Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Membangun Ketahanan Keluarga dengan Etika Budaya Jawa

Membangun Ketahanan Keluarga dengan Etika Budaya Jawa
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Etika Budaya Jawa Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga

Etika budaya Jawa dalam konteks ketahanan keluarga adalah penerapan unggah-ungguh, tata krama, budi pekerti, dan adat lokal dalam pola asuh sehari-hari, sehingga anak menjadikan nilai-nilai tradisional sebagai kompas moral yang memandu perilaku, hubungan sosial, dan sikap menghadapi tantangan hidup modern yang kompleks dan penuh godaan digital.

Kalau keluarga ingin kuat, pondasinya tidak bisa hanya materi dan pendidikan formal; ia perlu nilai yang memandu sikap di rumah dan di masyarakat. Di sinilah etika budaya Jawa memberi kerangka jelas: menghormati yang lebih tua, menjaga tutur kata, dan mengutamakan adab sebelum ilmu. Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri menegaskan bahwa ketahanan keluarga di era modern perlu dibangun melalui etika dan budi pekerti berbasis budaya Jawa. Sikap ini bukan nostalgia romantis, melainkan strategi sadar untuk menjaga jati diri anak di tengah arus nilai global yang sering bertabrakan dengan karakter lokal.

Membangun Ketahanan Keluarga dengan Etika Budaya Jawa

Inisiatif Pemerintah: Budaya Lokal Masuk Program Penguatan Keluarga

Ketahanan keluarga tidak lahir sendirian dari ruang tamu rumah; ia butuh ekosistem sosial yang mendukung. Di Yogyakarta, pemerintah melalui DP3AP2KB bersama Dharma Wanita menggelar workshop ketahanan keluarga berbasis budaya Jawa sebagai bagian upaya sistematis menjadikan etika lokal pondasi pembentukan karakter generasi muda. Langkah ini penting: negara bukan hanya mendorong orang tua ‘mengasuh dengan baik’, tetapi memberikan bahasa dan nilai yang konkret—unggah-ungguh, tata krama, budi pekerti—sebagai alat parenting berbasis budaya.

Workshop bertema merawat jati diri melalui etika dan tata krama menargetkan anggota Dharma Wanita agar menjadi teladan pendidikan karakter anak, bukan sekadar pendukung dari belakang. Menurut Nurhayati Budi Santosa Asrori, budaya Jawa harus menjadi pondasi keluarga agar generasi muda tumbuh dengan karakter yang kuat. Pernyataan ini layak dikutip, karena menempatkan nilai-nilai tradisional bukan sebagai hiasan seremoni, tetapi sebagai kurikulum tak tertulis di rumah.

Membangun Ketahanan Keluarga dengan Etika Budaya Jawa

Keluarga sebagai Sekolah Pertama: Menyalurkan Nilai Lintas Generasi

Ketika kepala DP3AP2KB menyebut keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak, ia mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter anak tidak bisa dipasrahkan kepada sekolah. Di rumah, anak pertama kali belajar unggah-ungguh, tata krama, nilai agama, dan sosial—bukan dari buku, tetapi dari contoh hidup orang tua. Kalau keluarga abai, generasi muda mencari referensi etika dari media dan teman sebaya yang tidak selalu punya kompas nilai yang sehat.

Dalam perspektif etika budaya Jawa, keluarga adalah institusi yang menyalurkan nilai lintas generasi. Tepa slira, gotong royong, sopan santun, dan rasa malu yang sehat ditanam bukan dengan ceramah panjang, melainkan kebiasaan sehari-hari: bagaimana ayah-bunda berbicara, meminta maaf, menghargai tetangga, hingga menanggapi perbedaan pendapat. Jika generasi orang tua kini lebih percaya sekolah dan gawai daripada obrolan di dapur, maka mata rantai nilai-nilai tradisional terputus, dan ketahanan keluarga melemah pelan-pelan.

Parenting Berbasis Budaya di Era Gadget

Etika budaya Jawa akan tampak relevan atau ‘kuno’ tergantung bagaimana orang tua menggunakannya dalam parenting berbasis budaya. Retnaningtyas mencontohkan hal sederhana: jika orang tua mengingatkan anak untuk membatasi penggunaan handphone, mereka sendiri wajib menunjukkan pengendalian pada gadget. Ini bukan sekadar aturan teknis, tetapi penerapan nilai contoh (teladan) yang kuat di tradisi Jawa: anak meniru laku, bukan mendengar kata-kata kosong.

Pendekatan budaya juga tampak dalam dorongan menumbuhkan budi pekerti lewat tembang dolanan dan permainan tradisional. Tembang “gundul-gundul pacul” misalnya, mengajarkan bahwa seseorang yang punya kekuasaan jangan sombong, sedangkan dolanan tradisional mengajarkan sportivitas, tenggang rasa, dan kejujuran. Daripada hanya mengeluh anak terlalu lama di layar, orang tua bisa mengisi waktu bermain dengan aktivitas yang menanamkan nilai, bukan sekadar menghibur. Di sini, parenting modern bertemu kearifan lama: teknologi dikendalikan, bukan dibiarkan menghapus jati diri.

Merawat Jati Diri Anak Lewat Nilai-Nilai Tradisional Jawa

Menghadapi kasus kekerasan dalam rumah tangga, perundungan, dan kehamilan usia dini, banyak keluarga bereaksi dengan panik—padahal akar masalahnya sering adalah rapuhnya nilai di rumah. Di Yogyakarta, sejumlah narasumber mengingatkan bahwa budaya tidak berhenti pada wayang dan gamelan, tetapi mencakup bahasa, karya, dan filosofi seperti Hamemayu Hayuning Bawana yang mengajarkan manusia menjaga alam dan berbuat baik terhadap lingkungan. Nilai-nilai ini memberi kerangka etik yang bisa mengarahkan sikap anak terhadap diri, sesama, dan alam.

Batik dengan motif penuh makna, gamelan, tembang, dolanan, gotong royong, dan tradisi upacara dapat menjadi alat pendidikan karakter anak jika sengaja dihadirkan dalam kehidupan keluarga. Menurut Dr. Joko Pamungkas, penumbuhan nilai budi pekerti harus dilakukan melalui budaya, karena orang tua adalah role model pertama yang dilihat anak. Kesimpulannya sederhana namun tegas: jika kita ingin generasi muda berkarakter kuat, ketahanan keluarga harus dibangun di atas nilai-nilai tradisional yang hidup di rumah, bukan sekadar slogan di baliho.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!