Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

100 Model dari 15 Negara Memeriahkan Bali International Fashion Week

100 Model dari 15 Negara Memeriahkan Bali International Fashion Week
Minat|Pertunjukan Busana

Bali International Fashion Week: Saat Budaya Bertemu Haute Couture

Bali International Fashion Week adalah gelaran fashion show internasional yang menghadirkan puluhan desainer haute couture dan model internasional untuk menafsirkan kembali kekayaan budaya melalui rancangan kontemporer, menjadikannya ruang pertemuan antara kreativitas global dan identitas lokal yang berorientasi pada industri fashion masa depan. Dibuka kembali setelah vakum empat tahun, edisi ini terasa seperti pernyataan tegas bahwa Bali tidak lagi sekadar latar eksotis bagi pemotretan, tetapi pemain aktif dalam percakapan fashion dunia. Dengan tema "Where Culture Meets Haute Couture", acara ini menolak dikotomi antara tradisi dan modernitas: keduanya disatukan di panggung yang sama, pada tanggal 24–26 September di Museum Pasifika, kawasan ITDC The Nusa Dua. Pilihan tema tersebut bukan gimmick, melainkan sikap kuratorial yang menjadikan budaya sebagai sumber ide utama, bukan dekorasi pelengkap.

Skala Internasional: 31 Desainer, 100+ Model, 15 Negara

Yang membuat Bali International Fashion Week terasa melompat kelas adalah skala internasionalnya yang nyata, bukan sekadar label. Lenny Hartono selaku Direktur Kreatif menjelaskan bahwa BIFW diikuti 31 desainer dan lebih dari 100 model dari 15 negara, suatu lonjakan partisipasi dibanding edisi sebelumnya. Pernyataan ini penting karena angka konkret menunjukkan keseriusan penyelenggara dalam membangun ekosistem lintas batas. Kehadiran negara dari Asia, Timur Tengah, Eropa hingga Amerika dan Pasifik — mulai dari Malaysia, Vietnam, Filipina, India, Kazakhstan, Rusia, Italia hingga Meksiko dan Australia — memunculkan dialog visual yang kaya. Setiap desainer haute couture membawa bahasa estetikanya sendiri, ditranslasikan ke dalam karya yang tetap berakar pada budaya dan fashion asal mereka. Bagi para model internasional, panggung ini menjadi portofolio sekaligus pintu jejaring baru. Kolaborasi lintas negara seperti ini menempatkan BIFW setara dengan pekan mode lain di kawasan, namun dengan keunikan nuansa Bali yang tak bisa ditiru.

Museum Pasifika dan Waterblow: Panggung Budaya yang Spektakuler

Pemilihan Museum Pasifika sebagai venue utama bukan keputusan teknis semata, melainkan pernyataan kuratorial yang cerdas. Museum yang menyimpan koleksi seni dari berbagai budaya Asia Pasifik itu menjadi latar alami bagi tema "Where Culture Meets Haute Couture". Selama 24–26 September, ruang seni tersebut berubah menjadi runway yang mempertemukan lukisan, patung, dan wastra dengan gaun-gaun haute couture yang mengangkat heritage masing-masing negara. Dimensi spektakuler bertambah lewat fashion show internasional di Waterblow, Peninsula Island, yang untuk pertama kalinya dijadikan panggung peragaan busana. Deburan ombak dan pemandangan laut bukan sekadar latar Instagramable, tetapi cara menegaskan bahwa fashion di Bali tidak bisa dipisahkan dari alam dan lanskapnya. Pengelola kawasan menyiapkan keamanan, kenyamanan, kebersihan, serta sarana prasarana secara serius, menunjukkan bahwa infrastruktur destinasi wisata kelas dunia bisa sepenuhnya mendukung industri kreatif.

Tema Budaya dan Haute Couture: Lebih dari Sekadar Motif Etnik

Tema "Where Culture Meets Haute Couture" berpotensi menjadi klise kalau hanya berhenti di motif etnik pada gaun. Namun dalam BIFW, budaya diposisikan sebagai ide, bukan ornamen. Menurut Lenny Hartono, para desainer mengangkat budaya masing-masing negara dalam bentuk busana haute couture, misalnya nuansa khas Kazakhstan atau Rusia yang hadir lewat siluet, detail, dan narasi visual yang kuat. Di sisi lain, wastra, motif, filosofi, seni, dan tradisi Nusantara dikemas secara relevan untuk menarik perhatian ekosistem fashion internasional, menjadikannya berdaya saing global tanpa kehilangan akar. Pendekatan ini penting karena menghindari eksploitasi budaya sebagai sekadar estetika eksotis. Budaya dan fashion justru disatukan dalam dialog seimbang: tradisi memberi kedalaman makna, sementara haute couture menawarkan standar teknis dan estetika yang tinggi. Hasilnya, koleksi terasa seperti karya seni memakai, bukan kostum wisata.

Bali sebagai Hub Fashion dan Peluang bagi Pelaku Kreatif Lokal

Di balik gemerlap runway, BIFW memuat agenda yang lebih strategis: meneguhkan Bali sebagai hub internasional industri kreatif dan membuka peluang nyata bagi pelaku lokal. Inisiatif Senator DPD RI Provinsi Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, menunjukkan bahwa acara ini bukan sekadar festival hiburan, melainkan bagian dari dorongan budaya dan ekonomi kreatif yang terstruktur. Produksi profesional oleh Lenny Hartono Management memperluas jaringan internasional untuk desainer, model, pelaku UMKM fashion, pekerja kreatif, hingga generasi muda. Lenny menyatakan harapan agar BIFW menjadi panggung lebih luas bagi perancang busana dan pengrajin lokal, membangun hubungan berarti dengan komunitas fashion internasional, serta menginspirasi kreator muda untuk percaya bahwa karya mereka bisa melangkah jauh melampaui pulau. Pada titik ini, Bali International Fashion Week bukan hanya perayaan budaya dan fashion, tetapi juga alat diplomasi, penguat pariwisata, dan katalis ekonomi kreatif Indonesia di mata dunia.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!