Dari penonton menjadi pelaku
Pemuda Balikpapan adalah generasi muda yang dapat mengambil peran dalam pertumbuhan kota dengan mengembangkan kemampuan, merintis usaha, dan ikut menyumbang gagasan bagi pembangunan. Di tengah perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN), dorongan agar anak muda menjadi pelaku ekonomi terasa tepat: posisi Balikpapan sebagai kota penyangga membuka ruang di bidang kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan olahraga. Namun, peluang tidak otomatis menjadi manfaat. Anak muda membutuhkan keterampilan dan akses agar bisa mengubah kebutuhan yang tumbuh di sekitar IKN menjadi kegiatan produktif dan penghasilan yang mandiri. Kepala Disparpora Balikpapan, Cokorda Ratih Kusuma, menyatakan pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi perlu mampu menciptakan peluang dan berkontribusi bagi pembangunan daerah. Seruan itu penting, tetapi harus diikuti langkah yang membuat kesempatan tersebut dapat dijangkau oleh pemuda dengan latar dan kemampuan berbeda.
Kesiapan harus bertemu dengan dukungan
Ratih menekankan keterampilan, kreativitas, penguasaan teknologi, dan kemampuan berwirausaha sebagai bekal untuk bersaing. Arah ini masuk akal karena peluang ekonomi IKN tidak akan dinikmati secara merata hanya dengan kedekatan geografis. Pengembangan pemuda perlu memberi ruang bagi anak muda untuk belajar, menguji gagasan, membangun jaringan, dan memahami kebutuhan pasar. Disparpora menyebut berbagai kegiatan kepemudaan sebagai ruang untuk membangun jaringan, bertukar pengalaman, dan mengembangkan gagasan. Itu langkah yang berguna, tetapi keberhasilannya semestinya dinilai dari apakah peserta memperoleh jalur lanjutan untuk mengembangkan ide dan usaha, bukan hanya dari terselenggaranya kegiatan. Informasi lebih rinci tentang bentuk dukungan dan peluang konkret masih perlu diperjelas dalam liputan lanjutan; tanpa itu, ajakan untuk mandiri berisiko menjadi beban yang diserahkan kepada pemuda semata.
Sinergi perlu diwujudkan dalam tindakan
Dalam diskusi kepemudaan memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026, Wakil Wali Kota Bagus Susetyo mengajak generasi muda meningkatkan kemampuan diri, memperkuat sinergi, dan berperan aktif dalam pembangunan. Diskusi tersebut digelar pada 31 Oktober 2026 di Aula Kelurahan Klandasan Ilir, diinisiasi Pepelingasih bersama komunitas dan organisasi kepemudaan. Bagus menilai dialog memberi ruang untuk bertukar pikiran dan memahami persoalan pembangunan. Ia juga menyebut adanya kesempatan bagi anak muda untuk mengembangkan usaha, membangun komunikasi, serta meningkatkan kapasitas melalui kegiatan positif. Pesan itu selaras dengan dorongan Disparpora, tetapi sinergi seharusnya lebih dari ajakan untuk saling mendukung. Pemerintah, komunitas, organisasi, dan dunia usaha perlu menjadikan ruang dialog sebagai pintu menuju kolaborasi yang berkelanjutan. Bagus juga berharap kegiatan Pepelingasih mendorong lahirnya aktivitas kepemudaan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Peluang harus dapat dijangkau
Bagi pemuda Balikpapan, kontribusi generasi muda tidak harus dimulai dari usaha besar. Belajar keterampilan, mengembangkan gagasan, membangun komunikasi, dan membuat kegiatan produktif dapat menjadi langkah awal untuk ikut tumbuh bersama kota. Pemerintah kota telah menyampaikan arah yang benar: anak muda perlu mandiri, terus belajar, dan bekerja bersama. Kini, yang perlu menyusul adalah penjelasan lebih terperinci tentang dukungan yang tersedia dan cara pemuda mengaksesnya. Tanpa kejelasan itu, seruan memanfaatkan perkembangan IKN belum cukup untuk memastikan kesempatan berubah menjadi partisipasi ekonomi yang nyata. Balikpapan memiliki alasan kuat untuk menempatkan pemuda sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar sasaran program. Kesimpulannya, dorongan pemerintah akan bermakna ketika kesiapan anak muda bertemu dengan peluang yang terbuka, dukungan yang jelas, dan ruang kolaborasi yang berkesinambungan.






