Dari gowes ke lapangan padel
Pedal Terpadel-Padel adalah kegiatan lintas komunitas yang memadukan gowes keliling kota dengan pengalaman bermain padel, sehingga pertemuan olahraga juga menjadi cara untuk membangun koneksi. Pada Minggu, 18 Oktober 2026, puluhan pesepeda dari Seli Banjarmasin, BWCC (Bandarmasih Woman Cycling) Community, Felish (Feminim Cyclis), dan komunitas lain bersepeda bersama Horikawa Padel. Horikawa di Jalan Meratus, Banjarmasin Tengah, menjadi titik awal sekaligus akhir kegiatan sebelum para peserta masuk lapangan. Gagasan ini terasa lebih menarik daripada acara yang berhenti pada satu cabang olahraga: pesepeda mendapat kesempatan mencoba hal baru, sementara pemain padel bertemu calon kawan bermain dari lingkungan berbeda. Bagi pencari kegiatan gowes Banjarmasin, agenda ini menunjukkan bahwa kebersamaan di jalan bisa berlanjut menjadi pengalaman olahraga bersama.
Odienk, yang mewakili Seli Banjarmasin, menyebut kegiatan itu sebagai upaya membangun koneksi antar-cyclist dan goweser kota. Nilai utamanya memang bukan sekadar berpindah dari sepeda ke raket, melainkan membuat komunitas sepeda merasa diterima di ruang olahraga yang mungkin belum pernah mereka coba. Sejumlah peserta baru pertama kali memegang raket padel, tetapi antusiasme mereka membantu suasana cepat cair. Kolaborasi semacam ini memberi padel Banjarmasin jalur perkenalan yang lebih akrab: bukan lewat kompetisi bertekanan, melainkan melalui aktivitas bersama, tawa, dan rasa ingin mencoba.

Olahraga baru lebih mudah dikenal lewat pertemanan
Kekuatan Pedal Terpadel-Padel terletak pada formatnya yang santai. Horikawa Padel menjadi ruang temu, bukan hanya tempat bermain, sehingga peserta bisa berkenalan sebelum dan sesudah turun ke lapangan. Pemilik Horikawa Padel, Young William, mengapresiasi konsistensi serta solidaritas para pesepeda dan menilai kegiatan itu menghadirkan energi yang menyenangkan. Ia juga menyoroti bahwa padel mudah dipelajari dan seru dimainkan bersama; kesan itu penting bagi pemula yang mungkin merasa olahraga baru membutuhkan kemampuan khusus sejak awal. Ketika pintu masuknya berupa kegiatan komunitas, rasa canggung lebih mudah luruh. Model seperti ini layak ditiru: olahraga bisa berkembang bukan hanya dengan mengundang pemain berpengalaman, tetapi juga dengan memberi orang kesempatan mencoba tanpa menjadikan hasil pertandingan sebagai tujuan utama.
Bagi penyelenggara komunitas, pelajaran yang terlihat sederhana tetapi berguna: gabungkan kebiasaan yang sudah kuat dengan aktivitas yang ingin diperkenalkan. Para pesepeda telah memiliki kebersamaan di jalan; padel lalu menjadi pengalaman bersama berikutnya. Sebaliknya, komunitas padel memperoleh kesempatan menyambut peserta baru dan memperluas jejaring. Horikawa juga menawarkan ruang untuk beristirahat dan berkumpul seusai olahraga, sehingga acara tidak berakhir begitu saja setelah sesi bermain. Dengan pendekatan ini, gowes Banjarmasin bukan sekadar agenda bersepeda, melainkan pintu menuju perjumpaan lintas minat.
Fun match mempertemukan komunitas dan instansi
Seminggu setelah gowes bersama itu, Tiba-Tiba Padel Banjarmasin Post Fun Match berlangsung di Sweat & Serve Padel, kawasan Belitung, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Formatnya santai dan menyenangkan, tetapi tetap memberi ruang bagi peserta untuk bertanding. Dua lapangan—berwarna pink dan hijau—digunakan dengan sistem gugur. Di lapangan pink, Bank Kalsel berhadapan dengan Kominfo Kalsel 1, sementara Bapenda Kalsel melawan DPD REI di lapangan hijau. Pertemuan antartim ini memperlihatkan bahwa fun match padel dapat menjadi lebih dari hiburan: olahraga menyediakan alasan yang wajar bagi mitra dan rekan kerja untuk saling mengenal di luar rutinitas.
Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Selatan menurunkan tiga tim dalam acara tersebut. Sekretaris Diskominfo Kalsel, Mashudi, menyatakan, “Kami mengirimkan tiga tim untuk ikut meramaikan kejuaraan ini. Semoga melalui kegiatan seperti ini, olahraga padel semakin berkembang dan terus maju di Kalimantan Selatan.” Keikutsertaan instansi dalam jumlah itu menambah warna pada pertandingan, sekaligus menunjukkan dukungan terhadap ruang kompetisi bagi pegiat padel. Namun, dampak yang paling terasa bukan hanya jumlah tim: ketika instansi, mitra, dan komunitas hadir di lapangan yang sama, padel memperoleh kesempatan tumbuh sebagai kegiatan sosial yang terbuka.

Pertemuan lintas olahraga patut berlanjut
Dua kegiatan ini memperlihatkan dua sisi perkembangan padel Banjarmasin: perkenalan akar rumput melalui kolaborasi dengan komunitas sepeda dan suasana pertandingan yang melibatkan instansi serta mitra. Keduanya saling melengkapi. Acara gowes mengundang pemula untuk mencoba, sedangkan fun match memberi peserta kesempatan merasakan atmosfer kompetisi dan kekompakan tim. Tidak perlu memilih antara olahraga santai dan pertandingan; keduanya bisa memperluas keterlibatan dengan cara berbeda.
Karena itu, hal yang patut dijaga adalah kesinambungan pertemuan semacam ini. Komunitas sepeda sudah menunjukkan bahwa minat olahraga dapat menyeberang dari satu lapangan ke lapangan lain ketika penyelenggara membuka ruang kolaborasi. Sementara itu, partisipasi tim instansi memberi contoh bahwa kompetisi juga bisa menjadi ajang keakraban, bukan semata mengejar kemenangan. Kesimpulannya, gowes dan padel menjadi agenda yang lebih berarti saat keduanya mempertemukan orang-orang yang sebelumnya bergerak di lingkaran berbeda. Banjarmasin memiliki contoh konkret bahwa olahraga bersama dapat membangun jejaring sekaligus mengajak lebih banyak orang untuk mencoba.






