Kebiasaan sehat dimulai dari pilihan sehari-hari
Pendidikan pangan sehat adalah upaya membekali orang agar mampu memilih makanan dan minuman yang bergizi, aman, serta sesuai kebutuhan tubuh, sekaligus memastikan lingkungan tempat pangan dijual mendukung pilihan tersebut. Karena itu, membangun kebiasaan makan sehat tidak cukup dengan meminta anak lebih selektif; orang dewasa yang menyiapkan dan menjual makanan juga perlu memahami keamanan pangan.
Pendekatan dua sisi ini tampak dalam kegiatan UGM yang menyasar siswa sekolah dasar dan pengelola kantin. Fakultas Farmasi UGM melalui Program Studi Sarjana Farmasi mengadakan penyuluhan jajanan sehat dan pengenalan profesi apoteker bagi siswa kelas IV SDN Candirejo, Ngaglik, Sleman, pada Senin, 26 Oktober 2026. Sehari kemudian, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia FK-KMK UGM menggelar pelatihan keamanan pangan bagi pengelola kantin di lingkungan kampus. Kedua kegiatan itu menunjukkan bahwa pilihan sehat lebih mungkin menjadi kebiasaan saat pengetahuan konsumen bertemu praktik penjual yang bertanggung jawab.
Membantu anak mengenali jajanan yang lebih baik
Edukasi tentang jajanan sehat anak penting diberikan sejak dini, bukan untuk menakut-nakuti siswa, melainkan agar mereka punya bekal sederhana saat memilih makanan dan minuman. Ketua tim pengabdian, Dr. apt. Purwanto, M.Sc., menjelaskan bahwa jajanan yang disukai anak dapat mengandung pewarna yang tidak jelas, bahan pengawet, atau gula berlebih; paparan berlebihan terhadap pilihan semacam itu berisiko bagi kesehatan. Pernyataan ini memperlihatkan mengapa pengetahuan dasar lebih berguna daripada larangan tanpa penjelasan.
Tim menggunakan materi visual, bahasa informal, permainan edukatif, serta tes sebelum dan sesudah kegiatan agar pembelajaran sesuai dengan usia siswa. Apoteker juga diperkenalkan sebagai tenaga yang dapat dimintai informasi tentang obat. Pihak sekolah berharap bekal tersebut membantu anak lebih bijak memilih jajanan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Namun, tanggung jawab tidak semestinya dibebankan kepada anak saja: pilihan yang lebih sehat harus tersedia dan mudah dikenali di sekitar mereka.
Kantin sehat harus aman dari dapur hingga penyajian
Pelatihan bagi pengelola kantin melengkapi edukasi kepada siswa dengan perhatian pada proses pengolahan. Kegiatan di Joglo Alumni FK-KMK UGM pada Selasa, 27 Oktober, bertujuan mendukung ketersediaan makanan yang aman dan berkualitas bagi sivitas akademika. Ketua Tim Health Promoting University UGM 2026, Prof. dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, M.P.H., Ph.D., menegaskan bahwa makanan perlu bergizi sekaligus aman dikonsumsi. Dengan demikian, kantin sehat bukan sekadar tempat yang menjual makanan bergizi, tetapi juga tempat yang menjaga mutu pangan sepanjang penanganannya.
Materi pelatihan mengingatkan bahwa makanan yang terlihat bersih belum tentu bebas bahaya. Kontaminasi dapat bersifat biologis, seperti bakteri Escherichia coli dan Salmonella; kimiawi, misalnya residu bahan pembersih; atau fisik, seperti rambut dan benda asing. Pengelola perlu memperhatikan keamanan sejak menerima bahan baku hingga makanan disajikan, mencegah kontaminasi silang dengan memisahkan alat untuk bahan mentah dan makanan siap santap, serta menjaga kebersihan peralatan. Pangan aman bergantung pada kebiasaan kerja yang konsisten, bukan pada tampilan makanan semata.
Pengetahuan perlu didukung praktik yang konsisten
Kebersihan pekerja juga menjadi bagian penting dari pengolahan pangan. Pengelola kantin dianjurkan menjaga kebersihan tubuh dan pakaian kerja, mengenakan penutup kepala, serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir pada waktu yang tepat. Menghindari menyentuh wajah atau rambut, berbicara tepat di atas makanan, dan menangani pangan saat mengalami gejala penyakit tertentu juga membantu mengurangi risiko kontaminasi. Pelatihan membahas praktik tersebut dan mengajak peserta mengisi lembar pertanyaan tentang keamanan pangan serta pengolahan limbah.
Dua kegiatan UGM ini menawarkan pelajaran yang lebih luas: edukasi konsumen dan lingkungan pangan harus berjalan bersama. Anak yang paham pilihan sehat tetap bergantung pada makanan yang tersedia, sementara kantin yang menerapkan prosedur baik membutuhkan pelanggan yang menghargai keamanan dan kualitas. Pelatihan diharapkan memberi penjamah makanan pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan pengolahan yang aman; edukasi di sekolah diharapkan membantu siswa memilih jajanan dengan lebih bijak. Menghubungkan kedua upaya itu adalah langkah praktis untuk menjadikan pilihan sehat bagian dari keseharian.






