Datangnya Giuseppe Garibaldi: Lompatan Kapabilitas, Bukan Sekadar Kapal Baru
Kapal induk Giuseppe Garibaldi adalah kapal induk ringan bekas Angkatan Laut Italia yang dihibahkan, yang menjadi kapal induk pertama di jajaran Angkatan Laut Indonesia dan menandai lompatan kapabilitas, modernisasi armada, serta perubahan cara pandang terhadap pertahanan maritim Indonesia dari sekadar penjaga pantai menjadi kekuatan laut yang mampu menggelar operasi udara dan laut terpadu pada skala yang jauh lebih luas.
Giuseppe Garibaldi memasuki perairan nasional setelah berlayar dari Italia sejak 25 Agustus dan dijadwalkan tiba di Jakarta pada Jumat, 18 September, sebuah perjalanan 25 hari yang menggambarkan jarak jelajah dan ketahanan operasional kapal ini. Kehadirannya bukan peristiwa seremonial; kapal induk ini dikawal dua fregat kelas Brawijaya dan dua pesawat udara CN-235 serta NC-212 saat memasuki Alur Laut Kepulauan I, sinyal jelas bahwa Angkatan Laut Indonesia memperlakukan kedatangannya sebagai peristiwa strategis, bukan barang hibah yang datang tanpa rencana. Ini adalah pernyataan niat: negara ingin dilihat sebagai pemain laut serius.

Jejak Panjang NATO di Atas Geladak Garibaldi
Sebelum bersulih nama menjadi KRI Sriwijaya di bawah bendera Angkatan Laut Indonesia, kapal induk Giuseppe Garibaldi adalah tulang punggung Angkatan Laut Italia dan mitra setia NATO. Diluncurkan pada 11 Juni 1983, kapal ini beroperasi di berbagai front konflik: Somalia, Yugoslavia dan Kosovo, Afghanistan, Lebanon hingga Libya. Pengalaman tempur dan kemanusiaan ini adalah nilai tak ternilai yang ikut ‘diimpor’, sesuatu yang jauh melampaui baja dan mesin.
Dalam operasi Restore Hope di Somalia pada 1992–1993, kapal ini digunakan PBB untuk mengamankan distribusi bantuan kemanusiaan, memperlihatkan kapasitas dual-use antara kekuatan militer dan misi kemanusiaan. Kemudian, Garibaldi hadir dalam konflik Afghanistan (2001), Lebanon (2006), dan Libya (2011), serta Operasi SOPHIA di Laut Mediterania untuk menghentikan penyelundupan manusia (2015–2017). Sang komandan Flavio Biaggi bahkan menegaskan bahwa kapal ini adalah bentuk efisiensi investasi publik yang berkontribusi pada keamanan dan kerja sama internasional, sebuah kalimat yang seharusnya menjadi kompas etis pemanfaatannya di tangan baru.

Dari Kapal Induk Italia ke Pangkalan Drone Terapung
Secara fisik, kapal induk Giuseppe Garibaldi adalah platform besar: bobot lebih dari 10 ribu ton, panjang 180,2 meter, dengan berat total saat muatan penuh hingga 13.850 ton. Mesin utamanya menghasilkan daya 60.400 kW—sekitar 81.000 HP—yang memungkinkannya melaju hingga 30 knot dengan jarak jelajah sekitar 7.000 mil laut. Angka-angka itu menempatkannya sebagai kapal yang mampu beroperasi jauh dari pangkalan, kemampuan yang jarang dimiliki kapal lain di armada.
Di era Italia, kapal ini membawa helikopter EH101, SH90A, AB212 dan jet AV-8B Harrier II Plus. Di tangan Angkatan Laut Indonesia, fungsinya akan digeser menjadi pangkalan terapung untuk drone tempur dan helikopter. Transformasi ini penting: alih-alih memaksa diri mengejar konsep kapal induk pesawat tempur mahal, negara memilih jalur pragmatis—memaksimalkan platform lama untuk teknologi baru seperti 60 drone taktis Bayraktar TB3 dan 9 drone berat Akinci yang tengah dijajaki dari Turki. Ini langkah cerdas, asalkan ekosistem logistik, pelatihan, dan doktrin ikut diperbarui.

Modernisasi Pertahanan Maritim dan Dampak bagi Warga
Panglima TNI Agus Subiyanto meninjau langsung kapal ini saat bersandar di Dermaga 107 Tanjung Priok, didampingi Kepala Staf Angkatan Laut. Kunjungan itu bukan sekadar cek fisik, melainkan evaluasi bagaimana kapal induk Giuseppe Garibaldi bisa dipadukan dengan struktur armada nasional dan kebutuhan operasi nyata. Kapal ini diharapkan memperkuat upaya memodernisasi TNI Angkatan Laut di tengah dinamika keamanan maritim yang terus berkembang, agar kedaulatan, kekayaan alam, dan keselamatan pelayaran dapat dijaga lebih efektif.
Bagi warga, manfaatnya hadir terutama lewat Operasi Militer Selain Perang. Setelah serah terima, kapal ini akan dipakai untuk Operasi Militer Perang dan OMSP, namun fokus penggunaan disebut akan lebih banyak pada penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan. Panglima TNI menekankan dukungan untuk penanggulangan bencana alam, evakuasi, dan penyaluran bantuan kemanusiaan di wilayah kepulauan yang luas. Artinya, ketika bencana besar melanda, kapal ini dapat menjadi rumah sakit mengapung, pusat komando, sekaligus jembatan logistik, bukan sekadar simbol kekuatan militer kawasan.
Antara Ambisi Blue Water Navy dan Tugas Rumah yang Menanti
Bagi Angkatan Laut Indonesia, kapal induk Giuseppe Garibaldi dipandang sebagai instrumen diplomasi pertahanan yang bisa mengantar menuju kelas blue water navy—angkatan laut yang mampu beroperasi lintas samudra secara global. Namun ambisi itu datang dengan pekerjaan rumah: membangun budaya operasi dek penerbangan, kemampuan pemeliharaan kapal besar, serta interoperabilitas dengan kapal pengawal dan sistem udara nirawak baru. Tanpa itu semua, kapal ini berisiko menjadi monumen yang lebih sering difoto daripada digunakan optimal.
Hubungan pertahanan dengan Italia sekaligus mendapatkan napas baru melalui hibah ini, menunjukkan bahwa diplomasi militer yang konsisten dapat menghasilkan dukungan nyata untuk peningkatan kemampuan pertahanan. Ke depan, pertanyaannya sederhana namun menuntut jawaban serius: apakah negara sanggup menginvestasikan waktu, anggaran pemeliharaan, dan disiplin organisasi untuk menjadikan Garibaldi—atau KRI Sriwijaya—sebagai pusat gravitasi pertahanan maritim Indonesia, bukan sekadar trofi di dermaga. Jika jawabannya ya, maka kedatangan kapal ini akan tercatat sebagai titik balik, bukan catatan kaki dalam sejarah kekuatan militer kawasan.






