Lonjakan yang menandai perubahan cara berwisata
Snackpacking adalah gaya berwisata yang mengenalkan karakter dan budaya sebuah kota lewat jajanan khas, dari kudapan tradisional di pasar hingga camilan yang dijajakan di kedai permukiman. Bagi wisatawan muda, cara ini menawarkan pengalaman yang terasa lebih dekat dengan kehidupan setempat sekaligus ramah di kantong. Tren ini bukan sekadar soal berburu makanan: ia menunjukkan bahwa pengalaman perjalanan kini juga dibentuk oleh apa yang dicicipi dan dibagikan. Pada Oktober 2026, pencarian akomodasi untuk Bandung naik 189 persen, seiring kuatnya daya tarik kuliner tradisional dan kekinian. Angka itu mengisyaratkan pergeseran selera, meski perlu dicatat bahwa yang diukur adalah pencarian akomodasi, bukan jumlah wisatawan atau transaksi makanan. Dengan snackpacking, wisatawan dapat mengenal sebuah kota lebih jauh melalui kulinernya, bukan sekadar mengunjungi tempat-tempat ikonik.
Dari peuyeum sampai camilan yang ramai dibicarakan
Daya tarik snackpacking Bandung ada pada rentang rasa yang luas: peuyeum, singkong fermentasi yang bisa diolah menjadi colenak, surabi Sunda, pisang bolen, hingga seblak. Pilihan tersebut membuat wisata kuliner Bandung terasa lebih seperti penjelajahan, bukan daftar tempat makan yang harus dicentang. Seblak dan jajanan lain disebut dapat dijumpai di kawasan Pasar Kosambi, Cihapit, hingga Jalan Braga. Media sosial ikut memberi panggung bagi kebiasaan ini: jajanan yang menarik untuk dicoba juga mudah diceritakan dan dibagikan, sehingga rasa lokal memperoleh perhatian di luar lokasi asalnya. Namun, angka kenaikan pencarian akomodasi itu tidak membuktikan bahwa wisatawan secara khusus mencari oleh-oleh kuliner lokal atau membeli peuyeum dan seblak untuk dibawa pulang. Pembacaan yang lebih kuat adalah bahwa makanan menjadi alasan untuk mengenal Bandung dengan cara yang autentik dan terjangkau.
Bandung punya tempat di peta jajanan, dengan Braga sebagai panggung
Bandung masuk dalam daftar kota yang diminati untuk perjalanan bertema jajanan pada Oktober 2026. Manado memimpin pertumbuhan pencarian akomodasi dengan 214 persen, sementara Bandung mencatat kenaikan 189 persen dan berada dalam daftar bersama Jakarta, Medan, Solo, Surabaya, Palembang, Bali, Semarang, serta Yogyakarta. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa wisata kuliner bukan milik satu kota saja; tiap destinasi perlu menawarkan rasa dan suasana yang khas. Di Bandung, Jalan Braga Bandung punya modal kuat sebagai kawasan yang kerap dikunjungi, dengan bangunan lama, pilihan tempat makan, dan suasana jalan yang berbeda dari pusat belanja modern. Braga memang menarik untuk berjalan-jalan dan mencicipi makanan, tetapi sumber yang tersedia tidak membuktikan kawasan ini sebagai pusat utama belanja oleh-oleh. Justru perpaduan sejarah dan kuliner membuatnya layak menjadi salah satu persinggahan dalam perjalanan jajanan.

Kesimpulan: rasa lokal harus tetap jadi inti
Lonjakan 189 persen memberi Bandung peluang untuk mengubah perhatian digital menjadi pengalaman yang berkesan, bukan sekadar tren sesaat. Kuncinya bukan menambah daftar jajanan yang seragam, melainkan menjaga hubungan antara makanan, cerita lokal, dan tempat yang menyajikannya. Peuyeum, surabi, seblak, dan camilan lain akan lebih bermakna ketika wisatawan dapat menemukan konteks serta suasana di baliknya. Jalan Braga menawarkan salah satu contoh: pengunjung bisa menikmati kuliner sambil mengamati wajah historis kota, asalkan keramaian tetap tertib dan kawasan terjaga. Pada akhirnya, snackpacking Bandung tumbuh karena wisatawan muda mencari cara yang lebih personal untuk mengenal destinasi. Promosi digital dapat mengundang mereka datang, tetapi kualitas pengalaman lokal yang akan menentukan apakah perjalanan itu layak dikenang dan diceritakan kembali.






