Presiden Uji 150 Inovasi BRIN: Dari Satelit hingga Air Laut Minum

Presiden Uji 150 Inovasi BRIN: Dari Satelit hingga Air Laut Minum
Minat|Asia Tenggara

Kunjungan Presiden ke Laboratorium Terbuka BRIN di Istana

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke pameran 150 produk inovasi BRIN di Istana adalah demonstrasi publik bahwa riset tidak boleh berhenti di meja laboratorium, melainkan harus diuji, diraba, dan dinilai langsung sebagai solusi nyata bagi kebutuhan infrastruktur, energi, dan kebutuhan dasar warga sehari-hari.

Dalam kunjungan pada Kamis, 6 Agustus, Presiden berkeliling meninjau satu per satu hasil inovasi BRIN, mulai dari satelit, pesawat tanpa awak, teknologi Giant Sea Wall, hingga riset nuklir untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Alih-alih hanya mendengarkan paparan, ia memilih menyentuh dan mencoba berbagai produk, menunjukkan bahwa inovasi BRIN Indonesia layak mendapat perhatian di level tertinggi negara. Sikap ini penting: tanpa legitimasi politik, riset sering berhenti sebagai laporan, bukan menjadi kebijakan dan produk nyata.

Giant Sea Wall, PLTN, dan Rumah Tahan Gempa: Riset untuk Infrastruktur Strategis

Portofolio inovasi BRIN yang dipresentasikan ke Presiden jelas tidak remeh: ini bukan sekadar gadget futuristik, melainkan tulang punggung infrastruktur masa depan. Prabowo meninjau teknologi Giant Sea Wall berupa tanggul dan pemecah gelombang yang dirancang untuk melindungi pesisir. Di tengah ancaman kenaikan muka air laut, teknologi Giant Sea Wall bukan lagi proyek prestise, melainkan soal keselamatan jutaan orang.

Dalam ranah energi, ia melihat riset teknologi nuklir untuk PLTN sebagai sumber listrik. Ini menandai bahwa inovasi BRIN Indonesia menyentuh sektor yang sangat sensitif dan strategis. Selain itu, ia meninjau rumah tahan gempa yang diklaim dapat dibangun dalam 14 hari dengan harga Rp190 juta, sebuah angka yang menunjukkan ambisi untuk menghadirkan hunian lebih cepat dan relatif terukur biayanya. Jika proyek seperti ini diseriusi, kita sedang berbicara tentang transformasi besar dalam penanganan bencana dan perumahan.

Genteng Biomassa BRIN dan Eksperimen Banting di Hadapan Presiden

Momen paling simbolik mungkin terjadi ketika Presiden berhadapan dengan genteng biomassa BRIN. Genteng biomassa BRIN dibuat dari serabut kelapa, sekam padi, anyaman bambu, hingga ampas atau pages tebu, bahan-bahan yang selama ini dianggap limbah. Alih-alih sekadar mendengar penjelasan, Prabowo membanting dan menginjak genteng tersebut untuk menguji kekuatannya. Itu adalah pesan politik: produk riset harus cukup kuat untuk diuji di depan publik.

Saat peneliti menyebut estimasi biaya genteng sekitar Rp11-12 juta untuk satu rumah tipe 36, diskusi langsung bergeser ke skala program. Ini menunjukkan ada bayangan kebijakan: jika genteng biomassa BRIN memenuhi standar, ia bisa menjadi bagian dari program massal untuk perumahan. Di sini, pengembangan biomassa bukan sekadar isu lingkungan, tapi strategi ekonomi: bahan lokal, harga terukur, dan ketahanan fisik yang bisa dipertanggungjawabkan di depan kepala negara.

Air Laut Jadi Minum: Teknologi BRIN untuk Kebutuhan Dasar

Di luar infrastruktur besar, inovasi yang menyentuh kebutuhan paling dasar—air minum—justru paling menggugah. Presiden meninjau mesin pengolahan air yang mampu mengubah air laut, air sungai, air tanah, bahkan air banjir menjadi air siap minum. Ia dan para menteri ikut mencicipi air tersebut, menjadikan demonstrasi ini lebih dari sekadar presentasi teknis. Inilah air laut minum BRIN dalam arti harfiah: teknologi yang bisa mengubah sumber air sulit menjadi layak konsumsi.

Jika sebuah mesin bisa mengolah air banjir menjadi air layak minum, itu menantang cara lama kita melihat bencana. Air yang selama ini identik dengan bahaya, di tangan teknologi, bisa berubah menjadi sumber daya. Di sinilah nilai strategis inovasi BRIN Indonesia: ia menyentuh persoalan paling mendasar—air bersih—dengan pendekatan teknis yang dapat diuji, dicicipi, dan segera dibayangkan penerapannya di lapangan.

Dari Keripik Ubi hingga Sepatu Lokal: Riset Bukan Hanya Soal High-Tech

Tidak semua inovasi harus berwujud satelit atau PLTN; sebagian justru hadir dalam bentuk keripik dan sepatu. Presiden sempat mencoba keripik ubi ungu dari varietas unggul tanaman yang dikembangkan BRIN, serta sepatu lokal dengan harga di bawah Rp80 ribu. Di sini, pesan yang tersirat jelas: riset pertanian dan produk konsumsi harian sama pentingnya dengan teknologi berat, karena keduanya menyentuh keseharian warga.

Sekilas, keripik dan sepatu mungkin tampak remeh dibanding PLTN atau teknologi Giant Sea Wall. Namun, inilah bagian dari ekosistem inovasi yang lengkap: dari pangan, sandang, hingga perlindungan pesisir dan energi. Ketika kepala negara mau mencicipi keripik, memakai sepatu, minum air laut minum BRIN, sampai menginjak genteng biomassa BRIN, ia mengirim sinyal bahwa inovasi harus dekat dengan kehidupan nyata, bukan hanya menjadi poster di ruang pameran.

Mengapa Demonstrasi Publik Inovasi BRIN Penting untuk Masa Depan

Kunjungan ini bukan sekadar seremoni; ia adalah uji kepercayaan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Dengan meminum air hasil olahan, menguji genteng biomassa, dan mengamati teknologi Giant Sea Wall serta PLTN dari dekat, Presiden memberi pesan bahwa inovasi BRIN Indonesia punya posisi di meja kebijakan. Riset tidak lagi berdiri sendiri; ia dikaitkan langsung dengan infrastruktur, energi, perumahan, air minum, hingga produk konsumsi sederhana.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah BRIN mampu melahirkan inovasi, melainkan apakah pemerintah berani mengadopsi dan membiayai penerapannya secara luas. Demonstrasi publik ini membuka pintu: air laut minum BRIN, genteng biomassa BRIN, teknologi Giant Sea Wall, dan riset PLTN telah diperlihatkan dan diuji di hadapan publik. Langkah logis berikutnya adalah mengubah portofolio pameran menjadi proyek nyata, sehingga 150 inovasi bukan lagi koleksi, melainkan fondasi masa depan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!