Dua acara, dampak ekonomi gabungan Rp625 miliar
Jakarta Running Festival adalah ajang lari berskala internasional yang mempertemukan pelari, pelaku usaha, dan pengunjung, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi kota melalui rangkaian acara dan belanja peserta. Pada 24–25 Oktober 2026, Jakarta Running Festival dan konser Ye Live in Jakarta 2026 disebut menghasilkan dampak ekonomi gabungan sekitar Rp625 miliar. Gubernur Jakarta Pramono Anung merinci kontribusinya: JRF sekitar Rp175 miliar dan konser Ye sekitar Rp450 miliar. Pemisahan angka ini penting: JRF memberi kontribusi berarti, tetapi bukan sumber terbesar dari total gabungan tersebut. Penghitungan dilakukan oleh jajaran di bawah koordinasi Asisten Keuangan Pemerintah Provinsi Jakarta. Angka itu memberi gambaran tentang daya tarik acara besar, bukan bukti bahwa seluruh perputaran uang kota berasal dari dua kegiatan ini.

JRF memperluas manfaat melampaui garis finis
Dampak ekonomi JRF bertumpu pada skala partisipasi dan peluang usaha yang hadir di sekeliling lomba. Ajang ini diikuti lebih dari 37.000 pelari dari 48 negara, termasuk lebih dari 1.000 pelari mancanegara. Dalam race expo, 49 UMKM serta 130 merek lokal dan internasional mendapat ruang untuk memperkenalkan produk dan menjangkau konsumen. Bagi pelaku usaha kecil, kehadiran ribuan peserta bukan jaminan penjualan, tetapi menyediakan kesempatan yang lebih luas daripada berjualan tanpa akses ke keramaian acara. Inilah nilai strategis event lari Jakarta: olahraga dapat mengundang orang datang, sementara expo dan kebutuhan selama kunjungan membuka jalur transaksi bagi usaha lokal. Agar manfaatnya terasa, akses bagi UMKM dan pengalaman pengunjung perlu menjadi bagian penting dari penyelenggaraan, bukan sekadar pelengkap.
Perputaran uang menyebar ke berbagai sektor
Kedua acara menarik lebih dari 50.000 pengunjung dari luar Jakarta. Kehadiran mereka berpotensi menaikkan permintaan hotel, restoran, transportasi, dan usaha lain; pengeluaran untuk akomodasi, makanan, perjalanan, serta belanja ikut membentuk aktivitas ekonomi Jakarta. Namun, angka gabungan perlu dibaca dengan cermat. Konser Ye menyumbang perkiraan Rp450 miliar, termasuk penjualan tiket sekitar Rp328 miliar, sedangkan bagian JRF diperkirakan Rp175 miliar. Penjualan tiket konser tidak boleh disamakan dengan keseluruhan dampak konser, dan kedua kategori itu juga tidak menjelaskan seberapa merata manfaatnya bagi warga maupun bisnis. Pramono meyakini nilai sebenarnya bisa lebih besar karena tidak semua aktivitas masyarakat tercatat. Itu masuk akal sebagai catatan keterbatasan penghitungan, tetapi bukan alasan untuk memperlakukan perkiraan sebagai angka pasti.
Manfaat kota tetap perlu disertai pilihan yang terukur
Acara besar dapat membuka peluang kerja dan transaksi bagi penyelenggara, pekerja produksi, transportasi, kuliner, serta perhotelan. Di sisi lain, manfaat ekonomi kota tidak menghapus biaya yang harus dipertimbangkan pengunjung. Keysa, warga Jakarta Selatan berusia 25 tahun, menabung selama tiga bulan untuk menonton konser Ye dan memastikan pengeluaran hiburan tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari. Pengalamannya mengingatkan bahwa pertumbuhan aktivitas ekonomi bukan alasan untuk mengabaikan kemampuan keuangan individu. Penyelenggaraan yang baik semestinya memberi ruang bagi usaha lokal dan layanan kota, sementara pengunjung tetap bebas menentukan pengeluaran sesuai anggaran. Ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada total rupiah; keterlibatan UMKM dan manfaat yang menjangkau lebih banyak warga juga patut diperhatikan.
Kesimpulannya, Jakarta Running Festival ikut menggerakkan ekonomi kota dengan kontribusi sekitar Rp175 miliar dalam perhitungan gabungan Rp625 miliar bersama konser Ye. Nilai JRF terletak pada kemampuannya menghubungkan olahraga internasional dengan pelaku usaha dan belanja pengunjung, tanpa perlu membesar-besarkan porsinya dibanding konser. Jika Jakarta ingin menjadikan acara berskala besar sebagai penggerak ekonomi yang berarti, manfaat bagi usaha lokal dan warga harus dinilai seteliti angka totalnya.






