Operan yang meleset menjadi masalah utama
Akurasi operan dalam sepak bola adalah ketepatan mengirim bola kepada rekan agar sebuah tim dapat mempertahankan penguasaan dan membangun serangan tanpa kehilangan momentum. Dalam laga Persija vs Dewa United, masalah itu terlihat jelas dan ikut membentuk hasil akhir 1-2, sehingga evaluasi Persija semestinya dimulai dari kesalahan yang paling mendasar ini. Persija sempat unggul pada menit keempat lewat Rayhan Hannan, yang menyambut umpan Alexander Jeremejeff. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan: Denilson Pereira Junior menyamakan kedudukan pada menit ke-42, lalu Taisei Marukawa mencetak gol penentu pada menit ke-85. Bagi Rizky Ridho Persija, kekalahan itu bukan semata akibat tekanan lawan. Ia mengakui timnya terlalu sering salah mengoper, termasuk dirinya sendiri. Pengakuan kapten ini tepat sasaran: operan yang keliru merusak alur permainan dan memberi lawan kesempatan mengambil inisiatif.
Kesalahan sendiri mengubah arah pertandingan
Persija bukan tanpa peluang untuk memperbesar keunggulan. Gol Ivan Mamut yang berpotensi membuat skor menjadi 2-0 dianulir karena offside setelah pemeriksaan VAR. Setelah itu, kesalahan koordinasi di lini belakang membantu Dewa United membalas, sementara kartu kuning kedua Dony Tri Pamungkas pada menit ke-66 membuat Persija harus menuntaskan laga dengan sepuluh pemain. Situasi tersebut jelas menyulitkan, tetapi tidak menghapus persoalan yang muncul sebelum kartu itu: kontrol bola dan keputusan mengoper belum cukup rapi. Pelatih Shin Tae-yong pun menilai Persija ikut menyebabkan kekalahannya sendiri, menyoroti peluang yang gagal dikonversi dan kesalahan dalam mengoper. Ini diagnosis yang lebih berguna daripada menyalahkan satu momen saja. Kartu merah mengubah keseimbangan, tetapi mutu permainan sebelum dan sesudahnya tetap layak diperiksa.
Evaluasi harus terlihat pada laga berikutnya
Pengakuan Rizky Ridho bahwa dirinya juga melakukan banyak kesalahan memberi evaluasi ini bobot lebih dari sekadar kritik terhadap rekan setim. Ia meminta tim menjaga fokus agar kesalahan mendasar tidak terulang dan Persija bisa kembali meraih kemenangan. Namun, mengakui masalah baru langkah awal; perbaikannya harus tampak dalam keputusan yang lebih cermat saat mengalirkan bola dan koordinasi yang lebih tenang ketika menghadapi tekanan. Kekalahan ini menjadi bahan introspeksi menjelang jadwal padat, bukan alasan untuk terus terpaku pada hasil di Serang. Persija dijadwalkan menghadapi PSMS Medan di I.League Cup sebelum kembali berlaga di Super League melawan Persebaya Surabaya pada pekan kesembilan. Dua agenda itu akan menguji apakah evaluasi soal akurasi operan Persija benar-benar diterjemahkan menjadi permainan yang lebih disiplin.
Kesimpulan: perbaiki dasar sebelum mengejar hasil
Kekalahan 1-2 dari Dewa United memperlihatkan bahwa Persija mampu memulai laga dengan baik, tetapi belum cukup konsisten menjaga kualitas permainan. Gol cepat tidak banyak berarti jika operan yang salah dan koordinasi yang goyah terus memberi lawan jalan untuk bangkit. Sorotan Ridho dan Shin Tae-yong seharusnya menjadi titik kerja yang konkret: kurangi kesalahan sendiri, tingkatkan akurasi operan, dan pertahankan konsentrasi sepanjang pertandingan. Persija tidak bisa mengubah hasil di Banten, tetapi dapat menentukan apakah kekalahan ini menjadi pelajaran atau pola yang terulang. Ukuran evaluasi paling sederhana pada laga berikutnya bukan sekadar hasil akhir, melainkan apakah tim mampu menguasai bola dengan lebih cermat dan menghindari kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.






