Pangan lokal bernilai tinggi lahir dari pekarangan dan tangan perempuan desa
Pangan lokal bernilai tinggi adalah olahan komoditas sehari-hari seperti ubi, pisang, dan singkong yang diproduksi dengan resep terstandar, proses higienis, kemasan menarik, serta identitas cerita yang kuat, sehingga mampu bertransformasi dari bahan konsumsi rumah tangga menjadi produk siap jual yang memberi nilai tambah ekonomi bagi keluarga dan komunitas perempuan desa. Agenda Uji Coba Resep Pangan Lokal pada Sabtu 5 September 2026 bersama Tim 3 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga menjadi titik balik penting bagi perempuan di Kampung Disey dan Kampung Prafi Mulya. Program pendampingan universitas ini tidak berhenti pada mengajari cara memasak, tetapi membangun cara pandang baru: ubi ungu olahan, pisang tanduk produk, dan singkong bukan lagi sekadar bahan pangan murah, melainkan aset usaha. Ketika kader posyandu mulai memandang pekarangan sebagai “dapur bisnis”, mereka sedang menggeser posisi dari penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi lokal. Inilah inti pemberdayaan perempuan desa yang sering diabaikan: menguasai rantai nilai pangan dari kebun hingga ke pasar.

Ubi ungu dan pisang tanduk: dari konsumsi harian menjadi identitas usaha Disey
Di Kampung Disey, ubi ungu dan pisang tanduk yang dulu hanya dikonsumsi sendiri atau dijual mentah berubah menjadi risol mayo ubi ungu dan keripik pisang tanduk coklat. Ini bukan sekadar pergantian bentuk camilan, melainkan lompatan nilai. Kedua olahan ini dirancang sebagai pangan lokal bernilai tinggi: resep terstandar, higienis, tahan lama, dan siap dipasarkan sebagai produk rumahan yang serius. Ketua tim, Dr Muthmainnah, menegaskan bahwa komoditas lokal harus berpadu dengan selera pasar modern tanpa mengorbankan kebersihan dan ketaatan resep. Pendampingan tidak hanya mengajarkan teknik membuat risol ubi ungu olahan dan keripik pisang tanduk produk, tetapi juga pemilihan bahan baku, pengemasan, hingga penentuan harga jual. Anggota tim, Anggun Anggifosari, menggarisbawahi kekuatan narasi: produk ini membawa cerita tentang kekayaan pangan dan kreativitas perempuan Kampung Disey. Ketika cerita dan mutu bertemu, lahirlah merek lokal yang berpeluang menembus pasar lebih luas, bukan lagi camilan rumahan tanpa identitas.
Pisang dan singkong Prafi Mulya: sekolah bisnis kecil di dapur kader
Kampung Prafi Mulya memperlihatkan bahwa pisang dan singkong mampu naik kelas ketika perempuan diberi ruang belajar dan memimpin. Melalui program uji coba resep pangan lokal pada tanggal yang sama, Kelompok Kader 1 belajar menyulap hasil pekarangan menjadi sale pisang, lemet singkong, keripik pisang, dan keripik singkong bernilai jual tinggi. Di dapur kader, proses ini lebih mirip sekolah bisnis kecil daripada kegiatan masak biasa. Kader dilibatkan aktif menguji rasa, tekstur, tingkat kerenyahan, dan ketahanan produk sebelum dipasarkan. Surma Elisa menekankan bahwa kepercayaan konsumen bergantung pada proses yang higienis dan bahan bermutu, sementara Widyasari menyoroti pentingnya takaran dan standar ukuran. Anggun kembali mengingatkan pentingnya storytelling tentang potensi lokal dan pemberdayaan perempuan desa di balik setiap bungkus camilan. Ketika standar resep, mutu, dan cerita berjalan bersama, pisang dan singkong tidak lagi dipandang sebagai bahan murah, tetapi sebagai basis usaha pangan lokal bernilai tinggi yang menjanjikan kemandirian ekonomi.

Lebih dari sekadar camilan: peta jalan pemberdayaan dan SDGs
Pendampingan universitas kepada kelompok kader di Disey dan Prafi Mulya memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan desa tidak cukup lewat pelatihan sesaat; perlu peta jalan yang jelas dari resep hingga pasar. Program ini sengaja diarahkan menjadi rintisan usaha rumah tangga yang higienis, tahan lama, dan terhubung dengan identitas kampung. Ke depan, hasil uji coba akan difinalisasi menjadi standar operasional produksi, penentuan harga jual, identitas merek, dan pemasaran digital. Inisiatif ini juga sejalan dengan berbagai target pembangunan berkelanjutan: kesetaraan gender, pekerjaan layak, tanpa kelaparan, kehidupan sehat, konsumsi bertanggung jawab, dan kemitraan lintas pihak. Satu kutipan yang pantas diulang adalah harapan Dr Muthmainnah: bahan pangan dari kebun sendiri diolah oleh tangan kader, dipasarkan dengan identitas khas Prafi, dan hasilnya kembali ke kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain, setiap risol ubi ungu olahan atau keripik pisang tanduk produk bukan hanya camilan sehat tradisional, tetapi simbol kemandirian ekonomi dan keberlanjutan pangan lokal.
Kesimpulan: ketika dapur perempuan menjadi pusat ekonomi desa
Transformasi ubi ungu, pisang tanduk, pisang, dan singkong menjadi olahan pangan lokal bernilai tinggi menunjukkan bahwa pusat ekonomi desa bisa lahir dari dapur perempuan, bukan dari proyek besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Pendampingan universitas memberi alat: resep baku, higiene, pengemasan, harga, dan narasi. Perempuan kader memberi ruh: tenaga, pengalaman, dan keinginan mengubah komoditas pekarangan menjadi peluang usaha. Jika program ini berlanjut hingga tahap merek kuat dan pemasaran konsisten, Kampung Disey dan Prafi Mulya berpeluang dikenal bukan hanya sebagai penghasil bahan baku, tetapi sebagai sentra camilan sehat tradisional berbasis ubi ungu olahan dan pisang tanduk produk. Pemberdayaan perempuan desa, dalam bentuk paling konkret, adalah ketika mereka menguasai rantai nilai pangan dari kebun sampai ke pasar, dan pendapatan kembali mengalir ke meja makan keluarga.






