Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ketahanan Diri Pekerja Berkaitan dengan Kinerja Lebih Baik daripada Gaji

Ketahanan Diri Pekerja Berkaitan dengan Kinerja Lebih Baik daripada Gaji
Minat|Kesehatan Mental

Resilience berkaitan dengan kinerja, bukan jaminan hasil

Ketahanan diri pekerja adalah kemampuan menghadapi tekanan, menyesuaikan diri terhadap perubahan, dan bangkit setelah mengalami kesulitan tanpa kehilangan kemampuan untuk menjalankan pekerjaan. Kemampuan ini penting di tempat kerja, tetapi bukan pengganti keterampilan, pengalaman, atau kondisi kerja yang layak. Studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce menemukan bahwa 88 persen pekerja dengan tingkat ketahanan diri tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik, hampir dua kali lipat dibanding kelompok dengan ketahanan terendah, yang angkanya 44 persen. Temuan itu memberi alasan kuat bagi perusahaan untuk memperhatikan resilience di tempat kerja. Namun, angka tersebut menggambarkan keterkaitan, bukan bukti bahwa resilience sendirian menyebabkan kinerja meningkat. Karena itu, temuan ini lebih berguna sebagai dorongan untuk melihat kondisi pekerja secara menyeluruh daripada sebagai resep sederhana untuk menaikkan produktivitas.

Hubungan yang lebih kuat daripada pendapatan perlu dibaca cermat

Riset Zurich, yang dikembangkan bersama sejumlah akademisi, menyebut hubungan antara ketahanan diri dan kinerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan. Ini temuan penting, tetapi tidak berarti gaji tidak relevan atau boleh diabaikan. Perbandingan kekuatan hubungan dalam suatu studi tidak membuktikan bahwa pendapatan tak memengaruhi pengalaman pekerja, apalagi bahwa peningkatan resilience bisa menggantikan kompensasi yang adil. Zurich juga menyatakan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh keterampilan, pengalaman, atau besaran pendapatan. Pesan yang masuk akal bukan memilih antara gaji dan ketahanan diri, melainkan menolak anggapan bahwa satu faktor saja menentukan kinerja. Perusahaan yang mengutip temuan ini untuk menekan pekerja agar lebih tahan menghadapi beban tanpa memperbaiki kondisi kerja justru berisiko memakai riset di luar maknanya.

Ketahanan pekerja dibentuk oleh banyak hal

Resilience bukan sifat pribadi yang berdiri sendiri. Studi tersebut menyebut sejumlah faktor yang saling berkaitan: kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital. Artinya, kesehatan mental pekerja dan lingkungan kerja patut menjadi bagian dari pembahasan kinerja, bukan dianggap urusan individu semata. Kemampuan menghadapi tekanan dapat membantu seseorang bekerja dalam situasi sulit, tetapi tekanan yang terus-menerus tanpa dukungan bukan tanda bahwa organisasi berhasil membangun ketahanan. Bagi pekerja, temuan ini juga mengingatkan bahwa kesulitan berkinerja tidak otomatis menunjukkan kurangnya daya tahan; akses terhadap dukungan, relasi kerja, dan keamanan finansial ikut membentuk kapasitas untuk bertahan. Mengakui banyak faktor tersebut membuat upaya memperkuat ketahanan lebih realistis dan lebih manusiawi.

Strategi bisnis perlu menjaga manusia, bukan hanya angka

Temuan itu dibahas saat Zurich mempertemukan pakar penelitian, layanan kesehatan, dan teknologi kesehatan untuk membicarakan masa depan kesehatan serta ketahanan tenaga kerja, dalam rangka perayaan 35 tahun kehadiran perusahaan tersebut. Perhatian terhadap isu ini muncul ketika perusahaan menghadapi risiko bisnis yang makin kompleks sekaligus tantangan menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas pekerja. Edhi Tjahja Negara, Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, menilai pembangunan ketahanan tenaga kerja perlu menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang, bukan semata inisiatif sumber daya manusia. Arah itu patut didukung bila diterjemahkan menjadi perhatian nyata pada kesehatan, dukungan sosial, keamanan finansial, dan adaptasi teknologi. Kesimpulannya, resilience berkaitan erat dengan kinerja pekerja, tetapi organisasi tak boleh menjadikannya alasan untuk memindahkan seluruh tanggung jawab produktivitas kepada individu.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!