Nama yang langsung menjelaskan isi dan cara makan
Jajanan jalanan dengan nama singkatan adalah hidangan yang namanya merangkum bahan, cara memasak, atau cara menyantapnya, sehingga konsumen mendapat petunjuk tentang sajian bahkan sebelum mencicipinya. Batagor merupakan singkatan dari bakso tahu goreng. Nama ini bukan hiasan: batagor biasanya dibuat dari tahu dan adonan ikan yang digoreng sampai bagian luarnya renyah. Setelah matang, potongannya disajikan dengan saus kacang, kecap manis, sambal, dan perasan jeruk limau. Inilah salah satu contoh paling jelas dari asal nama makanan jalanan yang sekaligus berfungsi sebagai gambaran menu. Kata “goreng” juga membedakannya dari bakso tahu kukus yang menjadi cikal bakalnya. Bagi pembeli, nama yang ringkas dan informatif lebih mudah diingat daripada uraian panjang; bagi jajanan, nama itu perlahan menjadi identitas.
Inovasi seorang perantau yang melekat pada Bandung
Sejarah batagor Bandung memperlihatkan bahwa makanan ikonik tak selalu lahir dari rencana besar. Haji Isan, salah satu pelopor batagor di Bandung, berasal dari Purwokerto dan merantau ke kota itu pada 1968. Ia awalnya berjualan bakso tahu kukus di kawasan Gang Situsaeur. Ketika dagangannya tersisa, ia menggoreng bakso tahu tersebut agar tidak terbuang. Ia membagikan hasilnya kepada tetangga; mereka menyukainya dan mulai tertarik membeli. Dari percobaan praktis itu, batagor berkembang dan dikenal masyarakat. Menurut saya, kisah ini membuat nama makanan legendaris tersebut terasa lebih hidup: kata “goreng” bukan sekadar keterangan teknik, melainkan penanda inovasi yang mengubah sisa dagangan menjadi sajian baru. Kini, cara menikmatinya pun bisa disesuaikan dengan selera, termasuk dengan tambahan otak-otak goreng yang disediakan sejumlah penjual.
Singkatan sebagai kreativitas sekaligus identitas lokal
Batagor bukan pengecualian. Banyak jajanan memakai nama yang merangkum bahan atau proses: cilok berasal dari “aci dicolok”, cireng dari “aci digoreng”, sedangkan cimol merujuk pada aci yang dibentuk bulat atau “digemol”. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa singkatan kuliner Indonesia tumbuh dari bahasa sehari-hari, bukan dari permainan kata yang dibuat tanpa hubungan dengan makanannya. Sebuah penelitian yang dibahas dalam sumber mengidentifikasi 63 akronim nama kuliner Nusantara, dengan banyak contoh berasal dari Jawa Barat, khususnya Bandung. Angka itu mengisyaratkan betapa produktifnya kebiasaan menamai jajanan dengan cara kreatif. Nama yang pendek memberi petunjuk, mudah diucapkan, dan gampang melekat dalam ingatan. Itulah sebabnya cerita makanan tradisional tak hanya tersimpan dalam resep, tetapi juga dalam kata-kata yang dipakai untuk memesannya. Nama-nama unik ini membantu jajanan tumbuh menjadi ikon yang dikenali lintas generasi.







