Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Anak Perlu Tahu Cara Menyelamatkan Diri Saat Gempa dan Banjir

Anak Perlu Tahu Cara Menyelamatkan Diri Saat Gempa dan Banjir
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Kesiapsiagaan harus menjadi pengetahuan dasar anak

Edukasi kesiapsiagaan bencana bagi anak adalah pembelajaran praktis tentang cara mengenali bahaya, melindungi diri, dan meminta bantuan ketika gempa atau banjir terjadi. Pengetahuan ini bukan pelajaran tambahan: ketika keadaan darurat datang, anak yang tahu langkah awal lebih mungkin bertindak terarah daripada panik atau berlari tanpa tujuan. Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Medan, Airin Rico Waas, mengajak anak-anak mempelajarinya saat menghadiri Sosialisasi Penanggulangan Bencana di Sekolah di Yayasan Pendidikan Harapan Mandiri, Medan, Jumat (30/10/2026). Dorongan itu tepat waktu. Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga risiko gempa perlu dihadapi dengan kesiapan, bukan sekadar peringatan. Edukasi bencana anak juga perlu menjangkau keadaan yang dekat dengan keseharian mereka: bumi berguncang atau air mulai memasuki rumah dan lingkungan.

Anak Perlu Tahu Cara Menyelamatkan Diri Saat Gempa dan Banjir

Langkah konkret lebih penting daripada rasa takut

Untuk keselamatan anak gempa, arahan yang sederhana dan berulang lebih berguna daripada penjelasan yang menakut-nakuti. Dalam sosialisasi itu, anak-anak diajari tetap tenang, berlindung di bawah meja kokoh, melindungi kepala dan leher, lalu berpegangan sampai guncangan berhenti. Setelah keadaan memungkinkan, mereka harus mengikuti arahan guru untuk keluar dan menuju titik kumpul. Jalur evakuasi dan lokasi berkumpul juga perlu dikenali sebelum keadaan darurat, bukan dicari saat semua orang sedang panik. Untuk banjir, pesannya sama jelasnya: jauhi genangan berbahaya, jangan bermain di sekitar banjir, dan segera meminta bantuan guru atau orang dewasa saat melihat tanda bahaya. Anak perlu tahu bahwa air yang masuk ke rumah atau lingkungan bukan ajakan untuk mendekat, melainkan tanda untuk mencari bantuan dan mengikuti arahan orang dewasa.

Posyandu dapat membawa edukasi keluar dari sekolah

Menempatkan posyandu edukasi bencana dalam upaya perlindungan masyarakat masuk akal karena kesiapsiagaan tak cukup diajarkan dalam satu acara sekolah. Peran Posyandu kini melampaui layanan kesehatan ibu dan anak, dengan dukungan pada enam bidang pelayanan dasar, termasuk ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat. Airin menekankan bahwa keluarga, sekolah, masyarakat, dan Posyandu perlu terlibat bersama. Pembagian peran ini penting: sekolah dapat melatih prosedur evakuasi, keluarga mengulang kebiasaan aman di rumah, sedangkan Posyandu bisa memperluas pesan kepada masyarakat. Pencegahan banjir pun dapat dikenalkan lewat tindakan sehari-hari, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan begitu, edukasi tidak berhenti sebagai teori atau acara seremonial, tetapi menjadi kebiasaan yang dapat dipraktikkan anak dan orang dewasa.

Ukuran keberhasilan adalah kebiasaan yang terbentuk

Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana di Medan direncanakan menjangkau 10 sekolah pada 2026, lalu dilanjutkan ke tingkat Kelurahan Tangguh Bencana. Cakupan itu memberi titik awal, tetapi jumlah kegiatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Anak perlu berlatih mengenali jalur keluar, memahami kapan harus berlindung, dan tahu siapa yang harus dimintai bantuan. Sekolah juga perlu memastikan latihan mengikuti arahan guru dan tidak mendorong anak mengambil risiko untuk menolong orang lain. Airin berharap sosialisasi membentuk kebiasaan tanggap bencana dalam kehidupan sehari-hari. Harapan itu seharusnya menjadi tolok ukur: apakah anak mampu mengingat langkah aman dan menerapkannya ketika dibutuhkan, bukan sekadar mengulang materi setelah acara selesai.

Kesimpulannya, anak tidak perlu dibebani rasa takut, tetapi mereka perlu dibekali tindakan yang jelas untuk menghadapi gempa dan banjir. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan Posyandu sama-sama harus membuat pengetahuan tersebut mudah diingat dan rutin dilatih. Kesiapsiagaan sejak dini bukan jaminan bencana dapat dicegah; ia memberi anak bekal untuk mengambil langkah lebih cepat dan tepat saat bahaya datang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!