Target harga murah harus menjangkau lebih banyak rumah
Internet rumah murah adalah layanan konektivitas rumah tangga dengan tarif yang dirancang agar lebih banyak keluarga mampu mengakses jaringan untuk belajar, bekerja, dan menggunakan layanan digital sehari-hari. SURGE ingin menawarkan internet Rp100 ribu per rumah dan membawa layanan itu keluar Jawa—sebuah sasaran yang layak diuji lewat jangkauan serta mutu, bukan harga saja. Fadel Muhammad Al-Haddar resmi menjadi Komisaris Utama PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), yang dikenal sebagai SURGE, menggantikan Hashim Djojohadikusumo sejak 21 Oktober 2026. Ia menyebut pasar potensialnya sekitar 90 juta rumah, sementara sekitar 16 juta rumah telah memperoleh layanan internet. Kesenjangan tersebut memperlihatkan peluang besar, tetapi juga menegaskan bahwa tarif terjangkau baru bermakna jika koneksi tersedia dan konsisten di tempat keluarga tinggal.

Ekspansi ke luar Jawa adalah ujian utama
Ekspansi internet SURGE menargetkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, dengan penggelaran infrastruktur kabel yang disebut sedang berjalan. Untuk menjangkau kawasan lebih luas, Fadel juga menyebut pembangunan jaringan, termasuk kabel laut, sebagai bagian dari rencana perusahaan. Arah ini penting: internet luar Jawa tidak bisa berhenti pada pengumuman perluasan, sebab warga membutuhkan layanan yang benar-benar hadir di wilayahnya. SURGE mengandalkan Fixed Wireless Access (FWA), akses internet nirkabel berbasis frekuensi. Teknologi itu dapat menjadi salah satu cara menyediakan layanan, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas jaringan dan cakupan yang bisa dicapai. Klaim tarif rendah akan lebih kuat bila perusahaan mampu menunjukkan bahwa rumah tangga di luar pusat-pusat layanan mendapat pengalaman koneksi yang dapat diandalkan.

Nilai layanan ditentukan oleh manfaat sehari-hari
Alasan memperluas layanan cukup jelas: Fadel menilai biaya langganan masih menjadi penghambat penetrasi internet rumah tangga, sementara kebutuhan konektivitas terus meningkat. Dampaknya bukan semata pilihan hiburan. Akses internet di rumah dapat mendukung pembelajaran jarak jauh dan pendidikan mandiri, sehingga keterjangkauan dapat berpengaruh langsung pada kesempatan belajar. Perusahaan juga berencana mengembangkan konten digital untuk mendorong pemanfaatan layanan oleh pelanggan. Namun, konten tidak boleh mengalihkan perhatian dari kebutuhan pokok pengguna: koneksi yang tersedia, memadai, dan terjangkau. Dalam pendidikan maupun layanan publik, tarif rendah tanpa mutu yang cukup berisiko menjadi janji yang tidak menjawab kebutuhan. Ukuran keberhasilan seharusnya bukan hanya banyaknya wilayah dalam rencana, melainkan manfaat yang dirasakan keluarga.
Harga menarik, pelaksanaan yang akan menentukan
Janji internet Rp100 ribu per rumah memberi SURGE posisi yang jelas di tengah persoalan keterjangkauan. Namun, perbandingan harga yang disampaikan Fadel dengan layanan lain merupakan klaimnya, bukan bukti bahwa cakupan dan mutu akan setara di setiap lokasi. Perusahaan perlu menjelaskan perkembangan penggelaran jaringan dan menunjukkan bagaimana layanan bekerja di wilayah sasaran. Bagi calon pelanggan, pertanyaan praktisnya sederhana: apakah koneksi tersedia di alamat mereka, cukup mendukung sekolah dan kebutuhan harian, serta tetap terjangkau? Arah ke sektor esensial membuat pertanyaan ini kian penting. Ekspansi ke luar Jawa patut disambut sebagai tujuan, tetapi harus dinilai dari akses nyata, bukan peta rencana. Kesimpulannya, SURGE menawarkan gagasan internet rumah murah yang relevan; keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi layanan dan manfaat yang sampai ke rumah tangga.






