Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tips Berkendara Aman saat Kabut Asap dan Jarak Pandang Terbatas

Tips Berkendara Aman saat Kabut Asap dan Jarak Pandang Terbatas
Minat|Menggunakan & Merawat Mobil

Kabut Asap: Musuh Utama Jarak Pandang dan Keselamatan Pengemudi

Berkendara kabut asap adalah aktivitas mengemudi di jalan saat udara dipenuhi partikel asap yang mengurangi jarak pandang, meningkatkan risiko tabrakan, mengganggu pernapasan, serta menuntut pengemudi mengubah kecepatan, teknik pengereman, dan kebiasaan berkendara demi keselamatan pengemudi dan pengguna jalan lain. Kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Samarinda sejak Rabu, 16 September 2026, menunjukkan betapa cepat kualitas udara turun dan betapa besar dampaknya terhadap keselamatan di jalan raya. Kondisi ini bukan sekadar gangguan, tetapi ancaman langsung: kabut asap pekat berisiko tinggi menyebabkan kecelakaan lalu lintas akibat jarak pandang terbatas. Karena itu, pilihan utamanya jelas: kalau perjalanan tidak mendesak, tunda; kalau terpaksa tetap jalan, ubah sepenuhnya cara Anda berkendara. Mengemudi seperti hari cerah di tengah kabut asap adalah bentuk kecerobohan.

Kelola Kecepatan, Jarak Aman, dan Teknik Pengereman yang Benar

Dalam jarak pandang terbatas, kecepatan tinggi bukan cuma tidak bijak, melainkan berbahaya. Instruktur Safety Riding Astra Motor Kalimantan Timur 2, Derexius Julio Korompis, menegaskan pengendara perlu mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan tidak memaksakan diri saat kondisi berasap. Saat berkendara kabut asap, permukaan jalan bisa tertutup lapisan lembap bercampur partikel asap, membuatnya lebih licin dan mengurangi daya cengkeram ban. Teknik pengereman aman berarti mengerem secara bertahap, halus, dan jauh sebelum titik bahaya, bukan menginjak atau menarik rem mendadak. Hindari manuver tiba-tiba seperti zigzag atau menyalip agresif; kemampuan memperkirakan jarak saat menyalip dan disalip sudah menurun karena jarak pandang terbatas. Prinsip defensifnya sederhana: tambah jarak antar kendaraan, kurangi kecepatan, dan selalu punya “ruang melarikan diri” jika kendaraan depan mendadak berhenti.

Lampu Depan, Hazard, dan Kedisiplinan Memilih Kapan Menepi

Di tengah kabut asap, terlihat itu lebih penting daripada cepat. Mengurangi kecepatan dan menyesuaikannya dengan kondisi jalan adalah keharusan, bukan pilihan. Nyalakan lampu depan agar kendaraan Anda terdeteksi lebih awal oleh pengemudi lain, tetapi gunakan lampu hazard secara bijak: untuk memberi tanda saat menepi atau ketika berhenti di lokasi darurat, bukan saat melaju terus yang justru membingungkan. Ketika asap semakin pekat hingga jarak pandang sangat terbatas, Julio menyarankan untuk tidak memaksakan diri: kurangi kecepatan secara bertahap, nyalakan lampu utama, jaga jarak dengan kendaraan lain, lalu cari tempat aman untuk menepi. Imbauan agar pengendara lebih fokus dan berhati-hati di tengah jarak pandang terbatas datang juga dari Kepala Dishub Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu. Intinya, keberanian sejati pengemudi bukan memaksa terus melaju, melainkan tahu kapan harus berhenti demi pencegahan kecelakaan.

Persiapan Pengemudi dan Pemeriksaan Rutin Komponen Keselamatan

Keselamatan pengemudi dimulai jauh sebelum mesin dinyalakan. Manalu mengimbau masyarakat membatasi perjalanan seperlunya, memperhatikan rambu dan marka jalan, serta selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Untuk pengendara motor, helm dengan visor tertutup dan masker yang mampu menyaring partikel halus menjadi perlindungan minimum; membuka visor di tengah asap pekat hanya akan mengundang iritasi mata. Dari sisi kendaraan, pemeriksaan rutin adalah garis pertahanan pertama: pastikan sistem pengereman, tekanan dan kondisi ban, lampu utama, lampu belakang, lampu sein, spion, serta mesin berfungsi baik. Komponen terkait penyaring udara perlu diperiksa karena debu dan asap dapat menumpuk dan menurunkan performa. Untuk mobil, perhatian serupa berlaku untuk lampu, wiper, dan rem; mengabaikan komponen ini di tengah kabut asap sama saja dengan mengabaikan pencegahan kecelakaan.

Tidak Memaksakan Perjalanan: Sikap Defensif yang Menyelamatkan Nyawa

Kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang, tetapi juga kesehatan: kualitas udara yang menurun akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat dan membuat aktivitas berkendara lebih berisiko. Karena itu, pilihan paling aman adalah menunda perjalanan bila tidak mendesak. Bagi pengemudi yang tetap harus berjalan, kuncinya adalah memprediksi bahaya sedini mungkin, sehingga dapat mengantisipasi sebelum bahaya muncul. Sikap defensif ini tidak hanya relevan di jalan raya, tetapi juga di perairan; imbauan mengenai jarak pandang terbatas bahkan ditujukan pula kepada pemilik kapal dan nakhoda yang beroperasi di dermaga Mahakam Ulu dan Ilir. Kesimpulannya jelas: di tengah kabut asap, keselamatan pengemudi bukan hasil keberuntungan, melainkan buah dari keputusan sadar untuk tidak memaksakan diri, mempersiapkan kendaraan, dan mengemudi dengan teknik pengereman aman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!