Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kemacetan Feri Antarpulau Ancam Rantai Pasokan

Kemacetan Feri Antarpulau Ancam Rantai Pasokan
Minat|Asia Tenggara

Feri antarpulau logistik sebagai urat nadi ekonomi yang mulai tersendat

Feri antarpulau logistik adalah layanan penyeberangan yang mengangkut truk barang, penumpang, dan komoditas utama seperti hasil laut serta produk pertanian antar pulau, sehingga menjadi urat nadi distribusi yang menjaga ketersediaan pasokan, stabilitas harga, dan kelangsungan aktivitas ekonomi di wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut. Lonjakan antrean truk penyeberangan dalam beberapa pekan terakhir mengingatkan bahwa nadi ini bisa tersendat kapan saja. Di lintasan Ketapang–Gilimanuk, arus truk logistik meningkat tajam dan memaksa ASDP manajemen terminal bekerja dalam mode siaga penuh untuk mempercepat penyerapan kendaraan. Di Maluku, khususnya jalur logistik Maluku Seram, pemandangan truk bermuatan hasil laut dan kebun mengular di depan dermaga Waipirit sudah menjadi rutinitas malam. Ini bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan risiko langsung terhadap kualitas barang dan kestabilan rantai pasokan pangan.

Ketapang–Gilimanuk: angka-angka yang mengungkap tekanan di terminal

Ketapang–Gilimanuk adalah contoh telanjang bagaimana feri antarpulau logistik bisa kewalahan ketika volume truk meledak dalam waktu singkat. Sepanjang 27–29 September, tercatat 6.082 unit truk menyeberang di lintasan ini, dengan tren harian naik dari 1.699 menjadi 2.160 dan 2.223 unit. Pada periode yang sama, total 18.067 kendaraan dan 61.330 penumpang ikut dilayani, memperlihatkan kombinasi tekanan antara mobilitas orang dan barang yang menumpuk di terminal. “Fokus kami saat ini mempercepat penyerapan kendaraan dan mengurai antrean secara bertahap,” ujar Direktur Utama ASDP Heru Widodo, menegaskan bahwa prioritas ada pada kelancaran arus logistik tanpa mengorbankan keselamatan pelayaran. Tantangannya tidak hanya bersifat teknis; kondisi air laut surut di Gilimanuk bahkan sempat menghambat proses sandar dan bongkar muat sehingga antrean truk penyeberangan makin rentan memanjang.

Logistik Maluku Seram: ketika antrean malam hari menentukan kualitas ikan dan hasil kebun

Di Maluku, tekanan logistik terasa lebih halus tetapi sama berbahayanya. Tengah malam di Waipirit, truk warna-warni bermuatan hasil laut dan kebun berjejer rapi, menunggu giliran untuk menyeberang ke Hunimua. Barang-barang ini tidak bisa menunggu terlalu lama; kualitas ikan dan hasil kebun degradasinya nyata ketika waktu pengiriman molor. Para calon penumpang dan sopir truk kerap menanti berjam-jam, sengaja datang dini hari untuk mengejar pelayaran pertama pukul 05.00 WIT atau tertahan sejak malam karena tertinggal kapal terakhir pukul 21.00 WIT. Di lintasan Hunimua–Waipirit yang berjarak sekitar 11,5 mil laut, setiap perjalanan ferry adalah napas bagi harga kebutuhan pokok dan aktivitas pasar di dua pulau. Tanpa feri antarpulau logistik yang berjalan andal, roda perekonomian lokal bisa mendadak tersentak, terutama bagi petani dan nelayan yang bergantung pada pengiriman cepat ke kota.

Strategi ASDP: dari pengaturan operasional hingga layanan 24 jam

Respons ASDP terhadap kemacetan ini menunjukkan bahwa manajemen terminal tidak lagi bisa sekadar administratif; harus taktis dan adaptif. Di Ketapang–Gilimanuk, pengaturan operasional dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan kondisi kapal, dermaga, perairan, dan pergerakan kendaraan di kedua sisi pelabuhan. Kapal dan dermaga dioptimalkan, proses sandar dan bongkar muat dipercepat ketika kondisi memungkinkan, sambil tetap mengutamakan keselamatan pelayaran. Di Maluku, cabang Ambon memilih strategi berbeda: layanan 24 jam di lintasan Hunimua–Waipirit setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu, dimulai sejak Juni. Kapal khusus beroperasi dari 23.30 hingga 04.00 WIT sebelum disambung kapal reguler mulai 05.00 WIT. Kebijakan ini membuka ruang perjalanan malam dan dini hari yang lebih fleksibel bagi kendaraan serta distribusi logistik Maluku Seram, mengurangi penumpukan truk dan memberi waktu ekstra bagi pengusaha dan sopir untuk memastikan barang tiba tepat waktu.

Membaca ke depan: kapasitas, rute perintis, dan risiko jika nadi logistik melemah

Langkah ASDP di Maluku memperlihatkan gambaran lebih luas: tanpa penguatan konektivitas antarpulau, seluruh arsitektur ekonomi kepulauan akan rapuh. Saat ini, 11 kapal dioperasikan di wilayah ini, dengan delapan kapal melayani rute dari Ambon ke Buru dan tiga di Maluku Tenggara. Selain layanan 24 jam, ASDP juga mengembangkan 24 lintasan perintis di Maluku, empat di kawasan Ambon, Buru, dan Seram, serta 20 lainnya di Maluku Tenggara. Rute baru Larat–Wunlah–Seira–Saumlaki yang dilayani KMP Temi dua kali sebulan adalah contoh upaya membuka keterisolasian wilayah yang minim akses transport. Perpanjangan operasional hingga dini hari memberi napas baru bagi aktivitas warga, sementara penambahan rute menjaga pulau-pulau kecil tetap terhubung. Jika kapasitas feri antarpulau logistik tidak terus ditingkatkan seiring lonjakan volume truk, risiko kemacetan berkepanjangan dan kerusakan barang akan menjadi ancaman rutin, bukan pengecualian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!