IFFINA+, Interzum, IHF: Satu Pameran, Satu Ekosistem
Pameran furnitur Jakarta 2026 adalah kolaborasi tiga ajang—IFFINA+ powered by imm cologne, interzum jakarta, dan International Hardware Fair (IHF) Indonesia—yang menyatukan produsen material, komponen, hardware, furnitur, dan produk interior dalam satu platform terintegrasi, dari hulu hingga hilir, untuk memperkuat rantai nilai industri furnitur dan tren desain interior secara menyeluruh.
Diselenggarakan oleh Nine Koeln Indonesia bersama ASMINDO sebagai mitra industri dan co-organiser IFFINA+, pameran ini digelar 24–27 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta. Lebih dari 500 exhibitor hadir, menghadirkan solusi lengkap dari material baku, komponen teknis, hardware, hingga furnitur dan produk interior siap pakai. Target 15.000 pengunjung bukan sekadar angka; ini menunjukkan kepercayaan bahwa pameran furnitur seperti ini mampu menjadi barometer arah industri furnitur Indonesia dan pasar regional. "Edisi ini menjadi tahun fondasi bagi ekosistem industri kami" adalah pernyataan yang menegaskan ambisi jangka panjang platform ini.
Kenapa Kolaborasi Tiga Pameran Ini Penting untuk Industri
Kolaborasi IFFINA+, interzum jakarta, dan IHF bukan sekadar berbagi hall; ini adalah strategi menyatukan seluruh mata rantai industri furnitur dan interior design dalam satu ekosistem pameran. interzum jakarta berfokus pada material dan komponen—mulai dari Material & Nature hingga Textile & Upholstery—sementara IHF mengisi celah hardware dan peralatan teknis. IFFINA+ kemudian menjadi etalase furnitur residensial, hospitality, dan produk interior yang siap masuk proyek nyata.
Konsep kolokasi ini memudahkan pelaku industri melakukan sourcing terarah: produsen furnitur dapat mencari kayu, rotan, laminates, kemudian berpindah ke pemasok hardware, lalu menutup dengan pertemuan buyer di area furnitur jadi. Menurut ASMINDO, daya saing industri furnitur tidak bisa dibangun sendiri-sendiri; keterhubungan antarbagian—dari bahan baku, teknologi, desain, hingga logistik—menjadi kunci untuk memperkuat posisi industri furnitur Indonesia di pasar dunia. Dengan struktur industri yang masih didominasi IKM namun mencatat pertumbuhan double digit 11,82 persen dan surplus dagang sejak 2021, pameran terintegrasi seperti ini adalah katalis, bukan pelengkap agenda tahunan.
Paviliun MADENESS: Masa Depan Material Alternatif Furnitur
Jika ada satu area yang paling menunjukkan arah masa depan material alternatif furnitur, maka itu adalah Paviliun MADENESS. Di tengah ragam furnitur dan produk interior, paviliun ini berfokus pada eksplorasi material alternatif dan desain sirkular yang memutus ketergantungan pada material alam baru dan beralih ke sumber daya perkotaan sebagai bahan baku. Ini bukan tren sesaat; ini sinyal kuat bahwa isu keberlanjutan kini hadir dalam bentuk material nyata, bukan hanya slogan.
Mengusung tema “Made in Asia”, Paviliun MADENESS menampilkan lima program utama, termasuk pameran bahan mentah Material Atlas Asia, instalasi bio-fabrikasi Alterrama, dan area publik Common Ground, serta diskusi MADE Dialogue dan Microfactory Tour. Pendekatan hulu-hilir yang ditunjukkan—mulai dari riset bahan, prototipe, hingga wujud siap pakai untuk interior dan arsitektur—membuat paviliun ini relevan bagi desainer, arsitek, dan produsen yang ingin membaca tren desain interior berbasis material alternatif furnitur. Genie Indah menegaskan bahwa eksplorasi ini merespons isu keberlanjutan sambil tetap menghadirkan produk yang siap dipakai, bukan sekadar karya konseptual.
Siapa yang Paling Diuntungkan dari Pameran Ini
Kolaborasi IFFINA+ Interzum IHF dirancang jelas sebagai platform B2B, dan sasaran pengunjungnya mencerminkan ambisi itu: produsen furnitur, desainer interior, arsitek, wholesaler, distributor, importir–eksportir, produsen peralatan, pemasok konstruksi, hingga pelaku bisnis hospitality dan properti. Hosted Buyer Programme yang mempertemukan buyer dan exhibitor secara langsung mempertegas bahwa ini bukan pameran jalan-jalan; ini ruang negosiasi pasokan dan proyek.
Bagi desainer dan arsitek, pameran furnitur Jakarta 2026 ini adalah “buku tren” berjalan: mereka dapat melihat langsung kombinasi material, hardware, dan detail finishing yang akan membentuk tren desain interior beberapa tahun ke depan. Bagi IKM furnitur, ini kesempatan untuk memetakan teknologi dan pemasok yang dapat meningkatkan efisiensi produksi. Sementara bagi buyer internasional, rantai nilai yang lengkap dari hulu ke hilir memberi sinyal bahwa industri furnitur Indonesia punya kesiapan struktural yang kian kuat untuk memasok pasar global.
Kesimpulan: Dari Pameran ke Arah Baru Industri Furnitur
Inti penting dari kolaborasi IFFINA+, interzum jakarta, dan IHF adalah pesan bahwa masa depan industri furnitur tidak lagi bisa dipisahkan antara pabrik, desainer, dan pemasok material. Ketiganya harus berjalan sebagai satu ekosistem yang terintegrasi, dengan rantai pasok yang jelas dan terbuka dari bahan baku hingga produk interior jadi. Pameran ini menunjukkan bahwa ketika lebih dari 500 exhibitor berkumpul dalam satu platform, yang tercipta bukan sekadar transaksi, tetapi peta besar arah industri.
Paviliun MADENESS menambahkan lapisan penting: keberlanjutan tidak lagi abstrak, melainkan diwujudkan melalui material alternatif furnitur dan desain sirkular yang konkret. Jika para pelaku industri mampu membawa semangat integrasi dan eksplorasi material ini ke pabrik, studio, dan ruang proyek, maka pameran furnitur Jakarta 2026 akan dikenang bukan hanya sebagai event besar, tetapi sebagai titik balik yang menggeser industri dari sekadar produksi massal menuju produksi yang terhubung, cerdas, dan bertanggung jawab.






