Target 1 GW adalah ambisi, bukan kapasitas yang sudah tersedia
Pusat data AI adalah fasilitas komputasi yang dirancang untuk menyediakan kapasitas pemrosesan dan penyimpanan data bagi pengembangan serta pengoperasian kecerdasan buatan. Bagi TelkomGroup, fasilitas ini menjadi fondasi strategis untuk menopang kebutuhan AI, tetapi angka target ekspansi tidak boleh disamakan dengan kapasitas yang sudah berjalan.
Pada 26 Oktober 2026, TelkomGroup bersama Danantara memperkenalkan empat kapabilitas teknologi digital dalam forum DTIIF 2026 di Jakarta, termasuk AI Ready Data Center yang dikelola melalui NeutraDC. Perusahaan menyatakan aspirasi memperluas kapasitas pusat data tersebut hingga 1 GW. Namun, angka itu merupakan sasaran ekspansi, bukan kapasitas operasional saat ini; TelkomGroup juga belum memerinci investasi, tahapan pembangunan, atau jadwal pencapaiannya. Klaim perluasan ini patut dibaca sebagai arah strategis, bukan janji bahwa kapasitas sebesar itu segera tersedia.

NeutraDC Telkom: titik awalnya 48,4 MW
Pembedaan antara skala yang ada dan sasaran masa depan penting bagi siapa pun yang menilai kesiapan Telkom memasuki bisnis komputasi AI. NeutraDC Telkom mengoperasikan kapasitas 48,4 MW per kuartal III-2026 di Indonesia dan Asia Tenggara. Jadi, target 1 GW jauh lebih besar daripada kapasitas yang tercatat saat ini dan menggambarkan rencana pertumbuhan, bukan ukuran fasilitas yang sudah beroperasi.
Telkom menempatkan konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, dan platform AI sebagai fondasi untuk bersaing di pasar global. Langkah itu masuk akal karena kebutuhan komputasi meningkat seiring pemakaian AI meluas dan biaya penggunaan turun. Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyebut biaya per kueri AI turun sekitar 280 kali sejak 2022, sementara penggunaan AI di Google meningkat tujuh kali lipat dalam satu tahun. Tren tersebut memperkuat alasan untuk berekspansi, tetapi juga membuat kejelasan rencana dan pelaksanaan sama pentingnya dengan besarnya target.
Pusat data berskala besar juga membutuhkan pasokan energi dan sistem pendinginan yang andal. Tanpa keduanya, ambisi membangun infrastruktur AI tidak cukup hanya ditopang oleh besarnya kapasitas yang diumumkan.

Pusat data sebagai pilar ekosistem AI
Ekspansi pusat data merupakan salah satu pilar Telkom untuk menangkap peluang industri AI, bukan upaya yang berdiri sendiri. AI membutuhkan konektivitas, daya komputasi, pengelolaan model, serta jalur penerapan dalam kegiatan sehari-hari. Dengan menempatkan pusat data AI sebagai kapabilitas inti, Telkom bertaruh bahwa nilai bisnis akan datang pula dari infrastruktur yang memungkinkan penggunaan teknologi secara luas.
Alasan urgensinya cukup kuat: semakin murah penggunaan AI, semakin besar potensi konsumsi dan kebutuhan kapasitas komputasi. Namun, peluang pasar belum otomatis menjadi keberhasilan bisnis. Target 1 GW baru akan berarti jika pembangunan berlangsung bertahap, didukung energi dan pendinginan yang memadai, serta diikuti permintaan nyata dari pengguna.
Karena itu, ukuran kemajuan yang perlu diperhatikan bukan hanya angka akhir, melainkan pengumuman tentang tahapan kapasitas baru, jadwal, dan kesiapan operasionalnya. Sampai rincian tersebut tersedia, 48,4 MW tetap menjadi angka yang lebih tepat untuk menggambarkan kapasitas NeutraDC yang tercatat, sedangkan 1 GW adalah aspirasi jangka ekspansi.
ModelHub dan IoT melengkapi infrastruktur
Peluncuran TelkomGroup tidak hanya mencakup AI Ready Data Center. Empat kapabilitas yang diperkenalkan juga meliputi AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera. ModelHub dirancang untuk menyediakan akses terpadu ke berbagai model AI, sementara platform IoT ditujukan untuk membantu pemanfaatan data perangkat dalam operasional. Rangkaian ini menunjukkan bahwa strategi Telkom mencakup komputasi, perangkat lunak, dan penerapan teknologi, bukan semata pembangunan gedung pusat data.
Dampaknya bagi masyarakat akan bergantung pada seberapa mudah layanan tersebut digunakan dan seberapa luas manfaatnya menjangkau pelaku usaha. Analitik AI atas data IoT berpotensi membantu meningkatkan efektivitas kegiatan operasional, sedangkan PaDiSera diarahkan untuk memperluas akses pasar bagi UMKM. Ini merupakan bagian yang paling konkret bagi pengguna di luar industri teknologi: infrastruktur bernilai ketika membantu kegiatan usaha dan layanan berjalan lebih baik.
Namun, janji manfaat itu tetap perlu dibuktikan melalui penerapan. Pusat data menyediakan fondasi; platform dan layananlah yang menentukan apakah fondasi tersebut menghasilkan perubahan yang terasa.
Kesimpulan: ukur ambisi lewat pelaksanaan
Ambisi Telkom membangun AI Ready Data Center hingga 1 GW menandai taruhan besar pada pertumbuhan kebutuhan komputasi AI. Kapasitas NeutraDC sebesar 48,4 MW per kuartal III-2026 memberi gambaran posisi operasional saat ini, sedangkan target 1 GW masih merupakan aspirasi ekspansi tanpa rincian jadwal dan tahapan yang diumumkan.
Arah strateginya masuk akal, terlebih ketika AI ModelHub dan National IoT Platform ikut disiapkan untuk melengkapi infrastruktur AI. Tetapi ukuran keseriusan bukan besarnya angka target saja. Telkom perlu menunjukkan kemajuan kapasitas, kesiapan energi dan pendinginan, serta manfaat yang sampai kepada bisnis dan masyarakat. Sampai bukti itu muncul, 1 GW sebaiknya dipandang sebagai tujuan yang menjanjikan—bukan kapasitas yang sudah bisa digunakan.






