Lomba yang mengubah pusat kota menjadi ruang belajar
Digi MR Banyuwangi adalah perlombaan penjelajahan berbasis misi yang mengajak anggota Pramuka SD/MI belajar melalui tantangan langsung, kerja tim, dan penggunaan teknologi digital. Pada Minggu, 25 Oktober 2026, sebanyak 500 peserta dalam 100 regu menyusuri rute dari halaman Stadion Diponegoro hingga Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kekuatan ajang ini terletak pada perpaduan gerak, pengetahuan, dan kecakapan praktis: gawai menjadi alat belajar, bukan sekadar perlengkapan lomba. Peserta harus tiba tepat waktu karena pemberangkatan mengikuti jadwal dan keterlambatan berisiko berujung diskualifikasi. Perlombaan berlangsung sejak pukul 06.00 dan berakhir pukul 09.00 WIB. Bagi Pramuka SD Banyuwangi, format seperti ini menawarkan pelajaran yang sulit didapat hanya dari kelas: bekerja bersama sambil menghadapi tantangan nyata di ruang publik.

Lima misi menuntut lebih dari kecepatan
Lima pos membuat misi digital pramuka ini menuntut ketelitian sekaligus kekompakan. Peserta menguji pengetahuan tentang budaya dan pariwisata Banyuwangi dengan memindai kode QR, menjawab soal, membuat yel-yel, serta mempraktikkan tali-temali. Tantangan lainnya mengangkat kesehatan: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, gizi seimbang, jajanan sehat, kebersihan diri, dan kebersihan lingkungan. Di pos belanja, regu menjalankan transaksi menggunakan QRIS. Ragam tugas itu memberi nilai lebih pada perlombaan, tetapi juga membuat setiap regu harus membagi peran dan menjaga fokus. Berlari cepat saja tidak cukup ketika jawaban, keterampilan, dan ketepatan menyelesaikan misi ikut menentukan nilai akhir. Di sinilah Digi MR terasa lebih menarik daripada lomba lintasan biasa: teknologi dipakai untuk menghubungkan pengetahuan dengan tindakan.

Selisih satu poin menentukan juara
Regu Tunas Bangsa dari SDN 8 Sumberagung keluar sebagai juara Digi MR dengan 569 poin, hanya satu poin di atas Merah Putih dari SDN 2 Kesilir yang meraih 568 poin. Hasil setipis ini menunjukkan bahwa konsistensi di setiap pos sama pentingnya dengan kecepatan mencapai garis akhir. Garuda dan Melati dari SDN Model Banyuwangi menempati posisi ketiga dengan 565 poin, disusul Scorpio dari SDN 1 Parangharjo dengan 563 poin dan Tursina Wayfarers dari SD Lazuardi Tursina dengan 560 poin. Papan atas yang rapat membuat kemenangan SDN 8 Sumberagung terasa pantas dirayakan, sekaligus menegaskan bahwa satu jawaban atau satu langkah yang lebih cermat dapat memengaruhi hasil. Persaingan ketat ini menjadi bukti bahwa format misi memberi peluang bagi beragam kemampuan untuk ikut menentukan juara.
Peluang ajang ini perlu diperluas
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi kegiatan yang mengarahkan anak-anak menggunakan teknologi untuk hal positif dan produktif. Ia berharap Digi MR kembali digelar pada tahun berikutnya dengan peserta lebih banyak, termasuk melibatkan sekolah SD/MI di setiap kecamatan. Harapan itu patut didukung: jika semakin banyak sekolah mendapat kesempatan, manfaat belajar di luar kelas tidak hanya dinikmati regu yang sudah ikut. Ipuk juga menekankan bahwa tujuan kegiatan bukan hanya meraih gelar juara, melainkan membangun semangat belajar, kolaborasi, dan kecintaan terhadap Banyuwangi. Pandangan itu tepat, terutama ketika skor pemenang dan peringkat kedua hanya terpaut satu poin. Hasil lomba memang penting, tetapi pengalaman menyelesaikan tantangan bersama seharusnya menjadi bekal yang lebih panjang bagi para peserta.






