Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Julia Jacklin Siap Tur, Cicip Kuliner dan Musik Lokal

Julia Jacklin Siap Tur, Cicip Kuliner dan Musik Lokal
Minat|Menyanyi

Julia Jacklin dan Hasrat Mencipta Kenangan Baru Lewat Tur

Julia Jacklin adalah penyanyi Australia yang tengah merencanakan tur ke Nusantara dengan antusiasme tinggi, didorong rasa penasaran pada kuliner lokal, musik lokal Jakarta, dan keinginan membangun kembali hubungan personal dengan negeri yang pernah ia kunjungi secara canggung di masa remaja, sembari merilis album baru yang menandai babak kreatif berikutnya dalam kariernya sebagai musisi internasional.

Rencana Julia Jacklin tur Indonesia bukan sekadar satu titik tambahan di kalender tur seorang musisi internasional, melainkan proyek emosional yang ia dorong sendiri. Ia mengaku sedang aktif berdiskusi dengan agen booking agar konser di berbagai kota Nusantara benar-benar terjadi, dan nada suaranya mengandung campuran harap dan keyakinan. Bagi Jacklin, para pendengar di sini bukan angka di dashboard digital, melainkan komunitas yang sudah lama memberinya dukungan dari kejauhan. Ketika ia menyebut bahwa secara geografis ‘posisi kita cukup dekat’, terdengar jelas keinginannya menyempitkan jarak simbolis antara penyanyi Australia dan penonton yang selama ini hanya berinteraksi lewat rekaman. Ini bukan promosi kosong; ia terdengar seperti musisi yang merasa berutang penampilan langsung.

Cilok, Pedas, dan Rasa Penasaran pada Musik Lokal Jakarta

Hal paling mencolok dari cara Jacklin berbicara tentang Nusantara adalah betapa serius ia memandang makanan dan musik lokal sebagai pintu masuk memahami sebuah tempat. Ia tidak berhenti pada jawaban aman seputar “mencoba makanan” dan “menikmati budaya”; ia meminta rekomendasi kuliner terbaik, menegaskan bahwa ia menyukai makanan pedas, dan merespons cilok—jajanan tradisional khas Sunda—seolah menemukan harta karun baru. Cilok, yang baginya tampak ‘wajib dicoba’, mendadak menjadi simbol sederhana bahwa kunjungan musisi internasional bukan cuma tentang panggung besar, lampu, dan setlist, tapi juga tentang gerobak di sudut jalan yang menjadi bagian memori kolektif penonton.

Di sisi lain, rasa penasarannya terhadap musik lokal Jakarta menunjukkan sikap hormat terhadap ekosistem kreatif yang akan ia masuki. Jacklin ingin menonton pertunjukan musik lokal secara langsung, bukan sekadar mengunduh citra kota lewat statistik atau algoritma. Ketika ia menyebut bahwa masyarakat di sini punya ikatan emosional kuat dengan musik dan budaya bernyanyi bersama, ia sedang mengakui bahwa panggung yang akan ia injak sudah lama hidup sebelum namanya muncul di poster tur. Bagi para pelaku musik lokal Jakarta, kehadiran seorang penyanyi Australia yang datang bukan hanya untuk tampil, tapi juga untuk mendengar, bisa menjadi kesempatan langka: jembatan dialog dua arah, bukan monolog dari musisi internasional kunjungan singkat yang segera pergi.

Menghindari Streaming: Pilihan Kreatif yang Melawan Arus

Sikap Jacklin terhadap teknologi pemutar musik modern mungkin akan mengejutkan banyak orang yang menganggap platform streaming sebagai kewajiban zaman. Ia terang-terangan mengaku tidak menggunakan layanan streaming untuk mendengarkan musik, bahkan tidak memikirkan algoritma atau strategi playlist ketika menulis lagu. Di tengah industri yang mengukur keberhasilan lewat masuknya lagu ke playlist populer, Jacklin memilih jarak yang tegas. “Terakhir kali saya mendengarkan playlist itu waktu kecil saat ada yang membagikan CD rakitan,” ungkapnya, mengingat masa ketika kurasi musik masih dilakukan oleh teman, bukan mesin. Sikap ini bukan romantisme buta, melainkan kritik terhadap cara industri mengerutkan seluruh energi kreatif menjadi satu menu di aplikasi ponsel.

Ia menyebut pengalaman mengetahui bahwa berbulan-bulan waktu di studio berakhir sebagai entri kecil di aplikasi sebagai sesuatu yang berat secara emosional. Lebih dari itu, akses ke “seluruh musik di dunia” dalam satu genggaman membuatnya stres dan merusak fokus. Tiap kali hendak mendengar satu lagu, muncul suara batin bahwa ada jutaan pilihan lain yang belum ia coba, dan hubungan intim dengan musik pun terganggu. Dalam konteks ini, Jacklin bukan sekadar musisi yang rewel terhadap teknologi; ia sedang mengingatkan bahwa terlalu banyak pilihan bisa membunuh kedekatan. Pesannya relevan bagi penulis lagu, produser, dan pendengar: jika seluruh ekosistem tunduk pada logika playlist, musik berisiko berubah dari pengalaman emosional menjadi konsumsi cepat yang melelahkan mental.

Kembali ke iPod dan Menata Ulang Cara Mendengar

Sebagai konsekuensi dari penolakannya terhadap streaming, Jacklin mengambil langkah yang bagi banyak orang terasa retro: kembali memakai pemutar musik portabel klasik seperti iPod. Di sini ada ironi menarik—di tengah era ponsel pintar, seorang musisi internasional kunjungan ke banyak panggung memilih perangkat yang memisahkan mendengar musik dari internet. Ia menyebut keputusan ini bekerja sangat baik dan menghadirkan rasa kembali ke masa remaja. Secara praktis, iPod memaksanya memilih, menyimpan, lalu tinggal dengan katalog lagu yang terbatas. Ini menciptakan pengalaman mendengar yang lebih intentional, bukan sekadar menekan shuffle pada katalog tak terbatas.

Pilihan kembali ke iPod adalah pernyataan estetika dan etika sekaligus. Estetika, karena ia ingin hubungan lebih utuh dengan musik, bebas dari gangguan notifikasi dan rekomendasi yang tak henti. Etika, karena ia menolak gagasan bahwa lagu-lagu yang ia atau orang lain ciptakan seharusnya hidup sebagai tile kecil di layar, bersaing dalam ekonomi perhatian. Bagi pendengar yang merasa kewalahan oleh arus rilis baru, sikap Jacklin bisa menjadi ajakan diam-diam untuk menata ulang cara menikmati musik: menyusun perpustakaan kecil, merayakan keterbatasan, dan memberi waktu bagi satu album untuk menempel dalam hidup. Dalam konteks tur mendatang, menarik membayangkan seorang penyanyi Australia Indonesia ini tampil di depan penonton yang mungkin menemukan lagunya lewat playlist, sementara ia sendiri mengatur hidup musiknya tanpa satu pun aplikasi streaming.

The Gem dan Janji Pertemuan di Panggung Nusantara

Semua sikap dan rencana ini berpuncak pada satu momentum: perilisan album terbaru Jacklin bertajuk The Gem pada 25 September 2026. Album ini memuat 10 lagu, termasuk “Get Away From Me (I Think I’ll Love You Soon)” yang sudah lebih dulu dirilis pada 15 Juni. Setelah tanggal itu, rangkaian tur Amerika Utara, Inggris, dan Eropa akan dimulai pada Oktober 2026 dan berlangsung hingga Maret 2027. Di sela jadwal padat tersebut, Nusantara berpeluang menjadi salah satu pemberhentian penting. Fakta bahwa ia secara spesifik menyebut keinginan tampil di sini, alih-alih menunggu promotor menghubungi, menunjukkan bahwa rencana ini bukan tempelan, melainkan bagian dari visi tur The Gem.

Jacklin sudah menyampaikan terima kasih dan permintaan maaf karena belum pernah tampil langsung di depan para pendengarnya di sini, sekaligus janji bahwa ia sedang mengupayakan hal itu bersama timnya. Dalam era ketika banyak tur terasa seperti paket standar musisi internasional kunjungan singgah sebentar, kehadirannya menjanjikan sesuatu yang lebih personal: seorang penulis lagu yang menganggap penonton sebagai partner emosional, tertarik cilok di pinggir jalan, ingin menyimak musik lokal Jakarta dari jarak dekat, dan menjaga hubungan sehat dengan musik dengan menghindari streaming. Ketika nanti nama Julia Jacklin terpampang di poster dengan kata-kata “tur Nusantara”, sebaiknya kita tidak melihatnya hanya sebagai konser, tetapi sebagai kesempatan bagi dua cara memaknai musik—lokal dan global, analog dan digital—untuk saling menyapa di ruang yang sama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!