Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Lempung Menjadi Warisan: Perjalanan Maestro Keramik Muchlis Arif

Dari Lempung Menjadi Warisan: Perjalanan Maestro Keramik Muchlis Arif
Minat|Tembikar

Maestro yang Tumbuh dari Jalan Sunyi

Perayaan empat dekade perjalanan Muchlis Arif sebagai maestro seni keramik adalah momen ketika segenggam lempung, sebuah studio di pinggiran Kota Batu, dan ketekunan seorang seniman berpadu menjadi warisan pengetahuan yang terdokumentasi, merayakan bagaimana konsistensi berkarya dalam pameran keramik retrospektif dan penerbitan buku dapat mengubah jalan sunyi menjadi rujukan penting bagi ekosistem seni rupa.

Inti dari rangkaian acara “Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian” adalah pengakuan bahwa gelar maestro seni keramik tidak lahir dari sorotan pusat, tetapi dari kesetiaan bertahan di medium yang lama sepi peminat. Kementerian Kebudayaan menahbiskan Muchlis Arif sebagai maestro setelah empat dekade konsistensi, bukan sekadar karena jumlah Muchlis Arif karya yang dihasilkan, melainkan karena kemampuan mengubah proses kreatif menjadi pengetahuan yang terstruktur. Poin pentingnya: negara menilai penting kerja dari pinggiran dan memilih mengarsipkannya, sehingga jalan sunyi yang dulu sepi perlahan menjadi rute yang bisa diikuti generasi berikutnya.

Dari Lempung Menjadi Warisan: Perjalanan Maestro Keramik Muchlis Arif

Pameran Retrospektif: Menyusuri Evolusi Totalitas

Pameran keramik retrospektif Muchlis bukan sekadar deretan benda indah; ia adalah kronik visual tentang bagaimana gagasan, teknik, dan sikap hidup berevolusi. Di Studio Matahati Ceramic, pengunjung melihat keramik fungsional, studio edukasi, dan dokumentasi proses kreatif; di Sukahati Art Space, mereka berhadapan dengan instalasi kontemporer bertajuk Sejiwa dan lukisan era awal karier 1986–2026 yang merekam fase belajar bersama nama-nama besar seni rupa. Pameran ini tegas menunjukkan bahwa Muchlis membangun diri bukan hanya sebagai empu bentuk, tetapi juga sebagai pemikir medium yang peka terhadap ruang dan waktu.

Menariknya, helatan ini tidak terkunci dalam nostalgia personal. Parallel event pameran keramik internasional “Adarasa” melibatkan perupa dari lima negara dan mahasiswa dari berbagai kampus, menjadikan retrospektif ini titik temu lintas generasi dan lintas konteks. Ketika pembukaan dihadiri akademisi, seniman, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar, jelas bahwa pameran ini relevan bukan hanya bagi pecinta seni keramik, tetapi juga bagi siapa pun yang peduli pada bagaimana ekosistem seni dapat tumbuh tanpa bergantung pada patron besar.”

Dari Lempung Menjadi Warisan: Perjalanan Maestro Keramik Muchlis Arif

Buku Maestro: Dari Segenggam Lempung ke Arsip Pengetahuan

Peluncuran buku “Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian” adalah keputusan strategis: mengubah pengalaman individual menjadi warisan seniman keramik yang dapat dipelajari dan dikritisi. Buku setebal 193 halaman ini merangkum rekam jejak Muchlis sejak 1986, termasuk arsip, foto proses, dan refleksi konseptual tentang bagaimana lempung dapat menggenggam dunia, mempertemukannya dengan ruang seni, pendidikan, UMKM, hingga institusi seperti Coca-Cola dan Nestle. Di sini, keramik tidak berhenti sebagai objek; ia muncul sebagai medium relasi sosial dan ekonomi.

Struktur buku yang dibagi menjadi tiga bab – Romantisme, Langkah Manis, dan Relung Nalar – menunjukkan bahwa Muchlis membaca hidupnya sebagai rangkaian fase sadar. Romantisme mengisahkan “Segenggam Lempung, Seluas Dunia”; Langkah Manis merekam langkah konkret membangun ekosistem; Relung Nalar mengurai gagasan dan filosofi pengabdian yang selama ini teruji di studio dan kelas. Dalam satu pernyataan bermakna, ia menegaskan bahwa berbagi ilmu membuat rezeki bertambah, tercermin dari anak TK yang membayar Rp5.000,00 untuk bermain lempung, maupun perjalanan tol sekitar Rp600.000,00 sekali jalan yang ia tempuh hingga empat kali seminggu untuk mengajar.

Dari Lempung Menjadi Warisan: Perjalanan Maestro Keramik Muchlis Arif

Dari Pinggiran: Matahati Ceramic sebagai Ekosistem Hidup

Jika gelar maestro adalah anugerah, maka Matahati Ceramic adalah pilihannya: membangun ekosistem dari pinggiran, pelan tapi konsisten. Studio di Kompleks Wastu Asri, Junrejo, Kota Batu ini tidak diposisikan sebagai galeri eksklusif, melainkan pusat pelestarian dan edukasi seni keramik. Di sana berlangsung pameran, kelas kreatif, residensi seniman, hingga clay therapy yang mempertemukan masyarakat umum, mahasiswa, dan perupa. Muchlis menolak bergantung pada konstelasi galeri besar; ia merintis unit usaha Matahati Ceramic sebagai dasar keberlanjutan finansial dan sosial.

Konsekuensinya, jalan yang ia tempuh tidak mudah. Menekuni seni keramik selama empat dekade berarti berhadapan dengan minimnya peminat, risiko teknis tinggi, dan kerja studio berjam-jam yang tidak selalu tampak dari luar. Namun dari “jalan sunyi” itu lahir kelas edukasi, training kreativitas, dan jaringan kolaborasi yang membuat keramik relevan bagi dunia pendidikan dan komunitas. Di titik ini, Matahati Ceramic bukan sekadar tempat; ia menjadi argumen hidup bahwa seni keramik tradisional maupun kontemporer bisa tumbuh sehat di luar pusat kota, selama ada ketekunan dan desain ekosistem yang sadar.

Pengabdian sebagai Warisan: Apa Makna Gelar Maestro Hari Ini?

Gelar maestro seni keramik yang diterima Muchlis Arif bukan puncak karier, melainkan simpul sementara dalam perjalanan panjang pengabdian. Ia sendiri menegaskan bahwa predikat ini tidak membuatnya berhenti berkarya; prinsip yang ia pegang adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang, sebagaimana pesan keluarganya. Dalam tradisi Jawa, maestro disamakan dengan empu, derajat tertinggi bagi seseorang yang kepakarannya diakui luas – dan penganugerahan ini menjadi kebanggaan bagi komunitas seni di Malang Raya.

Rekam jejak, karya, dan pengetahuan Muchlis kini dipindahkan ke arsip yang dapat dipelajari generasi berikutnya, memastikan warisan seniman keramik tidak berhenti di etalase pameran. Relevansinya jelas bagi akademisi, mahasiswa, perupa, hingga masyarakat yang mencari rujukan tentang bagaimana membangun ekosistem seni dari pinggiran: mulai dari kelas kecil di studio sampai kolaborasi internasional. Kesimpulannya, perjalanan dari lempung ke buku ini adalah ajakan untuk melihat seni keramik bukan sebagai hobi eksotis, tetapi sebagai jalan hidup yang mampu menyatukan pengetahuan, pengabdian, dan kebermanfaatan sosial.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!