Lonjakan Pembiayaan EV: Sinyal Kuat Pergeseran Pasar
Pembiayaan kendaraan listrik adalah penyaluran dana oleh perusahaan pembiayaan kepada konsumen untuk membeli kendaraan berbasis listrik, di mana konsumen mencicil pokok dan bunga selama jangka waktu tertentu sehingga harga kendaraan menjadi lebih terjangkau tanpa harus membayar penuh di muka. Hingga Juni 2026, nilai pembiayaan kendaraan listrik mencapai Rp24,60 triliun dengan pertumbuhan 34,70 persen secara tahunan, sebuah lonjakan yang tidak bisa dianggap sekadar tren sesaat. Di tengah tekanan pembiayaan kendaraan secara umum, outstanding pembiayaan kendaraan turun 1,44 persen menjadi Rp402,49 triliun. Kontras ini menegaskan satu hal: konsumen mulai mengalihkan preferensi dari mesin konvensional ke teknologi listrik. "Pada Juni 2026, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance tumbuh 34,70 persen yoy menjadi Rp24,60 triliun dan diperkirakan dapat tumbuh positif hingga akhir 2026," ujar Agusman.

Mengapa EV Makin Menarik: Insentif dan Multifinance Buka Akses
Lonjakan pembiayaan kendaraan listrik tidak terjadi di ruang kosong. Dukungan kebijakan pemerintah berupa insentif kendaraan listrik jelas menjadi katalis yang mendorong minat beli masyarakat. Insentif tersebut menurunkan hambatan awal bagi konsumen yang sebelumnya ragu berpindah ke EV karena harga dan ketidakpastian teknologi. Di sisi lain, perusahaan multifinance membaca tren pasar EV Indonesia dan agresif menawarkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel, sehingga pembiayaan kendaraan listrik menjangkau segmen yang lebih luas, bukan hanya kalangan atas. Ketika cicilan kendaraan listrik semakin terjangkau, EV mulai diposisikan bukan sekadar gaya hidup hijau, melainkan keputusan finansial yang rasional. Pemerintah dan multifinance, secara praktis, sedang memindahkan EV dari etalase pameran ke garasi rumah kelas menengah.
EV Sebagai Investasi Jangka Panjang: Peluang untuk Pembeli
Bagi calon pembeli, pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik yang konsisten memberi pesan jelas: EV bukan lagi produk eksperimental, melainkan bagian dari arus utama konsumsi. OJK melihat tren ini masih punya ruang berlanjut hingga akhir 2026, seiring meningkatnya adopsi dan aktivitas industri otomotif seperti pameran berskala besar yang memicu transaksi dan kebutuhan pembiayaan. Dalam perspektif investasi, kredit mobil listrik berpotensi lebih menarik jika didukung ekosistem yang makin matang—mulai dari insentif, pilihan model, hingga jaringan purnajual. Pembeli yang masuk lebih awal bisa menikmati kombinasi biaya operasional yang lebih efisien dan nilai jual kembali yang berpotensi lebih stabil ketika pasar EV semakin mapan. Namun investasi jangka panjang di EV hanya masuk akal jika pembiayaan disusun realistis: tenor, cicilan, dan proyeksi penggunaan harus selaras dengan kondisi keuangan pribadi.
Tekanan pada Kendaraan Konvensional: Pertanda Era Baru
Di sisi lain, data menunjukkan pembiayaan mobil baru dan bekas turun 3,25 persen menjadi Rp230,47 triliun pada semester I 2026. Penurunan ini bukan sekadar gejala siklus, melainkan indikasi kuat bahwa konsumen mulai menilai ulang daya tarik mesin bensin dan diesel. Ketika tren pasar EV Indonesia menguat, kendaraan konvensional perlahan kehilangan posisi sebagai pilihan default. Ini penting bagi pembeli: membeli mobil konvensional hari ini berarti mengabaikan arah kebijakan dan teknologi yang semakin berpihak pada listrik. Bagi industri multifinance, kontraksi pembiayaan kendaraan konvensional memaksa penyesuaian strategi—diversifikasi ke segmen EV bukan lagi opsi, tetapi keharusan. Mereka yang lambat merespons berisiko tertinggal ketika preferensi konsumen bergeser permanen.
Prospek Cerah, Tapi EV Bukan Tanpa Risiko
Optimisme terhadap pembiayaan kendaraan listrik tidak boleh menutup mata terhadap risiko. OJK sendiri mengingatkan agar ekspansi ke segmen EV tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan penguatan manajemen risiko. Pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance diperkirakan tetap positif, meski ada kemungkinan berada di bawah target 6–8 persen. Ini sinyal bahwa pasar EV menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya stabil. Bagi konsumen, sikap kritis perlu diarahkan pada kualitas produk, kesiapan infrastruktur, dan ketentuan pembiayaan—bunga, penalti, hingga perlindungan asuransi. EV layak dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan spekulasi: pilih model dengan ekosistem kuat, baca kontrak pembiayaan dengan teliti, dan pastikan cicilan kendaraan listrik tidak mengorbankan kesehatan keuangan. Era listrik memang datang, namun keputusan cerdas tetap ditentukan di meja perhitungan, bukan di panggung pameran.






