Pelatihan skincare herbal: dari kearifan lokal ke keterampilan konkret
Pelatihan skincare herbal adalah program terstruktur yang mengajarkan masyarakat cara meracik dan menggunakan bahan alami perawatan kulit secara aman, higienis, dan berbasis bukti, mulai dari mengenali tanaman obat lokal hingga mengolahnya menjadi produk praktis seperti masker, salep, dan ramuan pendamping perawatan medis, sehingga warga tidak hanya menjadi konsumen produk kecantikan, tetapi juga produsen pengetahuan dan formulasi di rumah. Di tengah banjir produk instan, inisiatif ini penting karena mengembalikan kendali perawatan kulit ke tangan masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kosmetik berisiko.
Dua contoh mencolok datang dari kampus dan fasilitas kesehatan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani mengadakan penyuluhan dan pembinaan bagi 40 ibu kader Puskesmas Pasirkaliki untuk mengolah Tanaman Obat Keluarga sebagai pendamping perawatan luka ringan kulit dan rongga mulut. Di sisi lain, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Baiturrahmah merancang program “Pemberdayaan Ibu Hamil dalam Perawatan Kulit Wajah Alami Berbasis Masker Bengkoang untuk Mengatasi Hiperpigmentasi” bagi peserta kelas ibu hamil di Puskesmas Alai Padang.
Dari luka hingga hiperpigmentasi: keterampilan praktis yang nyata terasa
Kekuatan pelatihan skincare herbal ini terletak pada fokusnya pada keterampilan yang langsung bisa dipakai, bukan teori mengawang. Program FKG Unjani dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mengenali manfaat, cara penggunaan, dan batas keamanan Tanaman Obat Keluarga sebagai pendamping perawatan luka ringan kulit dan rongga mulut. Dalam sesi praktik, para kader diajak mengolah daun reundeu, lidah buaya, kunyit, daun jambu biji, daun sirih, dan madu sebagai bahan alami perawatan kulit dan mukosa, termasuk pembuatan infusa daun sirih sebagai obat kumur alami dan penggunaan madu untuk membantu pemulihan sariawan.
Pada sisi lain spektrum, program PkM Universitas Baiturrahmah menjawab persoalan hiperpigmentasi wajah pada ibu hamil atau melasma gravidarum, yang muncul akibat perubahan hormonal selama kehamilan dan sering mengganggu kepercayaan diri. Peserta bukan hanya diberi edukasi tentang perubahan fisiologis kulit, keamanan bahan kosmetik, dan kandungan yang perlu dihindari, tetapi juga pelatihan langsung membuat dan menggunakan masker bengkoang berbentuk segar maupun serbuk yang dapat mereka praktikkan mandiri di rumah.

Demokratisasi ilmu perawatan kulit: dari ibu hamil ke kader kesehatan
Pelatihan skincare herbal ini pada dasarnya adalah program pemberdayaan masyarakat yang menggeser pusat pengetahuan dari klinik dan laboratorium ke ruang kelas PKM dan aula kelurahan. Sasaran FKG Unjani jelas: 40 ibu kader Puskesmas Pasirkaliki dibekali kemampuan mengenali manfaat tanaman obat sekaligus tanda bahaya pada luka yang harus segera dirujuk ke tenaga kesehatan, seperti luka yang makin bengkak atau bernanah, demam tinggi, perdarahan yang tak berhenti, hingga luka yang tidak kunjung membaik. Dengan posisi mereka sebagai penghubung pertama warga, pengetahuan ini memperluas jangkauan edukasi kesehatan hingga ke gang-gang sempit pemukiman.
Sementara itu, PkM Universitas Baiturrahmah menyasar ibu hamil trimester II dan III peserta kelas ibu hamil Puskesmas Alai Padang Utara. Mereka tidak sekadar diajari meracik masker bengkoang, tetapi juga didorong lebih mandiri dalam merawat kulit, meningkatkan literasi kosmetik selama kehamilan, dan menguatkan kepercayaan diri agar tidak tergoda menggunakan produk berisiko. Program ini bahkan dirancang berkelanjutan dengan memasukkan materi perawatan kulit ke dalam kurikulum rutin kelas ibu hamil, sebuah langkah konkret yang mendukung tujuan SDGs tentang kehidupan sehat dan sejahtera.

Bengkoang, rumput laut merah, dan tanaman obat: laboratorium hidup di sekitar rumah
Inti dari pelatihan skincare herbal adalah menjadikan kebun, pasar, dan dapur sebagai laboratorium hidup. Program di Padang mengangkat bengkoang sebagai bahan alami perawatan kulit untuk membantu mengatasi hiperpigmentasi, dengan proses yang sangat terstruktur: pemarutan, pengendapan, pencucian, pengeringan, hingga penyimpanan yang higienis serta uji tempel sebelum pemakaian pertama. Di banyak daerah pesisir, rumput laut merah mulai diperkenalkan dalam konteks pelatihan serupa sebagai bahan pendukung elastisitas kulit dan pelembap alami, memperluas spektrum bahan lokal yang punya nilai kosmetik.
Di Cimahi, daftar bahan alami perawatan kulit dan luka yang diperkenalkan kepada kader sangat kaya: daun reundeu, lidah buaya, kunyit, daun jambu biji, daun sirih, hingga madu. Program ini tidak berhenti pada daftar manfaat, tetapi menekankan higienitas dan batas penggunaan aman Tanaman Obat Keluarga sebagai pendamping, bukan pengganti pengobatan dokter. Kombinasi workshop masker herbal berbasis bengkoang dan formulasi sederhana untuk luka menjadikan masyarakat menguasai spektrum perawatan dari estetika hingga kesehatan dasar dengan modal bahan lokal.
Ketika tradisi bertemu validasi klinis: arah baru program pemberdayaan
Pelatihan skincare herbal yang ideal tidak berhenti pada romantisasi “bahan alami”, tetapi mengawinkannya dengan disiplin ilmiah. Narasumber FKG Unjani memaparkan materi tentang pertolongan pertama pada luka, potensi bahan alam dalam pemulihan jaringan, serta pentingnya pengolahan yang higienis dan aman, sambil menegaskan bahwa bahan alami hanya pendamping terapi medis. Di Padang, ibu hamil dibekali pengetahuan tentang keamanan bahan kosmetik dan cara membaca kandungan yang sebaiknya dihindari selama kehamilan, plus prosedur uji tempel sebelum memakai masker bengkoang untuk pertama kali.
Menurut program PkM Universitas Baiturrahmah, pelatihan ini “mendukung pemberdayaan ibu hamil agar lebih mandiri dalam merawat kesehatan kulit, meningkatkan literasi penggunaan kosmetik selama kehamilan, serta mendukung SDGs tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera”. Pesan dari dua inisiatif ini jelas: pengetahuan tradisional tentang tanaman obat baru akan berdaya guna saat diformulasikan ulang dengan standar klinis dan diajarkan lewat program pemberdayaan masyarakat yang sistematis. Jika pola ini diperluas—misalnya menambah workshop masker herbal, sabun alami, hingga salep berbasis rumput laut merah—maka warga bukan hanya konsumen tren skincare, melainkan menjadi subjek yang mengerti apa yang mereka oleskan ke kulit.






