Gastronomi sebagai pintu masuk pariwisata: angka besar, risiko besar
Gastronomi pariwisata adalah strategi pengembangan wisata yang menjadikan pengalaman makan—dari bahan baku, cara masak, hingga cerita budaya di balik hidangan—sebagai alasan utama wisatawan datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan uangnya di suatu destinasi. Dalam konteks wisata kuliner Indonesia, ini bukan sekadar soal rasa, tetapi cara menghubungkan dapur lokal dengan ekonomi pariwisata. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 58,34% wisatawan mancanegara yang berkunjung pada 2025 melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi. Angka ini menempatkan gastronomi sebagai aktivitas wisata tertinggi kedua setelah wisata kota, sinyal kuat bahwa makanan sudah menjadi magnet utama. Problemnya, magnet ini belum diarahkan dengan peta jalan yang jelas; ada risiko potensi besar ini hanya menjadi tren sesaat tanpa dampak ekonomi yang berlapis bagi pelaku lokal.
Target 16–17 juta wisman: gastronomi dijadikan mesin pendorong
Kementerian Pariwisata menjadikan gastronomi sebagai salah satu daya tarik utama untuk mengejar target 16–17 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026. Ini bukan ambisi kosong; hingga Januari–Juli 2026, kunjungan wisman sudah mencapai 8,97 juta, tumbuh 5,23% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun keputusan menjadikan makanan sebagai “mesin utama” membawa konsekuensi: pemerintah tidak bisa lagi memperlakukan kuliner sebagai bonus di brosur pariwisata. Pengalaman kuliner dinilai dapat mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan meningkatkan belanja, dengan aktivitas ekonomi yang mengalir ke pelaku usaha dan pemasok bahan pangan lokal. Ini kabar baik bagi restoran kecil, warung, hingga petani dan nelayan. Tetapi tanpa standar kualitas dan narasi yang konsisten, strategi wisata kuliner ini bisa berhenti di level slogan promosi yang cepat dilupakan wisatawan.
Mengapa peta jalan gastronomi menjadi syarat mutlak
Potensi wisata gastronomi Indonesia mulai menemukan pasar lebih luas seiring pergeseran selera wisatawan yang memburu lokalitas. Di sisi lain, perkembangan media digital membuat produk makanan lokal lebih mudah ditemukan dan bahkan menjadi alasan orang merencanakan perjalanan. Di titik inilah kebutuhan peta jalan menjadi krusial. Pemerintah sendiri mengakui perlunya roadmap agar pengembangan gastronomi tidak berhenti pada promosi, melainkan mencakup destinasi, industri, event, dan pemasaran. Tanpa peta jalan, wisata kuliner Indonesia hanya mengandalkan viralitas sesaat, sementara rantai pasok—dari petani, UKM, hingga restoran—tidak pernah naik kelas. Roadmap yang baik seharusnya menjawab: kuliner apa yang diprioritaskan, di destinasi mana, dengan standar kualitas seperti apa, dan siapa yang bertanggung jawab dari hulu sampai hilir. Tanpa jawaban konkret, gastronomi pariwisata akan sulit menjadi strategi, dan hanya berhenti sebagai tren media sosial.
Wonderful Indonesia Gastronomy 2026: langkah awal, bukan garis akhir
Program Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 dirancang sebagai panggung untuk mengangkat warisan kuliner dan memperkuat posisi gastronomi dalam pariwisata. Memasuki tahun kedua, WIG 2026 akan menggali lebih dalam akar kuliner Nusantara sekaligus memperluas promosi di tingkat internasional. Dalam konferensi pers WIG 2026, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri menegaskan bahwa makanan adalah pintu masuk wisatawan untuk mengalami budaya, tradisi, dan cerita destinasi secara langsung. Perhelatan seperti ini menjadi tahap awal untuk menjaring potensi dan memetakan destinasi, industri, dan event gastronomi. Namun WIG tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban. Tanpa tindak lanjut berupa pendampingan pelaku usaha, penguatan indikasi geografis, standar keamanan pangan, dan integrasi dengan paket perjalanan, festival gastronomi hanya akan menjadi kalender acara, bukan motor pertumbuhan. WIG harus diperlakukan sebagai laboratorium kebijakan, tempat menguji model destinasi gastronomi yang bisa direplikasi ke daerah lain.
Dari dapur ke lahan: menghubungkan kuliner tradisional dengan pengalaman wisatawan
Kekuatan utama gastronomi pariwisata terletak pada kemampuan membuka akses wisatawan pada budaya dan tradisi lokal secara mendalam. Menpar Widiyanti menyebut gastronomi sebagai pintu masuk untuk mengalami langsung budaya dan cerita suatu destinasi. Tren global juga bergerak: wisatawan tidak lagi cukup puas mencicipi makanan; mereka ingin tahu asal-usul hidangan, mengunjungi kebun, bahkan bertemu petani. Di beberapa desa wisata, model ini sudah muncul dalam bentuk pengalaman farm-to-table: wisatawan makan di tengah sawah, ikut bertani, memanen, hingga bertransaksi langsung dengan masyarakat. Di sinilah strategi wisata kuliner yang cerdas harus fokus: menjadikan destinasi gastronomi bukan hanya tentang restoran populer, tetapi tentang rantai pengalaman dari kebun hingga meja makan. Jika wisata kuliner Indonesia mampu menyatukan kuliner tradisional wisatawan dengan cerita, ruang, dan manusia di baliknya, maka gastronomi bukan sekadar menu, melainkan mesin pembentuk identitas dan ekonomi pariwisata yang tahan lama.






