadah komunikasi dan kolaborasi petani sawit di tingkat internasional. Menurut Surisman, Ketua DPW APKASINDO Bangka Belitung, forum ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya petani sawit dari berbagai negara duduk dalam satu forum untuk membahas masa depan perkebunan sawit rakyat dan memperkuat aliansi petani sawit internasional menghadapi tantangan industri sawit global. Joint Statement WCOPS, yang ditandatangani 12 organisasi petani sawit dari tujuh negara, dengan lima organisasi dari Indonesia, bukan sekadar deklarasi normatif. Dokumen itu menyepakati agenda strategis seperti peningkatan perwakilan petani dalam tata kelola global dan jaminan keberlanjutan yang inklusif, agar standar industri sawit berkelanjutan tidak meminggirkan petani kecil yang sulit mengakses modal dan teknologi. WCOPS berpotensi menjadi “serikat global” petani sawit, menekan pemerintah dan lembaga internasional agar tidak menjadikan petani sekadar objek regulasi, melainkan subjek yang ikut menentukan aturan main.

Harga TBS Sawit: Pertarungan Keadilan di Tingkat Kebun

Isu paling terasa bagi petani adalah harga TBS sawit, dan IOPS mengangkatnya sebagai agenda bersama. Siswanto menyoroti ketimpangan harga TBS antara wilayah barat dan timur, menunjukkan bahwa petani di daerah terpencil kerap menerima harga jauh di bawah potensi pasar. Di Kalimantan Timur, Betmen Siahaan menegaskan bahwa harga TBS di lapangan masih jauh dari harapan, dengan kesenjangan nyata antara harga penetapan provinsi sekitar Rp3.470 per kilogram dan harga yang benar-benar diterima petani. "Kadang yang ditetapkan di sebuah tempat itu tinggi, tapi di lapangan tidak begitu," tegasnya, menggambarkan jurang yang lahir dari rantai pasok dan kekuatan tengkulak. Forum ini tidak berhenti pada keluhan; mekanisme harga TBS di berbagai negara dibandingkan, termasuk praktik Honduras yang meninjau harga referensi TBS setiap bulan dengan acuan Bursa Malaysia Derivatives dan kondisi pasar. Di sana, perusahaan pengolah bersaing merebut pasokan melalui insentif dan premi tambahan, menciptakan pasar TBS yang lebih kompetitif dan membuka peluang harga lebih baik bagi produsen. Namun, model ini tetap menyisakan konsekuensi terhadap distribusi nilai dalam rantai pasok, sehingga diskusi di IOPS penting untuk merumuskan skema yang memihak petani, bukan sekadar menambah keuntungan pabrik.

Petani Sawit Dunia Bersatu di Forum IOPS: Momentum Menguatkan Aliansi dan Harga TBS yang Adil

Suara Kaltim, Kalbar dan Daerah Lain: Menuntut Perhatian pada Petani Swadaya

Sebagai tuan rumah, petani sawit Kalimantan Timur tidak hanya menyambut, tetapi juga menuntut. Betmen Siahaan menyatakan kebanggaan petani Kaltim menjadi pertimbangan nasional dan internasional, sekaligus berharap forum ini mengangkat persoalan harga TBS di daerahnya yang masih jauh dari harapan. Di level pemerintah, Gubernur Kaltim melalui sambutan Rudy Mas’ud menekankan bahwa produksi kelapa sawit sekitar 5 juta menunjukkan potensi besar yang harus diikuti pembangunan ekosistem perkebunan yang kuat, dengan organisasi petani sebagai rumah bersama untuk memperkuat posisi tawar dan akses informasi. Dari Kalimantan Barat, Indra Rustandi berharap forum ini meningkatkan perhatian terhadap petani swadaya, kelompok yang sering berada di pinggir kebijakan dan program resmi. Aspirasi serupa datang dari Papua, melalui Albert Yoku yang menginginkan gagasan konkret bagi industri sawit yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Pemerintah daerah yang menyambut forum dengan istilah "Bapak dan Ibu bersatu suara, Bapak dan Ibu bekerja sama lintas negeri" menunjukkan bahwa IOPS tidak hanya relevan bagi petani sawit global, tetapi juga bagi pemerintah yang ingin menjadikan sawit sebagai penggerak ekonomi rakyat, bukan monopoli korporasi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!