Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mahasiswa KKN Pimpin Edukasi Narkoba Berbasis Desa

Mahasiswa KKN Pimpin Edukasi Narkoba Berbasis Desa
Minat|Kesehatan Mental

Edukasi narkoba remaja: ketika desa menjadi ruang belajar utama

Edukasi narkoba remaja berbasis desa adalah pendekatan pencegahan NAPZA generasi muda yang memusatkan kegiatan sosialisasi bahaya narkoba di lingkungan tempat remaja hidup dan bersekolah, melalui program KKN kesehatan, seminar interaktif, dan media edukatif sederhana yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap, serta menumbuhkan keberanian menolak ajakan penyalahgunaan NAPZA secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, mahasiswa bukan sekadar tamu akademik, melainkan motor perubahan yang menghubungkan ilmu kampus dengan masalah riil di desa. Alih-alih menunggu aparat datang saat krisis terjadi, desa Pilobuhuta di Batudaa dan Desa Bonto Matinggi di Tompobulu menunjukkan bahwa pencegahan bisa dimulai dari aula kantor desa dan ruang kelas SMP. Pendekatan ini layak dipandang sebagai strategi awal yang rasional dan murah dibanding mengobati kerusakan sosial akibat narkoba.

Mahasiswa KKN Pimpin Edukasi Narkoba Berbasis Desa

Dari aula desa ke kelas SMP: dua inisiatif yang saling menguatkan

Di Desa Pilobuhuta, mahasiswa KKNT II Universitas Negeri Gorontalo menggabungkan sosialisasi ketahanan pangan, pencegahan stunting, dan penyalahgunaan narkoba dalam satu rangkaian kegiatan di aula kantor desa pada Kamis 3 September 2026. Ini bukan kebetulan; narkoba tidak pernah berdiri sendiri, ia bersinggungan dengan kemiskinan, gizi buruk, dan rapuhnya ketahanan keluarga. Materi pencegahan penyalahgunaan narkoba disampaikan secara khusus oleh Abdul Galang Albert, memperlihatkan bahwa edukasi narkoba remaja dan warga dewasa dipandang sama pentingnya dengan pangan dan kesehatan ibu-anak. Sementara itu, di Desa Bonto Matinggi, Maros, mahasiswa KKN Tematik Pemberdayaan Desa Universitas Hasanuddin menyasar siswa-siswi SMP PGRI 07 Maros melalui program "Mewujudkan Generasi Desa yang Sehat dan Bebas NAPZA" pada 22 Juli 2026. Kedua contoh ini menegaskan satu hal: desa bukan pinggiran, melainkan arena utama pencegahan NAPZA generasi muda.

Buku saku dan seminar interaktif: alat kecil untuk perubahan besar

Jika banyak program pencegahan narkoba berhenti pada spanduk dan ceramah, inisiatif mahasiswa KKN di Bonto Matinggi memilih jalur yang lebih konkret. Mereka merancang sosialisasi bahaya narkoba dalam format interaktif: siswa diajak memahami pengertian NAPZA, jenis-jenisnya, faktor pendorong penyalahgunaan, tahapan penggunaan, dampak kesehatan dan sosial, serta upaya pencegahan, dengan bahasa sederhana dan komunikatif. Sesi tanya jawab memberi ruang bagi kegelisahan remaja yang selama ini tenggelam di balik stigma. Lebih penting lagi, sebagai bentuk hilirisasi program, mereka menyusun buku saku "EDUKASI BAHAYA NAPZA: Kenali, Pahami dan Jauhi NAPZA untuk Masa Depan yang Lebih Baik" sebagai media edukasi jangka panjang. Menurut laporan kegiatan, "buku saku tersebut disusun sebagai media edukasi yang dapat digunakan siswa untuk memperoleh informasi mengenai bahaya dan pencegahan penyalahgunaan NAPZA secara lebih sederhana".

Remaja sebagai pengganda kesadaran: modal sosial yang sering diabaikan

Mengapa menyasar siswa SMP itu strategis? Karena mereka berada di fase krusial: cukup besar untuk terpapar risiko, namun masih sangat dipengaruhi lingkungan sekolah dan keluarga. Program KKN kesehatan di Maros jelas memposisikan remaja bukan hanya sebagai objek, tetapi calon agen perubahan. Melalui sosialisasi interaktif dan buku saku, siswa diharapkan tidak sekadar memahami bahaya NAPZA, tetapi menjaga diri, berani menolak ajakan, memilih pergaulan sehat, serta mengisi waktu dengan kegiatan positif dan produktif. Secara implisit, ini adalah strategi multiplikator: satu siswa yang tercerahkan berpotensi memengaruhi teman sebaya, adik, dan tetangga. Di Pilobuhuta, harapan agar materi yang disampaikan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat menunjukkan pola pikir serupa. Ketika desa melihat remaja sebagai pelindung masa depan, bukan sekadar kelompok rawan, struktur sosial mulai bergeser ke arah yang lebih sehat.

Dari inisiatif lokal ke gerakan berkelanjutan: apa yang seharusnya dilakukan berikutnya?

Kedua program KKN ini memberikan pelajaran penting: pencegahan NAPZA generasi muda efektif ketika menyatu dengan kehidupan komunitas, bukan datang sebagai kampanye sesaat. Di Pilobuhuta, penyuluhan narkoba ditempatkan berdampingan dengan ketahanan pangan dan pencegahan stunting, dengan harapan materi yang disampaikan dapat diterapkan dan berdampak jangka panjang bagi masyarakat. Di Bonto Matinggi, manfaat berkelanjutan diupayakan melalui pemanfaatan buku saku sebagai media edukasi berulang bagi siswa. Pertanyaannya, apakah desa dan sekolah mau mengadopsi pola ini sebagai program rutin, tidak hanya ketika ada mahasiswa KKN? Sikap publik seharusnya mendukung: memberi ruang bagi mahasiswa untuk bereksperimen, lalu bersama perangkat desa dan guru merajut kelanjutan kegiatannya. Kesimpulannya tegas: tanpa komitmen lokal yang berkesinambungan, edukasi narkoba remaja akan selalu kalah cepat dari peredaran NAPZA; tetapi dengan desa dan sekolah sebagai pusat gerakan, generasi sehat bebas narkoba bukan sekadar slogan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!