Pelatihan praktis harus menjawab kebutuhan kerja
Pelatihan vokasi adalah pembelajaran kerja yang membekali peserta dengan keterampilan praktis agar dapat memenuhi kebutuhan dunia kerja atau menjalankan usaha sesuai kompetensinya. Nilainya tidak hanya terletak pada materi, tetapi pada seberapa nyata keterampilan itu membuka jalan menuju penghasilan dan pekerjaan.
Kemnaker menjalankan pendekatan tersebut di dua daerah dengan sasaran dan susunan program berbeda. Di Pulau Simeulue, Aceh, puluhan pencari kerja mengikuti pelatihan yang menitikberatkan keahlian terapan. Sementara itu, Pelatihan Berbasis Kompetensi Non-Batch 5 di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Banyuwangi dibuka pada 19 Oktober 2026 dan diikuti 68 peserta. Perbandingan keduanya menunjukkan bahwa pelatihan kerja dapat dirancang untuk kebutuhan lokal sekaligus ragam kompetensi yang lebih luas. Namun, hasilnya akan bergantung pada kemampuan peserta menerapkan keterampilan dan menghubungkannya dengan lowongan atau peluang usaha.
Simeulue mengutamakan keterampilan yang bisa langsung dipakai
Program di Simeulue menampung 64 peserta dalam empat kelas, masing-masing berisi 16 orang. Materinya mencakup menjahit pakaian, pengelasan, teknologi informasi dan komunikasi, serta perawatan mesin pendingin ruangan atau AC. Pilihan ini memberi peserta jalur keterampilan yang konkret: pekerjaan teknis, layanan perawatan, produksi pakaian, maupun tugas terkait teknologi informasi.
Durasi kelas menjahit, las, dan TIK masing-masing 26 hari, sedangkan perawatan AC berlangsung 18 hari. Program dibiayai APBN dan ditujukan sebagai langkah strategis bagi pencari kerja di pulau terluar. Peserta juga memperoleh seragam, makan siang, serta pengganti transportasi Rp50 ribu per hari. Dukungan ini penting agar biaya mengikuti pelatihan tidak menjadi penghalang bagi warga. Kepala UPTD Balai Latihan Kerja Simeulue, Rasmin, berharap lulusan dapat terserap di industri nasional atau perusahaan lokal, sekaligus membuka usaha mandiri. Arah itu masuk akal, tetapi peluangnya akan lebih kuat bila keterampilan yang diajarkan bertemu dengan permintaan nyata dari pemberi kerja dan pelanggan setempat.
Banyuwangi menawarkan pilihan kompetensi lebih beragam
Di Banyuwangi, 68 peserta dibagi ke lima program: servis sepeda motor injeksi untuk 18 orang, pembuatan konten visual media sosial untuk 20 orang, Practical Office tingkat lanjut untuk 13 orang, pembuatan espresso dan latte art untuk sembilan orang, serta Internet of Things untuk delapan orang. Keragaman ini membentang dari layanan otomotif dan administrasi hingga ekonomi kreatif, kuliner, dan teknologi terhubung.
Berbeda dari Simeulue yang berfokus pada empat bidang keterampilan terapan, Banyuwangi memberi peserta lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan minat dengan jalur kerja. Peluang yang disebutkan berkaitan dengan kompetensi masing-masing: servis kendaraan, produksi konten, pekerjaan perkantoran, usaha atau layanan kopi, dan bidang IoT. Pembukaan pelatihan disertai Vokasi Connect serta sesi pemahaman pasar kerja, termasuk cara membaca kebutuhan pekerjaan dan menyusun langkah karier. Peserta juga diperkenalkan pada layanan SIAPkerja, seperti informasi lowongan, sertifikasi, pemagangan, pelatihan, dan program tenaga kerja mandiri. Dengan demikian, bekal yang diberikan tidak berhenti pada praktik, tetapi turut mengarahkan peserta pada sumber informasi dan layanan pendukung.
Ukuran keberhasilan ada pada penerapan keterampilan
Kedua program sama-sama mengakui bahwa pasar kerja berubah dan peserta perlu terus meningkatkan kompetensi. Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan Sukro Muhab menyampaikan bahwa pasar kerja bergerak cepat dan mereka yang terus belajar akan lebih mampu bertahan serta berkembang. Pesan itu relevan bagi peserta di kedua daerah, tetapi pelatihan saja tidak otomatis menjamin pekerjaan.
Simeulue menonjol karena dukungan langsung bagi peserta dan sasaran yang jelas, yakni pekerjaan di industri atau perusahaan lokal serta usaha mandiri. Banyuwangi menambahkan orientasi pasar kerja dan akses ke layanan karier. Perbedaan itu bukan alasan untuk menilai satu program lebih unggul: keduanya menjawab kebutuhan yang berlainan. Tolok ukur yang lebih berarti adalah apakah peserta dapat memakai kompetensinya untuk memperoleh pekerjaan atau membangun layanan yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu, keahlian terapan perlu disertai jembatan menuju pemberi kerja, informasi lowongan, dan peluang usaha. Jika hubungan tersebut terbangun, pelatihan vokasi menjadi bekal nyata, bukan sekadar sertifikat.






