Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Cetak Tua ke Guru Besar: Riset Fotografi Mengubah Peta Akademik Seni

Dari Cetak Tua ke Guru Besar: Riset Fotografi Mengubah Peta Akademik Seni
Minat|Gaya Fotografi

Fotografi cetak tua sebagai jalur pengetahuan, bukan sekadar romantisme analog

Fotografi cetak tua adalah praktik fotografi yang menghidupkan kembali proses cetak historis abad ke-19, seperti cyanotype, Van Dyke brown, albumen, salt print, printing-out paper, dan gum bichromate, lalu mengembangkannya melalui riset teknis, penciptaan artistik, dan pengajaran sehingga melahirkan pengetahuan baru yang relevan dengan persoalan sosial dan kemanusiaan masa kini. Pengukuhan Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn. sebagai guru besar seni dalam kepakaran Ilmu Fotografi menegaskan bahwa jalur semacam ini bukan nostalgia romantik, melainkan basis keilmuan yang sahih. Dalam Sidang Senat Terbuka pada 5 Oktober, ia menyampaikan pidato "Praktik Sintesis Fotografi: Cyanogram sebagai Dialek dan Modus Retoris untuk Kritik Kemanusiaan"—judul yang dengan tegas menempatkan fotografi cetak tua sebagai bahasa kritik, bukan sekadar efek visual.

Dari cyanogram ke guru besar seni: ketika karya dihitung sebagai ilmu

Pengukuhan Irwandi sebagai guru besar seni melalui jalur pengkaryaan adalah titik balik penting dalam riset fotografi akademik. Ia menjadi dosen pertama di kampusnya yang meraih jabatan ini dengan bertumpu pada rekam jejak kekaryaan yang konsisten, bukan hanya publikasi jurnal. Kementerian mulai membuka ruang rekognisi karya sekitar 1–2 tahun terakhir, menyetarakan karya seni dengan jurnal ilmiah internasional bereputasi dalam penilaian profesor—langkah yang mengubah logika tradisional akademik. Inti argumen Irwandi jelas: karya tidak boleh berdiri sendiri, ia harus menjadi akumulasi pemikiran, perjalanan estetis, dan proporsi riset yang terukur. Di sinilah cyanogram—sintesis cyanotype dan photogram—berfungsi sebagai bukti bahwa praktik artistik bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis sekaligus menyampaikan kritik kemanusiaan yang tajam.

Dari Cetak Tua ke Guru Besar: Riset Fotografi Mengubah Peta Akademik Seni

ISI Yogyakarta dan model pendidikan seni berbasis riset fotografi

Pengukuhan ini tidak hanya menaikkan satu orang ke jenjang profesor; ia memperkuat posisi pendidikan seni ISI Yogyakarta sebagai pusat keunggulan fotografi yang mengintegrasikan penciptaan, penelitian, pendidikan, dan inovasi. Fotografi cetak tua di kampus ini berkembang dari eksperimen teknis menjadi mata kuliah wajib di Jurusan Fotografi FSMR, lengkap dengan keluaran buku "Old Print: Karya Fotografi Menuju Ekonomi Kreatif" yang menandai pertautan langsung antara pengetahuan dan ekosistem kreatif. Modelnya tegas: penguasaan teknik bukan titik akhir, melainkan pintu menuju kemampuan bereksperimen, membaca zaman, dan membangun karya yang relevan sosial. Kehadiran kelompok mahasiswa KOPPI, menjamurnya lokakarya, hingga semakin banyak fotografer yang mengadopsi proses lama menunjukkan bahwa riset fotografi akademik di sini berimbas nyata pada lapangan, bukan selesai di ruang sidang atau lembar portofolio.

Dampak bagi ekosistem fotografi dan peluang bagi dosen seni lainnya

Dampak paling konkret dari perjalanan Irwandi adalah terbukanya jalur guru besar seni berbasis karya bagi dosen lain yang memiliki rekam jejak serupa. Ia sendiri menegaskan bahwa banyak pengajar seni yang layak menempuh jalur ini jika rekognisi karya disiapkan dengan serius. Riset fotografi cetak tua yang ia kembangkan sejak awal 2000-an telah melahirkan kurikulum, buku, komunitas, dan praktik artistik yang menyentuh isu kemanusiaan—dari Selfitasi hingga Bleeding Mind: Cost of Automation yang mengkritik dampak kecerdasan artifisial. Di level ekosistem, ini mengubah posisi fotografer: bukan sekadar operator kamera, melainkan peneliti yang membangun bahasa visual dan argumentasi melalui proses historis yang disintesis kembali. Pendidikan seni yang menggabungkan praktik artistik dengan riset berbasis bukti menjadikan kampus seni bukan hanya pabrik karya, tetapi laboratorium pengetahuan dengan dampak sosial.

Internasionalisasi fotografi cetak tua dan arah baru akademik seni

Riset fotografi akademik yang berangkat dari fotografi cetak tua telah menembus jaringan internasional: kolaborasi preservasi fotografi dengan University for Continuing Education Krems yang didukung ASEA-UNINET dan agenda konferensi di Musée du Quai Branly–Jacques Chirac serta lokakarya cyanotype di Universidad de la República mengukuhkan bahwa pengetahuan yang lahir dari praktik artistik setara dengan disiplin lain di panggung global. Di sini, internasionalisasi bukan soal mobilitas saja, melainkan kontribusi pengetahuan khas bidang seni. Rekognisi karya dalam jenjang akademik tertinggi, penguatan riset berbasis praktik, kurikulum yang menempatkan fotografi cetak tua sebagai ruang eksperimentasi, serta jejaring riset preservasi menunjukkan arah baru: institusi seni yang berani mengakui karya sebagai bukti ilmiah penuh. Kesimpulannya lugas: masa depan akademik seni akan ditentukan oleh seberapa jauh kampus bersedia memeluk praktik sebagai sumber teori, bukan sekadar objek ajar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!