Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan SDM Jadi Kunci Sukses Adopsi AI di Perusahaan

Pelatihan SDM Jadi Kunci Sukses Adopsi AI di Perusahaan
Minat|Analisis Data AI

AI Mengubah Peta Kerja: Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi SDM

Pelatihan SDM AI adalah rangkaian program terstruktur untuk membekali karyawan dengan pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir baru agar mampu menggunakan, berkolaborasi, dan mengambil keputusan berbasis kecerdasan buatan dalam pekerjaan sehari-hari, sekaligus menyiapkan organisasi menghadapi perubahan struktur kerja dan kebutuhan talenta jangka panjang.

AI sudah mengubah cara manusia bekerja: tugas yang dulu memakan waktu berjam-jam kini selesai dalam hitungan menit dengan bantuan teknologi. Namun, adopsi AI perusahaan tersendat bukan karena kurangnya perangkat, melainkan kesiapan SDM yang tertinggal. AI & Data Managing Director Budi Ono menegaskan bahwa adopsi AI di perusahaan tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga kemampuan sumber daya manusia dalam memanfaatkannya. Tanpa pelatihan SDM AI yang serius, perusahaan hanya menambah alat, bukan produktivitas. Sementara itu, IMF memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di seluruh dunia terpapar pengaruh AI. Ini bukan sekadar tren teknologi; ini pergeseran struktural pasar kerja. Pertanyaannya: apakah perusahaan siap mengubah cara mengelola dan mengembangkan talenta, atau tetap berharap karyawan belajar sendiri sambil jalan?

Pelatihan SDM AI: Dari Rasa Takut Menjadi Produktivitas

Di banyak organisasi, hambatan terbesar adopsi AI perusahaan adalah psikologis: karyawan tidak percaya diri, takut salah, dan merasa AI akan menggantikan mereka. Budi Ono mengakui bahwa tidak semua karyawan merasa percaya diri ketika memakai AI dan banyak yang masih takut saat pertama kali menggunakan perangkat tersebut. Menyediakan teknologi tanpa pendampingan hanya memperlebar jurang antara strategi manajemen dan kenyataan di lapangan.

Di sinilah pelatihan SDM AI menjadi penentu. Program skill enablement yang terstruktur—bukan sekadar workshop sekali datang—membantu karyawan memahami kapan, bagaimana, dan untuk apa AI digunakan dalam konteks pekerjaan mereka. Budi menekankan bahwa perusahaan yang memberikan pelatihan AI kepada karyawannya berpeluang memperoleh peningkatan produktivitas dibandingkan perusahaan yang hanya menyediakan perangkat tanpa arahan. Artinya, pelatihan bukan biaya tambahan, melainkan investasi produktivitas. Perusahaan yang mengabaikan reskilling karyawan akan tertinggal dua langkah: kalah cepat secara operasional dan kehilangan kepercayaan karyawan yang merasa dibiarkan menghadapi perubahan sendirian.

Asesmen Berbasis AI dan Perencanaan Talenta: Siapa Siap Dipromosikan?

Jika pelatihan menjawab pertanyaan “bagaimana karyawan belajar AI?”, maka asesmen berbasis AI menjawab “siapa yang siap memimpin di era AI?”. Pemanfaatan AI dalam proses asesmen SDM membantu perusahaan meningkatkan efisiensi dan memperoleh informasi lebih mendalam mengenai kemampuan serta kesiapan karyawan. Ini bukan sekadar tes online; ini cara baru membaca potensi dan perilaku kerja.

Sistem seperti PortrAI, sebuah AI-enabled Assessment Center, dikembangkan untuk mendukung identifikasi talenta, asesmen kepemimpinan, promosi jabatan, hingga perencanaan suksesi. Teknologi ini mengumpulkan dan menganalisis bukti perilaku melalui simulasi kerja interaktif, lalu menghasilkan informasi tentang respons dan pengambilan keputusan peserta dalam situasi tertentu. Dengan demikian, perencanaan talenta AI menjadi lebih berbasis data, bukan sekadar intuisi atasan. Namun, AI tidak boleh sepenuhnya menggantikan penilaian manusia; validitas metode dan objektivitas tetap krusial. Perusahaan yang serius pada masa depan talenta akan menggabungkan asesmen berbasis AI dengan penilaian manusia untuk mengurangi risiko salah pilih pemimpin—karena kesalahan di level ini bisa mengganggu keberlanjutan bisnis.

Pergeseran Demand Talenta: Sinyal Keras untuk Junior dan Lulusan Baru

Kekhawatiran anak muda bahwa AI akan mempersempit peluang kerja bukan isapan jempol. Pertanyaan apakah kemajuan AI akan mengurangi kesempatan kerja bagi anak muda, terutama lulusan baru, kini menjadi persoalan nyata. IMF dan Bank Dunia bahkan memperingatkan potensi gangguan AI terhadap pasar tenaga kerja, khususnya bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan pertama.

Contoh konkret datang dari laporan internal sebuah laboratorium AI besar: di departemen teknis, porsi perekrutan junior turun dari 27% menjadi 9%. Porsi junior di antara karyawan teknis juga bergeser dari 21% ke 14% sejak awal 2025. Pada saat yang sama, jam kerja agen AI—program yang menjalankan tugas secara mandiri—pada Maret 2026 untuk pertama kalinya melampaui jam kerja manusia, dan pada Agustus mencapai enam kali lipat. Penurunan terkonsentrasi pada peran yang memakai AI untuk tugas-tugas paling kompleks. Ini sinyal keras: struktur kebutuhan talenta berubah. Perusahaan lebih mencari profil berpengalaman dan karyawan yang mampu bekerja berdampingan dengan AI, bukan sekadar mengisi posisi entry-level rutin.

Reskilling Terstruktur: Jawaban atas Kecemasan dan Strategi Jangka Panjang

Di tengah perubahan ini, kecemasan generasi muda yang sedang berjuang mendapatkan pengalaman kerja patut diperhatikan. Tanpa strategi reskilling dan upskilling yang terstruktur, AI akan memperlebar kesenjangan antara mereka yang punya akses pelatihan dan yang tertinggal. Laporan ketenagakerjaan di laboratorium AI tadi bahkan menyerukan perlunya kebijakan publik tentang pelatihan dan dukungan pendapatan yang mendampingi langkah perusahaan.

Reskilling karyawan tidak bisa lagi diperlakukan sebagai program tambahan. Perusahaan perlu merancang jalur belajar yang jelas: dari pengenalan AI dasar, penggunaan alat dalam tugas harian, hingga pengembangan kompetensi baru yang relevan dengan peran masa depan. Program seperti ini harus dihubungkan dengan perencanaan talenta AI: siapa yang disiapkan untuk promosi, siapa yang dialihkan ke peran baru, dan siapa yang membutuhkan dukungan lebih intensif. Menariknya, perusahaan AI besar sudah mulai terlibat dalam koalisi nirlaba untuk mendukung pekerja dalam transisi menuju AI. Pesannya tegas: masa depan kerja bukan soal mengganti manusia dengan mesin, melainkan seberapa cepat organisasi dan pekerjanya belajar ulang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!