Pemberdayaan fashion inklusif: lebih dari sekadar pelatihan
Pemberdayaan fashion inklusif adalah upaya terstruktur untuk membekali komunitas marginalisasi—seperti penyandang disabilitas, pekerja informal, dan pelaku UMKM kecil—dengan keterampilan, akses pasar, dan dukungan ekosistem sehingga mereka dapat membangun bisnis fashion yang berkelanjutan, mendapatkan penghasilan stabil, serta memperoleh pengakuan sebagai pelaku profesional, bukan sekadar penerima bantuan sementara.
Selama ini, perbincangan soal UMKM fashion berkelanjutan sering berhenti di level tren dan kampanye. Padahal inti persoalannya jauh lebih politis: siapa yang diberi ruang untuk ikut bermain di rantai nilai fashion, dan siapa yang dibiarkan tetap di pinggir. Tanpa desain ekosistem yang sadar keberpihakan, pemberdayaan fashion inklusif berisiko menjadi slogan kosong, bukan jalan keluar bagi bisnis fashion komunitas marginalisasi.
Kisah Teras Balongan di Indramayu dan program pelatihan fashion sosial bagi Teman Tuli yang digagas Bakti BCA memperlihatkan dua hal penting: pertama, bahwa talenta di akar rumput melimpah; kedua, bahwa talenta saja tidak cukup tanpa akses, kurasi, dan keberanian institusi besar untuk ikut menggeser pusat perhatian.
Teras Balongan: rak kecil, mimpi besar para pelaku UMKM
Di sebuah bangunan sederhana di Jalan Raya Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, terpajang rak-rak berisi makanan kering, pakaian, tas, dan kerajinan tangan buatan warga setempat. Teras Balongan bukan sekadar outlet; ia adalah etalase yang menjembatani usaha mikro, kecil, dan menengah dengan konsumen yang selama ini sulit mereka jangkau. Di sinilah gagasan UMKM fashion berkelanjutan menemukan bentuk awal: produk rumahan diberi ruang tampil layak, di satu lokasi yang mudah ditemui.
Sosok seperti Mahani, perempuan 45 tahun yang kini memimpin kelompok UMKM ibu rumah tangga, menunjukkan bahwa pengalaman hidup—bahkan sebagai pekerja migran di Abu Dhabi—dapat berubah menjadi modal sosial dan keterampilan usaha ketika ekosistemnya mendukung. Ia membawa pulang kemampuan memasak yang dipelajari sedikit demi sedikit dari sesama pekerja, lalu mengorganisasi warga agar punya ruang jual kolektif. Teras Balongan menjadi contoh bahwa ketika infrastruktur pemasaran dihadirkan di tengah desa, pelaku usaha tidak lagi sekadar berjualan di pinggir jalan, tetapi memasuki ruang yang lebih tertata dan lebih mudah dipercaya.
Model seperti ini penting untuk bisnis fashion komunitas marginalisasi karena mengurangi ketergantungan pada perantara dan membuka peluang kurasi bersama. Namun tanpa dukungan pelatihan lanjutan—misalnya pengemasan, pengembangan desain, dan manajemen keuangan—potensi mereka tetap rawan terjebak di level usaha sambilan, bukan usaha yang kuat dan berjangka panjang.
MUA Tuli Bakti BCA: dari hobi ke profesi yang diakui
Di sebuah booth bertajuk Nail Art by MUA Tuli di sebuah ajang expo besar, Nagita sibuk menata etalase cat kuku sambil berkoordinasi dengan rekan nail artist menggunakan bahasa isyarat. Mereka bukan pengisi acara dekoratif; mereka adalah nail artist profesional, lulusan program pelatihan dan pembinaan tata rias serta nail art untuk Teman Tuli yang diinisiasi Bakti BCA bersama sebuah yayasan perempuan. Di sinilah istilah pemberdayaan fashion inklusif menemukan makna konkret: Teman Tuli tidak ditempatkan sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai pelaku jasa kecantikan dengan standar profesional yang jelas.
Program pelatihan fashion sosial ini tidak berhenti pada aspek teknis merias. Peserta menjalani seleksi, pembekalan, praktik tata rias, tata rambut, nail art, manajemen keuangan, pengelolaan media sosial, hingga ujian sertifikasi BNSP. Hasilnya, 15 MUA Tuli lulus pada Desember 2025 dan diberi kesempatan ikut dalam berbagai acara, termasuk expo besar. Selama tiga hari, booth mereka mencatat pendapatan sekitar Rp13.000.000—angka yang menegaskan bahwa pasar menghargai kualitas layanan mereka, bukan sekadar "kisah inspiratif" untuk dikonsumsi media.
Pernyataan perwakilan tanggung jawab sosial perusahaan yang menyebut setiap individu punya potensi berkembang ketika mendapat kesempatan dan dukungan tepat menggarisbawahi satu hal penting: dalam bisnis fashion komunitas marginalisasi, yang paling menentukan bukan kemampuan dasar, melainkan seberapa serius institusi mau menginvestasikan waktu dan sumber daya agar mereka punya pijakan nyata.

Ekosistem inklusif: dari pelatihan ke akses pasar yang setara
Kisah Teras Balongan dan MUA Tuli menunjukkan bahwa kunci perubahan bukan hanya pelatihan, melainkan ekosistem. Di Indramayu, rak-rak Teras Balongan menjadi ruang bertemu karya warga dengan konsumen, memindahkan UMKM dari ruang informal ke etalase yang lebih profesional. Di sisi lain, kehadiran booth MUA Tuli sebagai bagian dari stan UMKM binaan di sebuah expo besar menghubungkan Teman Tuli dengan pasar menengah hingga atas, yang sebelumnya mungkin terasa jauh.
Pelatihan dan pembinaan bagi penyandang disabilitas dalam program ini secara eksplisit diarahkan agar keterampilan mereka menjadi sumber penghasilan. Ini penting, karena banyak program pelatihan fashion sosial berhenti di tahap workshop tanpa tindak lanjut ke pembukaan lapangan kerja atau akses pasar. Di sini, akses ke panggung expo, jaringan nasabah, dan dukungan komunikasi dari sebuah lembaga keuangan besar yang melayani 42 juta rekening dan memproses lebih dari 124 juta transaksi per hari menempatkan Teman Tuli di arus utama aktivitas ekonomi.
Ke depan, komitmen Bakti BCA untuk memperluas ekosistem pemberdayaan inklusif sehingga semakin banyak Teman Tuli dan penyandang disabilitas lain mendapat akses setara adalah ujian konsistensi. Pemberdayaan fashion inklusif hanya layak disebut berhasil ketika pelaku yang hari ini disebut "komunitas marginalisasi" besok cukup disebut dengan satu kata: profesional.







