Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

TMMD Ke-129: Jalan Kuat, Rumah Layak, Desa Lebih Berdaya

TMMD Ke-129: Jalan Kuat, Rumah Layak, Desa Lebih Berdaya
Minat|Asia Tenggara

TMMD Ke-129: Manunggal TNI-Rakyat yang Berbuah Nyata

TMMD Ke-129 adalah program terpadu TNI membangun desa yang memadukan pekerjaan infrastruktur jalan, perbaikan rumah dan sarana sosial dengan kegiatan sosial, penyuluhan serta gotong royong warga, sehingga akses, kualitas hunian dan layanan dasar di nagari maupun desa terpencil meningkat sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI-rakyat. Dari sisi substansi, TMMD Ke-129 layak dibaca sebagai pesan politik pembangunan: negara hadir lewat TNI bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan semen, paving, dan pelayanan kesehatan. Di beberapa daerah, penutupan TMMD menandai tercapainya target fisik 100 persen—tidak sekadar angka, tetapi perubahan konkret di jalan desa, musala, rumah warga, hingga akses air bersih. Sikap tegas TNI yang mengukur keberhasilan dengan hasil terpasang di lapangan, bukan spanduk, membuat TMMD Ke-129 menjadi cermin bagaimana infrastruktur desa seharusnya dibangun: cepat, menyentuh kebutuhan, dan diawasi langsung oleh warga yang ikut bekerja.

TMMD Ke-129: Jalan Kuat, Rumah Layak, Desa Lebih Berdaya

Dari Jatirasa ke Buluh Kasok: Jalan Pengerasan sebagai Nadi Ekonomi Desa

Jika ada simbol paling nyata dari TMMD Ke-129, itu adalah badan jalan yang berubah dari tanah dan batu menjadi akses yang bisa dilalui kendaraan dan pejalan kaki. Di Dusun Jatirasa, Desa Gunungmanik, pekerjaan rabat beton direncanakan sepanjang 820 meter dengan lebar 2,5 meter, dan sudah terbangun 690 meter atau 84,14 persen—angka yang menunjukkan percepatan, bukan asal jadi. Pengupasan jalan sepanjang 820 meter lebar 4 meter, pembangunan TPT kanan-kiri, kantong parkir, parit dan terasiring pun sudah mencapai 100 persen. Di Buluh Kasok, pengerasan jalan dikebut dengan pemadatan menggunakan vibro roller, didukung kerja manual dan gotong royong warga; badan jalan yang dulu sulit dilalui kini mulai layak untuk angkutan hasil perkebunan dan aktivitas ekonomi. Di sinilah TMMD Ke-129 membuktikan bahwa jalan pengerasan bukan sekadar proyek fisik, melainkan nadi baru bagi mobilitas warga dan harga diri nagari.

TMMD Ke-129: Jalan Kuat, Rumah Layak, Desa Lebih Berdaya

RTLH, Musala, Air Bersih: Infrastruktur Desa yang Menyentuh Rumah Tangga

TMMD Ke-129 tidak berhenti pada badan jalan; ia masuk sampai ke ambang pintu rumah warga. Di Hulu Sungai Tengah, peningkatan mutu jalan sepanjang 1.250 meter dengan lebar tiga meter—terdiri dari pemasangan paving block 1.167 meter dan penimbunan sirtu 83 meter—disertai rehabilitasi dua unit rumah tidak layak huni (RTLH), perbaikan satu musala, pembangunan MCK, dan satu sarana air bersih. Menurut Dansatgas TMMD Ke-129 Kodim 1002/HST Letkol Inf Ardiansyah Okta Putra Siregar, seluruh sasaran fisik dan nonfisik dilaksanakan 100 persen dan diserahkan kepada pemerintah daerah untuk dimanfaatkan dan dipelihara. Di Buluh Kasok, penutupan TMMD juga meninggalkan karya sosial: penyerahan tujuh unit RTLH, bantuan alat drumband untuk SDN 08, fasilitas olahraga pemuda, tong sampah, hingga pelayanan kesehatan gratis. Ini adalah definisi konkret TNI membangun desa: memperbaiki jalan ke pasar, tetapi juga atap di atas kepala dan ruang ibadah di sudut kampung.

TMMD Ke-129: Jalan Kuat, Rumah Layak, Desa Lebih Berdaya

Pemberdayaan Komunitas: Dari Gotong Royong hingga Penyuluhan Stunting

Kekuatan TMMD Ke-129 bukan hanya alat berat, tetapi jaringan sosial desa yang dihidupkan kembali. Di Jatirasa, Bati Ter Kodim 0615 menegaskan bahwa kemajuan fisik dicapai oleh kerja keras unsur TNI, instansi terkait, dan gotong royong warga setempat—kolaborasi yang menyatukan aparat dan rakyat di satu medan kerja. Di Buluh Kasok, semangat gotong royong antara Satgas dan masyarakat disebut sebagai kekuatan utama percepatan pembangunan jalan. Sementara di Hulu Sungai Tengah, pemberdayaan komunitas hadir melalui pengobatan gratis, pelayanan keluarga berencana, pencegahan stunting, dan berbagai penyuluhan yang menggandeng perangkat daerah dan instansi terkait. Penutupan TMMD di Buluh Kasok pun dirangkai dengan pembagian sembako, santunan 12 anak yatim, dan layanan kesehatan—bukti bahwa pembangunan desa dipahami sebagai urusan tubuh, perut, dan masa depan generasi sekaligus. Dengan pendekatan ini, TMMD Ke-129 menjadikan desa bukan objek proyek, melainkan subjek yang berdaya.

Menjaga Manfaat Jangka Panjang: Tantangan Setelah 100 Persen Tuntas

Target fisik 100 persen di beberapa lokasi TMMD Ke-129 adalah capaian penting, tetapi keberhasilan sejati baru bisa dihitung dari umur manfaat jalan, rumah, dan sarana sosial tersebut. Di Ciniru, harapan disampaikan agar sisa sasaran rabat beton segera tuntas tepat waktu dan menghasilkan konstruksi yang kokoh, awet, dan bermanfaat jangka panjang bagi warga. Di Hulu Sungai Tengah, seluruh hasil pembangunan diserahkan kepada pemerintah kabupaten untuk dimanfaatkan dan dipelihara bersama. Artinya, fase TMMD adalah start, bukan finish. Tanpa pemeliharaan, jalan pengerasan bisa kembali rusak; tanpa penguatan ekonomi lokal, akses baru belum tentu mengubah nasib petani. TMMD Ke-129 sudah memberi contoh bahwa TNI membangun desa dapat memadukan infrastruktur desa dan pemberdayaan komunitas. Tantangannya kini pada pemerintah daerah dan warga: apakah mereka sanggup menjaga, mengembangkan, dan mengisi jalan baru itu dengan aktivitas ekonomi dan sosial yang lebih hidup.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!