Batik Mengubah Pelajaran Seni Menjadi Pengalaman Nyata
Kerajinan tradisional dalam pendidikan formal adalah pembelajaran keterampilan dan nilai budaya melalui praktik seni warisan yang terhubung dengan pelajaran sekolah. Pendekatan ini lebih kuat daripada sekadar meminta siswa menghafal nama motif atau membaca sejarah dari buku.
Contohnya terlihat ketika 82 murid kelas II SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Solo belajar membatik di Batik Puspita Mekar, Kampung Batik Laweyan, pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan itu menghubungkan materi seni rupa tentang ragam hias dan teknik pewarnaan dengan proses yang bisa disentuh dan dicoba siswa. Mereka menggunakan canting cap tembaga dan malam, lalu mewarnai kain dengan pilihan warna sendiri. Inilah batik pembelajaran siswa yang memberi ruang bagi ketelitian sekaligus eksplorasi kreatif, bukan hanya menempatkan batik sebagai lambang budaya yang jauh dari keseharian anak. Kain karya mereka dijadwalkan kembali ke sekolah sekitar sepekan setelah penyelesaian dan pemeriksaan warna. Model seperti ini layak diperluas: ketika siswa ikut membuat, apresiasi terhadap proses dan warisan budaya tumbuh bersama keterampilan.

Tatah Sungging Perlu Ruang di Dalam Kurikulum
Tantangan tatah sungging lebih mendesak: seni kriya ini membutuhkan fokus dan kesabaran, sementara perhatian siswa mudah tersedot layar. Di SMPN 23 Solo, kegiatan ekstrakurikulernya kini hanya diikuti sekitar enam siswa, dan pengajarnya menilai minat menyusut seiring pesatnya penggunaan telepon pintar serta anggapan bahwa seni tradisional sudah ketinggalan zaman. Menjadikannya bagian pelajaran Seni Budaya merupakan langkah tepat agar lebih banyak siswa berkesempatan mencoba, bukan hanya mereka yang sejak awal memilih kegiatan ekstrakurikuler. Inilah tatah sungging pendidikan yang memberi seni kriya kurikulum tempat untuk bertemu generasi baru. Siswa kelas VII Juan Carel Prayuda membuat pembatas buku dari kulit sapi dan mengatakan, “Baru belajar sekitar sebulan, ternyata asyik meskipun harus fokus dan teliti.” Karya kakak kelas berupa wayang besar pernah terjual hingga Rp1 juta, sebuah contoh bahwa keterampilan ini juga dapat membuka kemungkinan nilai ekonomi.
Pelestarian Budaya Harus Melibatkan Tangan Siswa
Memasukkan kerajinan tradisional ke sekolah bukan jaminan otomatis bahwa siswa akan meninggalkan gadget atau langsung menjadi perajin. Namun, langkah itu memberi mereka alasan untuk melihat tradisi sebagai sesuatu yang bisa dilakukan, dikembangkan, bahkan dijadikan karya pribadi. Di SMPN 23 Solo, pengajar tatah sungging berkolaborasi dengan guru Seni Budaya di kelas; setelah dua bulan, siswa mulai menunjukkan ketertarikan untuk mencoba. Di SD Muhammadiyah PK Solo, sekolah berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang mempertemukan materi kelas dengan pengalaman nyata di lapangan. Dua pendekatan ini menunjukkan bahwa kerajinan tradisional sekolah dapat mengajarkan lebih dari teknik: siswa berlatih teliti, membuat pilihan kreatif, dan memahami nilai budaya lokal. Jika warisan budaya anak muda ingin bertahan, sekolah perlu memberi ruang praktik yang berulang dan bermakna. Tradisi tidak akan terasa kuno ketika siswa ikut membentuknya.






