Sepatu Lokal Terjangkau sebagai Wajah Baru Inovasi Pendidikan
Inovasi sepatu lokal terjangkau berbahan karet produksi lokal dari BRIN adalah program pengembangan alas kaki sekolah berharga sekitar Rp75 ribu yang dirancang ringan, nyaman, dan ekonomis untuk mendukung kebutuhan siswa Sekolah Rakyat melalui produk lokal berkualitas yang mudah diproduksi massal dan menyasar keluarga berpenghasilan rendah.
Peluncuran sepatu sekolah rakyat ini bukan sekadar proyek mode; ini adalah pernyataan politik tentang arah inovasi BRIN. Di Kompleks Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto melihat langsung sepatu lokal hasil riset tersebut pada Kamis, 6 Agustus 2026. Momen itu menunjukkan bahwa riset terapan bisa turun ke soal paling dasar: sepatu untuk anak sekolah. "Ini semuanya dari karet, harga murah, kurang dari Rp80 ribu," ujar Kepala BRIN Arif Satria. Saat banyak program pendidikan terjebak di tataran slogan, sepatu karet Rp75 ribuan ini menawarkan bukti konkret bahwa teknologi bisa hadir dalam bentuk barang sederhana yang dipakai setiap hari.

Mengapa Sepatu Karet Lokal Bisa Menjadi Game Changer
Kekuatan utama inovasi sepatu sekolah rakyat ini justru ada pada kesederhanaannya. Seluruh produknya menggunakan bahan karet produksi lokal, hasil pengembangan di Serpong, sehingga bisa diproduksi dengan biaya yang ditekan dan harga mulai sekitar Rp75 ribu. Dalam konteks sepatu lokal terjangkau, keputusan memakai karet bukan kompromi, melainkan strategi: bahan mudah diperoleh, proses pencetakan bisa distandardisasi, dan ketahanan relatif tinggi.
Menurut Arif Satria, sepatu ini memiliki bobot ringan dan nyaman digunakan, sekaligus tetap terjangkau dari sisi harga. Artinya, inovasi BRIN pendidikan di sini tidak berhenti di laboratorium. Model dan motif boleh berbeda—harga sekitar Rp75 ribu hingga varian di atas Rp100 ribu—tetapi pesan yang dibawa sama: produk lokal berkualitas tidak harus mahal. Di tengah gempuran sepatu impor dan merek besar, kehadiran sepatu karet lokal ini adalah upaya merebut kembali ruang pasar dengan pendekatan fungsional, bukan sekadar estetika.
Sekolah Rakyat dan Makna Sepatu dalam Akses Pendidikan
Sepatu sering dianggap aksesori, padahal bagi banyak keluarga, ia adalah pengeluaran yang terasa berat. BRIN secara terang menyatakan, pengembangan sepatu ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan alas kaki siswa Sekolah Rakyat. Di sinilah letak nilai moral dari inovasi ini: sepatu sekolah rakyat bukan brand, tetapi instrumen kehadiran di kelas. Tanpa sepatu yang layak, banyak anak akan malu atau bahkan enggan datang ke sekolah.
Permintaan agar BRIN "bikin yang bisa menyelesaikan masalah sepatu" menunjukkan bahwa negara melihat alas kaki sebagai isu pendidikan, bukan sekadar konsumsi. Ketika sepatu lokal terjangkau tersedia, keluarga tidak perlu lagi memilih antara kebutuhan harian dan perlengkapan sekolah. Sepatu karet ringan, nyaman, dan tahan lama memberi rasa aman: orang tua tahu anak mereka punya alas kaki yang layak, sementara siswa bisa berjalan, berlari, dan belajar tanpa rasa waswas. Inilah bentuk nyata inovasi BRIN pendidikan yang menyentuh titik paling praktis dari akses belajar.
Riset Terapan BRIN: Dari Istana ke Pabrik dan ke Kaki Siswa
Pameran di Istana hanya langkah awal. BRIN secara eksplisit menyebut akan mencari dan menggandeng mitra industri agar sepatu ini bisa diproduksi lebih banyak dan menjangkau masyarakat luas. Di sinilah tantangan sesungguhnya: mampu mengubah prototipe menjadi produk lokal berkualitas yang konsisten, murah, dan mudah didistribusikan ke sekolah rakyat di berbagai daerah.
Rangkaian inovasi ini menegaskan komitmen BRIN pada riset terapan yang menyasar kebutuhan dasar masyarakat. Pertemuan 150 peneliti dengan Presiden di Istana memperlihatkan bahwa pekerjaan ilmiah mereka diukur dari sejauh mana mampu membantu menyelesaikan persoalan nasional, termasuk urusan sepatu sekolah. Arah ke depan sudah jelas: sepatu sekolah rakyat harus keluar dari etalase pameran dan benar-benar menapak di jalan becek, jalan berbatu, dan lantai kelas. Jika rantai produksi dan distribusinya berhasil dibangun, sepatu karet Rp75 ribuan ini berpotensi menjadi simbol baru bahwa riset publik bisa dirasakan langsung di kaki setiap siswa.






