Belajar bersama melampaui batas negara
Pertukaran pelajar adalah kegiatan belajar bersama yang mempertemukan siswa dari lingkungan berbeda agar mereka dapat bertukar pengetahuan, pengalaman, dan cara pandang secara langsung. SIM-MERANTI Project 2026 berlangsung pada 26–28 Oktober di Kompleks Sekolah Bintara dan Cakra Buana, Depok, sebagai pertemuan siswa dari Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Namun, bencana kebakaran hutan dan lahan membuat Maktab Sabah Malaysia tidak dapat hadir pada edisi kali ini. Karena itu, pelaksanaan tahun ini mempertemukan siswa dari Westwood Secondary School Singapura dan Sekolah Bintara serta Cakra Buana Indonesia. Perbedaan antara rancangan tiga negara dan kehadiran dua negara patut dicatat, tetapi tidak menghapus nilai pertemuan yang terlaksana. Pertukaran pelajar tak seharusnya dinilai dari banyaknya bendera yang hadir; mutu interaksi dan kesediaan siswa belajar satu sama lain jauh lebih penting.

Kolaborasi yang punya tujuan
SIM-MERANTI bukan sekadar agenda kunjungan dan saling bertukar cendera mata. Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa diajak memakai pemikiran desain, berpikir kritis, dan mengambil keputusan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Kepala Westwood Secondary School, Brian Tan Weiming, menilai kegiatan ini mengajarkan siswa menggunakan gagasan untuk kebaikan bersama sekaligus memahami arti kontribusi kepada masyarakat. Di sinilah kolaborasi siswa menjadi bagian paling bernilai: peserta tidak hanya mendengar penjelasan tentang budaya lain, tetapi bekerja dan memecahkan persoalan bersama. Pendekatan seperti ini memberi alasan nyata untuk berdialog, menyampaikan pendapat, dan menerima sudut pandang teman. Dampaknya juga terasa pada kemampuan pribadi. Andri menyebut kegiatan tersebut melatih bahasa Inggrisnya, sementara Kenzi mengatakan program ini membuatnya lebih percaya diri berbicara dalam bahasa itu.
Tradisi panjang, pengalaman yang membekas
Program ini telah berlangsung selama 19 tahun, sejak dirintis pada 10 November 2007. Ketahanan kerja sama tersebut penting, tetapi yang membuatnya layak diteruskan adalah pengalaman belajar lintas budaya yang dirasakan langsung oleh siswa. Dalam rangkaian kegiatan tahun ini, peserta mengikuti pameran proyek serta lokakarya seni budaya Gamelan dan Degung. Renee, siswa Westwood Secondary School, mengatakan belajar budaya Jawa terasa menyenangkan dan ia memperoleh banyak hal dari pengalaman itu. Saat penutupan, siswa dan guru dari kedua sekolah juga saling bertukar cendera mata, sementara para peserta mengaku senang dapat belajar bersama. Pengakuan itu terdengar sederhana, tetapi menunjukkan keberhasilan yang tak selalu tampak dalam hasil proyek: siswa pulang dengan rasa ingin tahu, keberanian berkomunikasi, dan kenangan tentang teman yang sebelumnya belum mereka kenal.
Persahabatan perlu dijaga lewat pertemuan
Pelajaran utama SIM-MERANTI adalah bahwa hubungan lintas negara tidak tumbuh dari seremoni saja. Ia terbentuk ketika siswa mendapat waktu untuk bekerja, berbincang, dan mengenal kebiasaan satu sama lain. Ketidakhadiran Maktab Sabah tahun ini akibat karhutla menjadi pengingat bahwa rencana pertukaran pelajar bisa menghadapi kendala di luar kendali penyelenggara. Karena itu, keberlanjutan program perlu dibangun dengan keluwesan, tanpa mengurangi ruang kolaborasi bagi peserta yang hadir. Pengalaman siswa Singapura dan Indonesia menunjukkan bahwa belajar bersama dapat mengasah keterampilan sekaligus membangun kedekatan, sementara proyek yang berorientasi pada manfaat komunitas memberi tujuan yang lebih luas daripada pengalaman pribadi. Dengan rekam jejak 19 tahun, SIM-MERANTI pantas diteruskan bukan semata karena tradisinya, melainkan karena pertemuan seperti ini membuat belajar lintas budaya terasa nyata dan berarti.






