Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Bansos ke Pemberdayaan: Strategi Baru Putus Rantai Kemiskinan

Dari Bansos ke Pemberdayaan: Strategi Baru Putus Rantai Kemiskinan
Minat|Asia Tenggara

Bantuan Sosial Bukan Jawaban, Hanya Bantalan

Pengentasan kemiskinan adalah strategi jangka panjang yang menggabungkan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan pendapatan agar rumah tangga miskin dapat keluar permanen dari kemiskinan antargenerasi dan tidak kembali jatuh ke jurang kerentanan ekonomi saat menghadapi guncangan sosial maupun ekonomi.

Inti pergeseran kebijakan sekarang jelas: bantuan sosial bukanlah solusi, melainkan bantalan sementara. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa "bansos hanya bantalan sementara, jaminan sosial menjadi jaring pengaman saja" dan yang pokok adalah kemandirian masyarakat. Pernyataan ini menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai agenda transformasi, bukan sekadar distribusi bantuan.

Dengan perspektif ini, konsep perlindungan sosial terintegrasi tidak berhenti pada pembagian bantuan. Perlindungan sosial berfungsi menahan kejatuhan, sementara pengentasan kemiskinan mensyaratkan pemberdayaan masyarakat melalui akses kerja, peluang usaha, dan peningkatan pendapatan yang stabil. Tanpa pilar pemberdayaan, bantuan sosial berkelanjutan akan berubah menjadi ketergantungan kronis, bukan jalan keluar.

Dari Bansos ke Pemberdayaan: Strategi Baru Putus Rantai Kemiskinan

Ekosistem Pemberdayaan: Dari Jaring Pengaman ke Tangga Naik

Pemerintah mengusulkan pendekatan baru: membangun ekosistem yang menghubungkan perlindungan sosial dengan pemberdayaan masyarakat. Muhaimin menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup dengan bantuan sosial; masyarakat perlu didorong ke kemandirian melalui ekosistem yang menghubungkan perlindungan sosial, pemberdayaan, lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan peluang usaha.

Ekosistem ini bukan jargon, melainkan arsitektur kebijakan. Ia melibatkan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, industri, perguruan tinggi, serta lembaga filantropi dalam satu jaringan perlindungan sosial terintegrasi. Dunia industri membuka lapangan kerja dan akses ekonomi baru, perguruan tinggi menyuplai pengetahuan dan inovasi, sementara filantropi memperluas jangkauan pada kelompok yang kerap luput dari program formal.

Di dalam kerangka ini, perlindungan sosial tetap penting, tetapi ditempatkan sebagai jaring keamanan dasar. Tujuan akhirnya jelas: rumah tangga miskin berpindah dari posisi penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi yang berdaya. Tanpa ekosistem semacam ini, pengentasan kemiskinan akan terjebak pada siklus program karitatif yang berulang.

Pelajaran dari Jawa Tengah: Progresif, Terukur, dan Konsisten

Jawa Tengah sering dikutip sebagai contoh bahwa strategi progresif bisa menurunkan kemiskinan secara nyata. Muhaimin menyebut upaya pengentasan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah sangat progresif, agresif, inovatif, dan kreatif. Pujian ini bukan basa-basi; ia ditopang angka konkret.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mencatat, tingkat kemiskinan Jawa Tengah yang masih 11,8 persen pada 2021 turun menjadi 9,21 persen dalam lima tahun. Pada Maret 2026, penurunan 0,18 poin dibanding September 2025 membuat sekitar 59,39 ribu penduduk keluar dari kemiskinan. Ini menunjukkan pengentasan kemiskinan bisa bergerak konsisten bila kebijakan terukur, bukan sporadis.

Kunci lain adalah collaborative government: pemerintah provinsi menggandeng pemerintah pusat, kabupaten/kota, BUMN, BLUD, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pendekatan ini mengubah pengentasan kemiskinan dari program sektoral menjadi proyek bersama lintas aktor. Tanpa kolaborasi, angka-angka tersebut hampir mustahil tercapai.

Intervensi Satu Keluarga Utuh: Pemberdayaan yang Nyata, Bukan Slogan

Pendekatan Jawa Tengah juga menarik karena menyasar keluarga miskin sebagai satuan intervensi utuh. Gubernur Ahmad Luthfi menekankan bahwa masyarakat miskin ekstrem tidak hanya dibantu rumahnya; sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan mereka ditangani bersama-sama. Ini sejalan dengan gagasan perlindungan sosial terintegrasi yang tidak memisahkan kebutuhan dasar dari peluang ekonomi.

Data menunjukkan sekitar 270 ribu rumah tidak layak huni telah ditangani melalui kolaborasi berbagai sumber pembiayaan sepanjang 2025. Dari sekitar 1,2 juta keluarga penerima Program Keluarga Harapan, 46.542 keluarga telah lulus atau keluar dari jerat kemiskinan. Di sisi lain, realisasi investasi yang menyerap 257 ribu tenaga kerja memperkuat jalur transisi dari penerima bantuan menjadi pekerja atau pelaku usaha.

Pemerintah provinsi kemudian menyesuaikan intervensi dengan karakteristik wilayah: daerah pesisir, kawasan pertanian, lahan kering, hingga perbukitan mendapat penanganan berbeda agar program tepat sasaran. Gubernur menegaskan kebijakan harus bergeser dari sekadar bantuan sosial ke pemberdayaan berkelanjutan, dengan fokus pada daya saing sesuai potensi wilayah. Di sinilah pemberdayaan masyarakat berhenti menjadi slogan dan menjelma praktik kebijakan.

Menuju Nol Persen Kemiskinan Ekstrem: Integrasi Kebijakan atau Gagal Total

Pemerintah menetapkan target ambisius: kemiskinan ekstrem ditekan sampai nol persen pada 2026 dan angka kemiskinan turun menjadi lima persen pada 2029. Target ini tidak mungkin tercapai dengan pola lama yang bertumpu pada bansos musiman. Ia menuntut integrasi kebijakan sosial, ekonomi, dan pemberdayaan lokal dalam satu kerangka pengentasan kemiskinan yang konsisten.

Di tingkat daerah, Jawa Tengah menjadi laboratorium kebijakan. Selain memperkuat investasi dan lapangan kerja, pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran sekitar Rp2,65 triliun untuk penanganan kemiskinan pada 2026. Di tingkat nasional, Muhaimin mendorong penguatan ekosistem yang menyatukan pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan filantropi dalam kerja bersama lintas sektor.

Garis besarnya tegas: perlindungan sosial tetap dibutuhkan sebagai bantalan, tetapi orientasi utama harus bergeser ke pemberdayaan masyarakat dan kemandirian ekonomi. Tanpa pergeseran ini, bantuan sosial berkelanjutan akan menjadi candu fiskal dan politik. Dengan integrasi kebijakan dan kolaborasi luas, rantai kemiskinan bukan hanya bisa diputus sesaat, tetapi dihapus dari generasi berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!