Sandeq: Teknologi Hijau Berabad-abad yang Diabaikan
Perahu tradisional Sandeq adalah perahu layar ramping masyarakat Mandar yang digerakkan sepenuhnya oleh angin tanpa bahan bakar fosil, lahir dari pengetahuan turun-temurun membaca angin, ombak, musim dan arah laut, serta digunakan leluhur sebagai alat tangkap ikan, berdagang, dan mengarungi perairan jauh selama berabad-abad, sehingga menjadikannya simbol teknologi maritim lokal yang ramah lingkungan sekaligus identitas budaya pesisir.
Keunggulan perahu tradisional Sandeq sering dipuji: tercepat di kawasan Austronesia, gesit membelah Selat Makassar, mampu menjelajah hingga Selat Malaka, Laut Sulu, Papua, dan Jawa. Namun di negeri sendiri, ia melaju dalam kesunyian. Di luar beberapa lomba dan festival, Sandeq seperti ditinggalkan oleh narasi besar pembangunan. Sementara kita sibuk berbicara tentang transisi energi dan transportasi rendah emisi, contoh paling konkret teknologi maritim hijau sudah lama dipraktikkan oleh nelayan tradisional, tetapi berada di pinggir wacana kebijakan. Ini bukan sekadar soal romantisme masa lalu, melainkan tentang keberanian mengakui bahwa pengetahuan lokal punya jawaban praktis atas krisis ekologis hari ini.
Keahlian Passandeq dan Ancaman Hilangnya Generasi Penerus
Sandeq bukan benda mati yang dipajang di museum; ia adalah pengetahuan hidup, tersimpan dalam tubuh dan intuisi para passandeq, para pelaut yang menguasai teknik membaca arah angin, mengatur layar, dan menaklukkan ombak dengan lambung kayu tipis. Setiap bagian perahu punya makna simbolik, menyatu dengan nilai budaya Mandar. Di sisi lain pulau, di tepian Sungai Cimanuk, keahlian serupa juga bertahan: teknik menarik perahu tradisional dengan tali tambang dan kayu penopang, dipelajari turun-temurun sejak 2006 oleh komunitas penarik perahu yang menjadi urat nadi logistik desa-desa sungai selama dua dekade.
Namun kedua komunitas ini menghadapi ancaman yang sama: usia pelaku yang menua dan kurangnya regenerasi di kalangan anak muda. Warisan maritim pelestarian yang mereka bawa bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi cara memaknai sungai dan laut sebagai ruang hidup. Ketika generasi penerus enggan melanjutkan karena imbalan ekonomi yang tidak menentu dan status sosial yang rendah, kita sebenarnya membiarkan satu bahasa pengetahuan hilang perlahan. Pepatah warga Cimanuk, “Tak bisa bicara, tak berarti tak berdaya”, terasa getir: mereka kuat menopang ekonomi lokal, tetapi hampir tak memiliki suara ketika masa depan profesinya diputuskan di luar mereka.
Ekonomi Komunitas Nelayan: Dari Lomba Pasar hingga Urat Nadi Logistik
Ekonomi komunitas nelayan tradisional selalu kreatif memanfaatkan perahu sebagai alat produksi dan distribusi. Jauh sebelum ada istilah ekonomi kreatif, Sandeq sudah diperlombakan dalam bentuk “lomba pasar” pada abad ke-20: para passandeq saling beradu cepat membawa dagangan dari satu pesisir ke pasar pesisir lain, menjadikan kecepatan layar sebagai keunggulan dagang. Di Sungai Cimanuk, perahu tradisional yang ditarik manual menggantikan peran truk dan jembatan di wilayah yang belum dijangkau infrastruktur darat: selama 20 tahun, jasa mereka menghubungkan petani dan pedagang dengan pasar, menjadi urat nadi logistik masyarakat bantaran sungai.
Realitas ini menampar gagasan bahwa modernisasi otomatis membawa kesejahteraan merata. Kemajuan jalan raya dan mesin besar sering hadir tanpa memikirkan bagaimana ekonomi komunitas nelayan dan pekerja air akan beradaptasi. Mereka tidak banyak menuntut, tetapi kehadiran mereka memberi dampak nyata bagi roda ekonomi lokal. Ketika kebijakan hanya menghitung produktivitas industri besar dan mengabaikan nilai distribusi kecil berbasis perahu tradisional, kita menggerus ekosistem ekonomi yang lentur, hemat energi, sekaligus lebih selaras dengan kondisi geografis. Nelayan tradisional sebenarnya sedang menunjukkan model transportasi dan perdagangan skala kecil yang lebih rendah jejak karbon, tetapi belum dianggap sebagai bagian penting strategi pembangunan.
Pengakuan di Atas Kertas vs Keberpihakan Nyata
Secara formal, Sandeq sudah diangkat ke panggung nasional. Ia ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui SK Nomor 270/P/2014, dan Sandeq Silumba masuk Top 125 Karisma Event Nusantara pada 2026. Di atas kertas, ini tampak sebagai kemenangan warisan maritim pelestarian. Namun kenyataannya, pengakuan belum berbanding lurus dengan keberpihakan. Tahun 2026, lomba maraton lintas kabupaten dari Polewali Mandar menuju Mamuju ditiadakan karena keterbatasan anggaran. Ini lebih dari sekadar acara yang dipangkas; ini sinyal bahwa prioritas fiskal negara tidak menganggap event bahari tradisional sebagai kebutuhan strategis.
Ketika sebuah event sudah masuk daftar nasional, mestinya bukan hanya logonya yang nasional; promosi, jejaring, pendampingan, dan alokasi anggarannya juga harus ikut nasional. Tanpa itu, label hanya menjadi stempel. Pengalaman komunitas penarik perahu di Indramayu menunjukkan pola serupa: harapan mereka adalah perhatian pemerintah daerah dalam bentuk fasilitas keselamatan kerja dan dukungan ekonomi agar dapat berkarya dengan lebih layak di sisa usia pengabdian. Inilah titik lemah kebijakan: suka bicara besar tentang negara maritim, tetapi pelaku tradisi bahari nyata dibiarkan mencari cara sendiri bertahan. Tanpa keberpihakan nyata, warisan maritim akan menyempit menjadi atraksi sesekali, bukan fondasi ekologi ekonomi pesisir.
Menata Pasar dan Kebijakan untuk Masa Depan Maritim
Pelestarian perahu tradisional Sandeq dan profesi penarik perahu sungai tidak bisa diserahkan pada romantisme komunitas semata. Ini perkara pasar dan kebijakan. Sandeq menyatukan teknologi lokal, budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan sejarah maritim sekaligus; potensi itu menunggu dikemas menjadi paket wisata bahari, dokumentasi internasional, siaran langsung, dan film dokumenter yang memberi nilai tambah bagi ekonomi komunitas nelayan. Di Cimanuk, jasa penarik perahu adalah kearifan lokal yang relevan dengan pembangunan berkelanjutan, pengingat bahwa teknologi besar tidak selalu mampu menggantikan interaksi manusia langsung dengan alam.
Dukungan kebijakan yang sehat bukan berarti menghamburkan dana, melainkan menata prioritas. Pemerintah pusat dan daerah perlu melihat perahu tradisional sebagai infrastruktur sosial-ekologis: memberi jaminan keselamatan kerja, insentif bagi generasi muda untuk belajar menjadi passandeq atau penarik perahu, serta membuka skema pasar yang menghargai jasa transportasi rendah emisi dan produk maritim berbasis tradisi. Tanpa itu, kita akan terus kehilangan satu demi satu simpul pengetahuan bahari, hingga suatu hari laut dan sungai hanya menjadi latar belakang foto, bukan lagi ruang hidup. Masa depan maritim akan ditentukan oleh keberanian hari ini: apakah kita mau mengakui bahwa warisan lokal adalah bagian dari strategi bertahan menghadapi perubahan iklim dan ekonomi, bukan sekadar kenangan yang difestivalkan setahun sekali.






