Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

MTQ Ke-53 Lampung Dibuka, 15 Kafilah Berebut Piala Bergilir

MTQ Ke-53 Lampung Dibuka, 15 Kafilah Berebut Piala Bergilir
Minat|Pertukangan Kayu

Pembukaan yang menempatkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup

MTQ ke-53 Lampung adalah musabaqah tingkat provinsi yang mempertemukan peserta dari berbagai kabupaten dan kota untuk menguji kemampuan membaca, menghafal, serta memahami Al-Qur’an. Ajang ini resmi dibuka Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di GOR Way Handak, Kalianda, Lampung Selatan, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Pembukaan MTQ Lampung membawa pesan yang lebih luas daripada kompetisi: nilai Al-Qur’an mesti hadir dalam pembentukan karakter generasi muda. Mirza menekankan bahwa kemajuan ekonomi, pertanian, teknologi, dan pendidikan perlu berjalan bersama penguatan agama. Menurutnya, generasi yang dibutuhkan untuk masa depan bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak, cinta damai, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab. Penekanan ini tepat: prestasi tilawah akan lebih bermakna jika berlanjut menjadi perilaku dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

Gubernur juga mendorong kecintaan kepada Al-Qur’an ditanamkan sejak dini melalui keluarga, lembaga pendidikan keagamaan, TPQ atau TPA, dan pondok pesantren. Pemprov Lampung bersama BAZNAS menjalankan program Satu Desa Satu Hafiz Al-Qur’an dengan target 2.500 anak setiap tahun mengikuti pendidikan tahfiz di pondok pesantren. Arah kebijakan ini memperluas makna MTQ: panggung lomba dapat menjadi pemantik, tetapi pembinaan berkelanjutanlah yang membentuk generasi Qurani. Kepada peserta, Mirza berpesan agar menampilkan kemampuan terbaik, menjunjung kejujuran dan sportivitas, menghormati dewan hakim, serta menjadikan perlombaan sebagai kesempatan belajar dan memperdalam pemahaman.

MTQ Ke-53 Lampung Dibuka, 15 Kafilah Berebut Piala Bergilir

Ratusan peserta, satu panggung persaingan

MTQ ke-53 diikuti 493 peserta, terdiri atas 256 putra dan 237 putri, dari 14 kabupaten dan kota. Perlombaan berlangsung pada 25–30 Oktober 2026: penyisihan dijadwalkan pada 26–28 Oktober, final pada 29 Oktober, sedangkan pleno dewan hakim, pengumuman juara, dan penutupan dijadwalkan pada 30 Oktober. Rangkaian ini memberi ruang bagi persaingan yang terukur, tetapi hasil akhir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Peserta datang membawa nama daerah sekaligus menunjukkan hasil pembinaan di wilayah masing-masing. Karena itu, pesan tentang kejujuran dan penghormatan terhadap dewan hakim penting agar semangat mengejar kemenangan tidak mengalahkan tujuan belajar dan syiar.

Jumlah peserta memperlihatkan cakupan ajang yang luas, sementara perbedaan cabang dan kemampuan membuat perebutan gelar juara umum menarik untuk diikuti. Namun, nilai MTQ tidak semestinya diringkas menjadi daftar pemenang. Kualitas bacaan, hafalan, pemahaman, dan sikap peserta sama-sama mencerminkan pembinaan yang sedang tumbuh. Lampung Selatan sebagai tuan rumah berharap kegiatan ini memperkuat identitas daerah yang maju sekaligus religius. Harapan itu layak diuji setelah panggung ditutup: apakah kecintaan terhadap Al-Qur’an terus hidup dalam keluarga, pesantren, dan lingkungan masyarakat.

MTQ Ke-53 Lampung Dibuka, 15 Kafilah Berebut Piala Bergilir

Piala bergilir menyalakan persaingan antarkafilah

Piala bergilir MTQ kembali diperebutkan setelah sebelumnya menjadi kebanggaan Kabupaten Tanggamus. Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto menyerahkan piala juara umum kepada Ketua LPTQ Provinsi Lampung, Firsada, yang juga menjabat Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat. Piala itu kemudian diserahkan secara simbolis kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal. Peralihan tersebut menandai bahwa persaingan antarkafilah dimulai kembali, sekaligus mengingatkan bahwa juara bertahan tidak membawa pulang gelar secara otomatis. Bagi daerah yang pernah memilikinya, piala menjadi kebanggaan; bagi kafilah lain, ia adalah sasaran yang menuntut persiapan dan penampilan terbaik.

Nilai simbolis piala ini lebih kuat daripada fungsi dekoratifnya. Ia mewakili perjuangan, dedikasi, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an yang diwariskan antargenerasi. Karena itu, perebutan gelar juara umum sebaiknya berlangsung dalam suasana kompetitif sekaligus bersaudara: kemenangan patut dirayakan, sedangkan hasil yang belum sesuai harapan menjadi alasan untuk terus berlatih. Tanggamus telah menyerahkan kembali simbol kebanggaan itu, tetapi semangat untuk merebutnya tetap hidup. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan MTQ bukan hanya daerah yang membawa piala pulang, melainkan juga sejauh mana nilai Al-Qur’an melekat pada peserta dan masyarakat setelah perlombaan usai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!