Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

‘Kasih Aba-Aba 2.0’: Resep Lagu Viral TikTok ala Shopee 9.9

‘Kasih Aba-Aba 2.0’: Resep Lagu Viral TikTok ala Shopee 9.9
Minat|Aplikasi Ponsel

Lagu viral TikTok yang sengaja dirancang untuk jadi mesin kampanye

Lagu ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ adalah jingle kampanye Shopee 9.9 Super Shopping Day yang dibawakan Naykilla dan Tenxi, memadukan beat HipDut yang catchy, lirik mudah diingat, dan karakter artis yang playful sehingga potongan lagunya sangat cocok dipakai ribuan konten pendek di TikTok, Instagram, dan YouTube menjelang momentum belanja 9.9. Fenomena ini bukan sekadar lagu viral TikTok spontan, melainkan contoh marketing viral musik yang disusun rapi tetapi menyebar secara organik lewat user-generated content. Sejak muncul di iklan, ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ langsung mencuri perhatian berkat lirik yang gampang diingat dan beat yang bikin susah diam. Video iklan kampanye Shopee 9.9 yang menampilkan Naykilla Tenxi telah meraih lebih dari 18 juta views di TikTok, 13 juta di Instagram, dan lebih dari 10 juta di YouTube. Angka ini menegaskan: ketika brand berkolaborasi dengan artis lokal dan mengemasnya dalam format musik yang ramah FYP, jingle bukan lagi pelengkap iklan, tapi inti strategi komunikasi.

Dari jingle iklan ke ribuan konten: kekuatan user-generated content

Keberhasilan ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ sebagai lagu viral TikTok bertumpu pada satu hal: keberanian memberi panggung seluas-luasnya pada kreativitas pengguna. Di TikTok, sound ini dipakai dalam ribuan video dengan konsep beragam, dari joget, karaoke, transisi outfit, sampai konten keseharian. Konten berbasis musik dan kreasi pengguna tersebut menjadi bagian dari aktivitas digital menjelang puncak kampanye Shopee 9.9, sekaligus memperluas penyebaran pesan promosi melalui partisipasi pengguna. Di sini terlihat jelas bahwa kekuatan user-generated content bukan jargon. Ketika brand tidak memaksa format tunggal, netizen membawa sound yang sama dengan gaya, personality, dan kreativitas berbeda. Hasilnya, ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ terus muncul di For You Page, bukan karena dibanjiri iklan berbayar, tapi karena algoritma menganggapnya relevan bagi komunitas yang aktif memainkan dan memodifikasi lagu itu.

Kolaborasi Naykilla-Tenxi x Shopee: studi kasus marketing viral musik

Kolaborasi antara artis lokal Naykilla dan Tenxi dengan brand e-commerce ini layak dibaca sebagai studi kasus marketing viral musik, bukan sekadar kampanye musiman. Karakter keduanya yang playful membuat lagu mudah diterjemahkan ke berbagai format: dance cover, sing cover, hingga konten komedi. Sejak diluncurkan akhir Agustus, video ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ bahkan telah mencatat lebih dari 21 juta tayangan di TikTok, lebih dari 15 juta di Instagram, dan 11 juta di YouTube. Tren ini tidak hanya dihidupkan pengguna biasa. Sejumlah kreator dan figur publik seperti Inka Andestha, Wasa, Niken Salindry, Ansya Haju, Guraisu, hingga Arbil DA ikut meramaikan dengan gaya masing-masing. Ketika nama-nama tersebut mengadopsi sound, mereka memberi validasi sosial yang mempercepat penyebaran tren, tanpa terasa seperti endorse kaku. Inilah titik temu ideal antara kolaborasi komersial dan kultur kreator: musik menjadi medium, bukan sekadar materi jualan.

Momentum 9.9: dari awareness ke transaksi

Penting dicatat, semua hiruk-pikuk ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ terjadi menjelang puncak Shopee 9.9 Super Shopping Day pada 9 September. Artinya, kampanye ini jelas dirancang untuk mengantar awareness ke arah perilaku belanja. Pada puncak momentum tersebut, berbagai program promosi disiapkan sepanjang hari, mulai dari Super Deals Rp1.000, 9 juta produk dengan potongan harga hingga 90 persen, Voucher Mania hingga Rp999 ribu, dan diskon 20 persen hingga Rp1,5 juta. Kehadiran ribuan konten yang menggunakan lagu ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ membuat informasi soal 9.9 tersisip alami di timeline. Banyak komentar di konten kreator bahkan mengaitkan langsung gerakan dan lirik lagu dengan momen belanja 9.9. Ini menunjukkan bagaimana musik yang melekat di kepala, dipadukan dengan insentif harga yang agresif, mampu menarik pengguna dari sekadar ikut tren ke ikut bertransaksi.

Pelajaran untuk brand lain: biarkan pengguna memegang kendali

Fenomena ‘Kasih Aba-Aba 2.0’ menawarkan pelajaran tajam untuk brand lain yang ingin masuk ke ranah lagu viral TikTok. Pertama, musik harus dirancang dengan logika sosial media: beat yang enak untuk transisi, lirik yang mudah diparodikan, dan durasi yang pas untuk konten pendek. Kedua, kampanye jangan berhenti di unggahan resmi. Popularitas jingle ini lahir dari keterlibatan pengguna yang menciptakan dance cover, sing cover, dan kreasi bebas dengan gaya masing-masing. Menurut siaran pers kampanye, konten berbasis musik dan kreasi pengguna di media sosial menjadi bagian penting penyebaran 9.9 melalui partisipasi pengguna. Kesimpulannya tegas: di era TikTok, marketing viral musik tidak bisa dikendalikan sepenuhnya dari ruang meeting. Brand yang menang adalah yang berani melepas kontrol, memberi ruang bermain, dan siap menerima bahwa bentuk terbaik dari kampanye mereka mungkin lahir dari netizen, bukan dari storyboard awal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!