Keterampilan digital sebagai bekal usaha
Pemberdayaan ekonomi perempuan disabilitas adalah upaya memperluas keterampilan, akses usaha, dan kesempatan memperoleh penghasilan secara mandiri melalui dukungan yang inklusif. Di Lampung, Srikandi PLN UID Lampung berkolaborasi dengan PLN Peduli melalui program Women Support Women “Berdaya Tanpa Batas” untuk mendukung tujuan tersebut. Program ini diikuti 20 perempuan dari Persatuan Komunitas Disabilitas Lampung (PKDL), yang menerima pembekalan kewirausahaan untuk mengembangkan potensi dan membuka peluang usaha. Nilai program ini bukan hanya pada pelatihan, tetapi pada pengakuan bahwa akses terhadap keterampilan dan pasar perlu dibuka lebih luas. Bagi peserta yang mengembangkan produk kuliner, pemasaran digital dapat membantu mengenalkan produk kepada calon pelanggan di luar lingkaran terdekat. Namun, dampak jangka panjang akan bergantung pada kesempatan menerapkan keterampilan itu setelah kegiatan selesai.
Dari produk kuliner ke pasar daring
Rangkaian kegiatan dibangun dari keterampilan yang bisa langsung digunakan. Sebelum menerima materi lanjutan, peserta telah berlatih membuat siomay dan dimsum. Pembekalan kemudian mencakup pengemasan produk, pemasaran digital, dan pembuatan konten promosi, dengan instruktur dari Rumah BUMN Bandar Lampung. Kombinasi ini penting: produk yang baik perlu kemasan yang layak, sementara pemasaran digital dan konten membantu calon pembeli mengenal serta menemukan produk. PLN berharap peserta dapat meningkatkan kualitas kemasan dan memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pemasaran. Dengan demikian, pelatihan branding digital bukan sekadar soal tampilan daring. Ia perlu menghubungkan identitas produk, mutu, dan cara berkomunikasi dengan pelanggan. Materi yang diberikan menyediakan bekal awal, tetapi manfaatnya akan terasa ketika peserta dapat menggunakannya secara konsisten dalam kegiatan usaha.
Kolaborasi yang melampaui pelatihan
Peran kolaborasi terlihat dari pembagian dukungan yang saling melengkapi: Srikandi PLN UID Lampung dan PLN Peduli menghadirkan program, sementara Rumah BUMN Bandar Lampung memberikan instruktur untuk materi usaha dan digital. Selain pelatihan, Srikandi PLN UID Lampung bersama Rumah BUMN juga memfasilitasi pembuatan Nomor Induk Berusaha bagi komunitas. Langkah ini mendukung legalitas usaha dan membantu menyiapkan pengembangan bisnis yang lebih terarah. Artinya, pemberdayaan tidak berhenti pada motivasi atau keterampilan teknis. Akses terhadap legalitas ikut memberi landasan bagi usaha untuk berkembang. Ketua Srikandi PLN UID Lampung, Dewi Rahmi Putri, menyebut program ini sebagai komitmen memperluas kesempatan perempuan penyandang disabilitas untuk belajar, berkarya, dan mandiri. Pendekatan semacam ini lebih berarti ketika berbagai dukungan terhubung dan peserta memiliki ruang untuk terus berlatih.
Keberlanjutan menentukan dampak
Pelatihan satu kali dapat membuka pintu, tetapi kemandirian ekonomi memerlukan dukungan yang berkelanjutan. Wakil Ketua Harian PKDL, Yunita Viriya, menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini tidak berhenti dan semakin banyak perempuan disabilitas mendapat kesempatan untuk berkembang serta mandiri. Harapan itu layak menjadi ukuran keberhasilan program: bukan hanya jumlah peserta yang hadir, melainkan apakah keterampilan kuliner, pengemasan, dan pemasaran digital terus dipakai untuk mengembangkan usaha. Program ini selaras dengan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan, melalui peningkatan keterampilan dan peluang berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Kesimpulannya, kolaborasi telah memberi peserta bekal yang relevan, dari produk hingga legalitas. Agar bekal itu berubah menjadi kemandirian ekonomi, kesinambungan pendampingan dan akses pasar perlu menjadi langkah berikutnya.






